Archive for the ‘Puisi’ Category

Elegi Sang Pemburu Malam

Posted: Maret 29, 2011 in Puisi

Selaksa makna mempesiang goresan pena si pemilik semesta

Aku terpaku

Sendu…

Menatap sesosok raga yang tak bergerak

Seseorang yang begitu membekas di hari-hariku

Tak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya tersadar

Kesunyian dan kehampaan mulai menyelimuti relung jiwa

Dia begitu berkesan

Dia begitu bermakna

Tangisku pecah ketika kurasakan kedinginan mulai merajai

Aku berontak

Tapi kurasa tubuhku semakin ringan

Aku terjatuh

Ketika ku tersadar semua hening… senyap

Tak ada lagi senyuman keteduhan itu

MenggapaiMU

Posted: Maret 4, 2011 in Puisi

Begitu gelap jalan yang terbentang

Tak berujung

Aku terseok-seok

Ketika sebuah titik cahaya terliha

Aku berusaha menggapai…mengejar…dan meraih-Nya

Jalan menuju-Mu terbentang luas

(Maha Suci Engkau ya Allah)

Ketika geliat malam meredup

Aku terpaku dan menyesalinya

Betapa banyak waktu terbuang

Tiada sempat aku bersimpuh di haribaan-Mu

Tiada setetespun airmata yang jatuh

Dalam hening malam ini

Berdebar jantungku ingin segera menemui-Mu

Betapa aku merindukan-Mu sepanjang siang ini

Akankah Engkau menemuiku ya Rabb

Airmata menetes dalam malam-Mu ya Rabb

Walau penat jiwa raga

Tiada yang dapat mengganti malam-Mu

Hamba bersimpuh diharibaan-Mu

Merendahkan seluruh jiwa dan raga

Bersujud dan menyentuh-Mu dengan dosa-dosa

Kesalaha-kesalaha, Astaghfirullah

Adakah Engkau terima ya Allah

Kurendahkan diriku dihadapan-Mu ya Rabb

Dalam malam yang kelam

Dalam sujud yang panjang

Mencari-Mu diantara cucuran airmata

Menggapai-Mu diantara dosa=dosa tuk

Meraih ampunan-Mu

Sudut kamar gelap ini

Menjadi saksi tempat aku menemui-Mu

Tempat aku mencurahkan perasaan

Merindukan-Mu mengharapkan kasih sayang-Mu

Untaian airmata berjatuhan

Bibir bergetar memanggil nama-Mu

Tiada suara yang ke luar

Hanya detak jantung berpacu dengan waktu

Adakah kesempatan untukku ya Allah

Menemui-Mu dalam kedamaian?

Berilah aku tempat di sisi-Mu ya Rabbi

RUANG GELAP DAN BENAK MENGHITAM

Posted: Desember 28, 2010 in Puisi

Ku tersesat diruang hampa
tanpa tau arah akan kemana
kuikuti hembusan napasq
tapi kenapa menyesatkan?

kutelusuri ruangan itu
tanpa tau apa tujuanq
Kenapa hari ini begitu sepi??
dan kota ini tersa mati

kubutuh seorang teman
tapi saat kucari mereka pergi
ada apa dengan semua ini???
kubenci dunia ini
FUCK!!

Kuberikan Langit

Posted: Desember 25, 2010 in Puisi

Jari-jariku saling beradu. Sisi-sisinya bergelisik satu sama lain.

Mereka saling menghangatkan, mengirim pesan berantai ke otak bahwa ia sedang berpikir keras.

Baik malam maupun siang langit selalu menjadi papan cermin dan papan tulis bagiku.

Luas, membahana bagaikan rona kehidupan yang kadang berwarna dan kadang hitam legam.

Aku tak tahu apa-apa tentang pikiranmu saat ini, melaju begitu saja bagaikan nyamuk yang tak mau diusik lebah.

Terlalu angkuh raga ini jika memintamu untuk sedikit mengingat masa lalu.

Kusimpan rapat-rapat lembar-lembar tulisan indahmu, tapi rapat pula kulipat kenangan pahit saat aku khilaf di depanmu.

Semuanya berbaur, membuncah ke atas menggantikan bintang-bintang.

Semua titik itu berkilau lebih terang daripada cahaya malam.

Mereka berkedip mengejekku sesekali.

Mereka tidak pernah mau berucap “Mazel Tov” kepadaku.

Mereka malam ini berpihak padamu.

Aku kembali merapatkan jemariku satu dan lainnya.

Kembali menenggelamkan diri dalam lamunan logis yang tak jelas ujungnya.

Otak lelakiku memaksa menyembunyikan perasaan untuk malam ini. Entah besok bagaimana.

Semua keluh kesahmu di depanku sudah menjadi bintang.

Cahayanya ada, walaupun mereka hanya mencarimu.

Mereka selalu tahu kau tidur di mana nanti.

Mereka bernyanyi setiap kali kau menarik napas.

Aku kini membuka telapak tangan, bukan sebagai Romeo atau Michael Angelo.

Aku hanya seiris hati yang terlalu memanjakan tempo.

Terlelap dalam rasa sakit atas kenangan pahit.

Malam ini dan esok, biarlah untukmu kuberikan langit.

[di batas dinding dekat atas dan bawah, saat kegelapan meradang]

Berkatalah Sebatang Rumput Liar

Posted: Desember 10, 2010 in Puisi

Tak seorang pun mengindahkanku
Tak seorang pun memperhatikanku
Tak seorang pun
Dan tak seorang pun

Kala aku mulai tumbuh besar
Dengan segera mereka akan membunuhku
Mereka menganggap aku ini gulma
Tak lebih dari tanaman pengganggu

Berbahagilah saudara-saudaraku
Kalian yang terinjak-injak di lapangan bola
Dan kalian yang dijadikan makanan domba
Setidaknya hidup kalian tidak percuma

Oh… Betapa malangnya anak-anak manusia
Yang hidup percuma, seperti aku adanya.


Share

Surat Terbuka Untuk Kekasih

Posted: Desember 10, 2010 in Puisi

Banyak orang menghabiskan waktunya berwisata ke Pulau Dewata
Banyak orang menghabiskan waktunya berjudi di Las Vegas

Namun aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, Kekasihku
Berbicara tentang kehidupan di sekitar kita
Atau menyaksikan film-film yang seru dan lucu

Banyak tentara yang mati berperang di jalur Gaza
Banyak anak-anak yang mati kelaparan di tanah Afrika

Namun aku ingin mati di pelukanmu, Cintaku
Setelah kita bosan hidup dan telah tua renta
Dan tak seorang pun lagi yang memperhatikan kita

Datanglah kemari, Sayangku
Kau yang selalu baik dan manja padaku
Tataplah ke langit luas membentang atau bintang yang benderang
Kita lahir tanpa membawa apa-apa,
Dan kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.


Share

Cinta Dan Birahi Suci

Posted: Desember 9, 2010 in Puisi
Tag:, , , , ,

      Dengarkanlah ini, Cinta
      sedesir hembusan kerinduan
      dari denyut dan dengus birahi yang masih suci
      kugubah dalam lyrik-lyrik kecil dan bersahaja

      Ini adalah pengalaman terindah
      yang merasuk ke sanubari
      tentang mimpi-mimpiku denganmu
      penuh gairah dan misteri

      Hingga fajar beranjak aku masih tegar mengenangmu
      Dan pada rona lazuardi yang tersenyum ramah
      Ku sertakan asa di ubun matahari yang masih merah
      agar menerangi hati dan kasihmu

      Cinta
      Dimana gerangan engkau
      Betapa rindunya aku, hari ini.


Share

Kesalahan Itu….

Posted: Desember 9, 2010 in Puisi

Bila aku harus mengulangi hidup ini,
Aku akan membuat kesalahan-kesalahan yang sama,
tetapi akan aku pastikan bahwa aku menemukan kesalahan-kesalahan itu jauh lebih awal.
Sehingga, penyesalan tak akan datang menjemput dan meng-elukanku.
Aku Tidak tau takdirku, tetapi aku tau hak-ku untuk mengubahnya.

Harapan Seorang Anak

Posted: Desember 8, 2010 in Puisi

Bapak Ibu, Saya Anakmu

Seandainya saya hidup dalam suasana penuh kritikan,
berarti saya belajar menjadi seorang pembenci.
Dan jika saya hidup dalam suasana penuh dengan permusuhan,
berarti saya menjadi seorang pendendam.

Jika saya hidup dalam suasana penuh dengan makian,
Berarti saya belajar menjadi seorang pemberontak.
Jika saya hidup dalam suasana penuh dengan makian,
Berarti saya belajar menjadi seorang pemberontak.
Jika saya hidup dalam suasana penuh dengan ejekan,
Berarti saya belajar menjadi seorang yang rendah diri.

Jika saya hidup dalam keadaan dikasihani,
Berarti saya belajar menjadi seorang yang selalu kesal terhadap diri sendiri.
Jika saya hidup dalam suasana memalukan,
Berarti saya belajar menyalahkan diri.

Jika saya hidup dalam suasana penuh pengertian,
Berarti saya belajar menjadi seorang yang sabar.
Jika saya hidup dalam keadaan merasakan diri saya diterima,
Berarti saya belajar berkasih sayang.

Jika saya hidup dalam suasana penuh dukungan,
berarti saya belajar untuk percaya diri.
Jika saya hidup dalam suasana penuh dengan pujian,
berarti saya belajar menghargai.
Jika saya hidup dalam suasana penuh keadilan,
Berarti saya belajar menjadi seorang yang adil.

Jika saya hidup sengan kejujuran,
Berarti saya belajar menghargai kebenaran.
Jika saya hidup dalam suasana aman,
Berarti saya belajar untuk mempercayai diri saya dan orang lain.

Jika saya hidup dalam suasana penuh restu/persetujuan,
berarti saya belajar menyukai diri saya.
Jika saya hidup dalam suasana diterima dan bersahabat,
Berarti saya belajar untuk memperoleh cinta dalam hidup.
Jika saya hidup dalam suasana penuh penghargaan,
Berarti saya belajar untuk mempunyai tujuan hidup.


Share

Ada Senja di Pelataran

Posted: Desember 4, 2010 in Puisi

Ini sudah kesekian kalinya, bukan kebetulan alam berkonspirasi dengan tuannya.
Saat itu, kau sapa aku di pelataran senja
langit merona merah
mentari tersipu malu
kau tatap mataku berdegup

Senja makin larut, kau tinggalkan jejakmu
Berbekas di pelataran senja, Aku menunggumu.

Ketika berdialog dengan hati
Menghadirkan serpihan-serpihan hitam putih
Menatap lembut ruang hampa
Membentuk simpul di bibir
Matanya berbinar, ada sebongkah cahaya tentang dirinya
Wajahnya merona merah
Diam-diam aku megintip malu
Ah, kau sungguh membentur bebalku
Habislah kata-kataku tentangmu
Kau bagaikan bidadari dari ujung senja
Ada jingga di balik wajahmu.


Share