Archive for the ‘Gien Aquilan’ Category

Air Mata Saksi Rasaku Saat Ini

Posted: Desember 3, 2010 in Gien Aquilan

Dengarkan aku
Bacalah tiap kata yang ku tulis untukmu
Dan izinkan aku menulis namamu
Namamu yang indah dan penuh arti
Di hikayat hatiku ini

Walau fakta tak sesuai asa
Namamu sudah terlanjur terpatri
Di lubuk hati
Sulit bagiku menghapusmu

Dalam lembaran hikayat hidupku ini
Bulir air mata ini
Menjadi saksi betapa aku merasa
Sakit atau Cinta tak bisa ku raba saat ini

Aku hanya inginkanmu
Bukan yang lain
Maafku terbuka lebar untukmu

Tapi hatimu……………
Kosong ku rasa saat ini
Otakku dan hati tak bisa bersatu

Lihat aku
Tatap aku
Pandang aku

Kau patahkan sayap pengganti ini
Ku tak bisa terbang lagi
Mencapai mimpiku selama ini

Daun yang hijau ini
Tlah berubah menjadi coklat layu
Meski kau siram kembali
Hanya akan mempercepat rapuhnya diriku saat ini

Air mata
Bulir air mata
Saksi perasaanku saat ini
Yang terlampau luka oleh cinta
Lelah ku saat ini


Share

Tentang Sebuah Keluarga

Posted: Desember 3, 2010 in Gien Aquilan


*ketika kemakmuran tidak berarti kebahagiaan*

Alkisah, di sebuah rumah yang mungil di atas perbukitan yang rindang, terdapatlah sebuah rumah kecil yang mungil. Dirumah tersebut tinggalah seorang keluarga yang sederhana. Suatu ketika si bapak yang bekerja sebagai seorang abdi negara, pulang dengan membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Sebuah kain batik untuk istrinya terkasih dan sebuah mainan robot-robotan untuk putranya yang masih berumur 5 tahun.

Bukan main senangnya istri dan anaknya dengan oleh-oleh yang dibawa pulang oleh sang suami.

“Alhamdulillah bu, ini rejeki dari Tuhan YME, bapak hari ini dapat promosi dikantor.” jelas sang suami.

“Terima kasih ya pak, ibu turut senang buat bapak.” jawab sang istri sambil memeluk suami tercintanya.

Karena dedikasinya selama bekerja dinilai baik oleh atasannya, si bapak mendapat promosi menjadi kepala bagian. Sejak itu kehidupan mereka pun beranjak dari keluarga yang sederhana berubah menjadi keluarga yang berkecukupan. Mau liburan ke luar negeri, cukup. Mau beli kendaraan baru pun lebih dari cukup.

Anak mereka pun tumbuh tanpa satu kekurangan apapun. Bisa bersekolah di tempat yang bagus, bisa membeli mainan yang bahkan anak-anak lain belum cukup uang untuk membelinya. Singkatnya kehidupan mereka berubah 180 derajat.

Tahun demi tahun berlalu. Entah sejak kapan suasana keluarga tersebut pun mulai berubah. Si bapak menjadi sering telat pulang karena alasan pekerjaan. Si ibu pun tidak kalah sibuknya. Mulai dari acara arisan sesama ibu-ibu sampai bisnis baru yang ditekuninya.

Akhirnya mulai jaranglah mereka duduk makan bersama, bercengkerama di ruang keluarga hanya sekedar untuk menceritakan hari-hari yang telah mereka lalui. Si anak pun tumbuh dengan segala fasilitas-fasilitas yang lebih dari cukup untuk anak seusianya, dan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Sampai pada suatu ketika, datanglah sepucuk surat panggilan dari sekolah si anak. Surat tersebut berisi, peringatan akan jatuh tempo pembayaran SPP si anak.

“Loh bu ini surat apa?” tanya si bapak ketika pulang kerumah.

“Ohhh si adek pah, katanya belum membayar spp 4 bulan.” jawab si ibu singkat sambil terus memainkan jari-jari di smartphone mewahnya.

“Kok bisa, memang ibu ndak kasih uang ke adik?” tanya si bapak semakin penasaran.

“Bentar ya pak ibu lagi sibuk, bapak besok ke sekolah saja buat ketemu sama kepala sekolahnya.” lanjut si istri sambil berlalu pergi.

Si suami yang merasa tersinggung pun mulai menaikkan nada bicaranya. Dia berkata,

“Ibu ini bagaimana toh? Kok main pergi saja, Bu… Ibu…!” sahut si bapak sambil menghampiri istrinya dengan kesal.

Dan kemudian dimulailah percekcokan antara si suami dan si istri. Entah sudah sejak kapan dimulainya tradisi perdebatan sambil saling berteriak dan saling menyalahkan. Padahal dulu waktu mereka masih tinggal di rumah lamanya jarang sekali terjadi pertengkaran.

Di tempat lain, si anak yang kini sudah beranjak dewasa, sedang sibuk dengan teman-teman mainnya.

“Bro, gimana nih, barang gua habis, kamu masih punya persediaan ndak?”

“Waduh habis tuh bos, ntar deh gua beli lagi. Santailah duit gua banyak kok.” jawab si anak.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu digedor. Betapa terkejutnya si anak yang sedang bersantai dengan teman-temannya di sebuah kamar kos-kosan.

***

“Krinnngggg!” terdengar suara bunyi bel.

Si Ibu yang akan pergi arisan, terkejut oleh kedatangan 2 orang polisi. Mereka menginformasikan bahwa anak mereka sekarang ditahan di kantor polisi atas dugaan pemakaian narkoba.

“Ahhh tidak mungkin pak anak saya terlibat narkoba, orang dia anak baik-baik kok.” bantah si ibu.

“Maap bu, masalah itu sedang dalam pemeriksaan, sekarang saya minta ibu dan bapak ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”

*ketika kemakmuran tidak berarti kebahagiaan*

Alkisah, di sebuah rumah yang mungil di atas perbukitan yang rindang, terdapatlah sebuah rumah kecil yang mungil. Dirumah tersebut tinggalah seorang keluarga yang sederhana. Suatu ketika si bapak yang bekerja sebagai seorang abdi negara, pulang dengan membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Sebuah kain batik untuk istrinya terkasih dan sebuah mainan robot-robotan untuk putranya yang masih berumur 5 tahun.

Bukan main senangnya istri dan anaknya dengan oleh-oleh yang dibawa pulang oleh sang suami.

“Alhamdulillah bu, ini rejeki dari Tuhan YME, bapak hari ini dapat promosi dikantor.” jelas sang suami.

“Terima kasih ya pak, ibu turut senang buat bapak.” jawab sang istri sambil memeluk suami tercintanya.

Karena dedikasinya selama bekerja dinilai baik oleh atasannya, si bapak mendapat promosi menjadi kepala bagian. Sejak itu kehidupan mereka pun beranjak dari keluarga yang sederhana berubah menjadi keluarga yang berkecukupan. Mau liburan ke luar negeri, cukup. Mau beli kendaraan baru pun lebih dari cukup.

Anak mereka pun tumbuh tanpa satu kekurangan apapun. Bisa bersekolah di tempat yang bagus, bisa membeli mainan yang bahkan anak-anak lain belum cukup uang untuk membelinya. Singkatnya kehidupan mereka berubah 180 derajat.

Tahun demi tahun berlalu. Entah sejak kapan suasana keluarga tersebut pun mulai berubah. Si bapak menjadi sering telat pulang karena alasan pekerjaan. Si ibu pun tidak kalah sibuknya. Mulai dari acara arisan sesama ibu-ibu sampai bisnis baru yang ditekuninya.

Akhirnya mulai jaranglah mereka duduk makan bersama, bercengkerama di ruang keluarga hanya sekedar untuk menceritakan hari-hari yang telah mereka lalui. Si anak pun tumbuh dengan segala fasilitas-fasilitas yang lebih dari cukup untuk anak seusianya, dan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Sampai pada suatu ketika, datanglah sepucuk surat panggilan dari sekolah si anak. Surat tersebut berisi, peringatan akan jatuh tempo pembayaran SPP si anak.

“Loh bu ini surat apa?” tanya si bapak ketika pulang kerumah.

“Ohhh si adek pah, katanya belum membayar spp 4 bulan.” jawab si ibu singkat sambil terus memainkan jari-jari di smartphone mewahnya.

“Kok bisa, memang ibu ndak kasih uang ke adik?” tanya si bapak semakin penasaran.

“Bentar ya pak ibu lagi sibuk, bapak besok ke sekolah saja buat ketemu sama kepala sekolahnya.” lanjut si istri sambil berlalu pergi.

Si suami yang merasa tersinggung pun mulai menaikkan nada bicaranya. Dia berkata,

“Ibu ini bagaimana toh? Kok main pergi saja, Bu… Ibu…!” sahut si bapak sambil menghampiri istrinya dengan kesal.

Dan kemudian dimulailah percekcokan antara si suami dan si istri. Entah sudah sejak kapan dimulainya tradisi perdebatan sambil saling berteriak dan saling menyalahkan. Padahal dulu waktu mereka masih tinggal di rumah lamanya jarang sekali terjadi pertengkaran.

Di tempat lain, si anak yang kini sudah beranjak dewasa, sedang sibuk dengan teman-teman mainnya.

“Bro, gimana nih, barang gua habis, kamu masih punya persediaan ndak?”

“Waduh habis tuh bos, ntar deh gua beli lagi. Santailah duit gua banyak kok.” jawab si anak.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu digedor. Betapa terkejutnya si anak yang sedang bersantai dengan teman-temannya di sebuah kamar kos-kosan.

***

“Krinnngggg!” terdengar suara bunyi bel.

Si Ibu yang akan pergi arisan, terkejut oleh kedatangan 2 orang polisi. Mereka menginformasikan bahwa anak mereka sekarang ditahan di kantor polisi atas dugaan pemakaian narkoba.

“Ahhh tidak mungkin pak anak saya terlibat narkoba, orang dia anak baik-baik kok.” bantah si ibu.

“Maap bu, masalah itu sedang dalam pemeriksaan, sekarang saya minta ibu dan bapak ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”


Share

Rindu Berkawan Air Mata…

Posted: Desember 2, 2010 in Gien Aquilan

Walau bukan yg pertama kali kami berpisah, hati ini tetap merasakan rindu.
rindu bercanda denganmu, rindu memandang wajahmu, dan juga rindu memelukmu.
rindu yang ku coba kabarkan pada sang rembulan, pada sang bintang, dan juga pada angin.. agar dapat terobati rindu ini. Namun rindu ini kian mendera, betapa terasa perih di hati dan betapa sulit membendung tumpahan air mata ini.

Rindu yang kadang dapat membuatku terdiam lama dan menangis dalam sunyi. Rindu yang kadang bisa membuatku tak dapat memejamkan mata dan yg bisa membuat badan ini terasa lemas tak bertenaga.
dan rindu yg selalu berakhir menjadi sebuah doa, semoaga ALLAH selalu melindungimu .. Nduutku sayang.

Ya Allah … samapaikan rindu ini padanya, serta bisikanlah betapa aku menyanyanginya.
Ya Allah … sampaikan juga pada orang yang hamba sayangi itu, betapa hamba ingin memeluknya.

Betapa jiwa ini tak kuasa jauh darimu.


Share

Menemukan

Posted: Desember 2, 2010 in Gien Aquilan

sembari kau tertidur,
aku pernah berdoa dengan desahanmu
sembari kau berpergian,
aku pernah memawaskan ketajaman hatiku sendiri
dan sembari kau marah,
aku pernah memaki dan ingin menyakitimu lebih dalam lagi

Dan sembari aku mencintai
aku menemukan sesuatu
tentangku sendiri

Nanti kubisikkan padamu lagi
buka hatimu, aku merasuki

Sahabat, apa kau dengar itu…
diantara kekalutan hidup
dan diantara logika yang terpenjara

aku sesungguhnya tahu
aku menemukannya
menemukan titik


Share

https://upayfan.wordpress.com/my-lady-rose/

tidak bisa banyak yang mampuku lakukan
hanya ini hadiah yang mungkin berharga bagiku untuknya
namun ku tak yakin akau rasa bahagia atas hadiah yang ku berikan
tidak banya yang ku harap atas BLOG ini
aku hanya berharap tulisan yang terdapat di BLOG ini bisa menghibur dan memberi cahaya pada semua orang yang membacanya.


Share

Sukma

Posted: November 30, 2010 in Gien Aquilan

Aku masih dalam peluh
Mencoba menatap luas hamparan harap
Saat langit-langit hatiku mulai luruh
Dalam keadaan sepi, sendu, kelam

Aku masih berdiri dan menunggu
Dan untuk saat ini aku tak hanya menunggu
Tapi juga mencoba mengosongkan hati
Dan menutupnya erat

Aku tetap termenung dalam lamunan
Dalam kesunyian yang tak berdasar
Terperangkap dalam Kekosongan

Aku akan terus disini
Hingga aku dapat memejamkan mata tanpa mengingatmu
Tanpa ada kamu
Dan masih tanpa kamu


Share

Luka Sang Bidadari

Posted: November 29, 2010 in Gien Aquilan, Kumpulan Cerita

Sang Bidadari.

Begitu selalu saya memanggilnya. Teramat sering malah.

Mungkin, pesona kecantikan wajahnya yang anggun dan bercahaya serta senyumnya yang memukau, ibarat dewi khayangan turun ke bumi meniti pelangi, dapat menjadi alasan yang tepat mengapa saya memanggilnya dengan sebutan yang membuatnya agak rikuh tersebut.

“Jangan panggil saya seperti itu,” sergahnya dengan pipi memerah.

“Saya cuma memaparkan kenyataan. Tak lebih. Kamu memang pantas kusebut bidadari”, kata saya membela diri. Saya menatap manik-manik matanya yang mengerjap indah. Ia menunduk tersipu.

“Tapi itu bukan nama saya,” ucapnya lirih. Nyaris tak terdengar.

Memang.

Namanya adalah Niken Sulastri. Putri seorang priyayi kota gudeg, yang jago menari.

Saya mengenalnya pertama kali saat menyajikan tari tradisional dalam acara ramah-tamah pertemuan ilmiah mahasiswa teknik nasional yang saya ikuti di pendapa salah satu universitas terkenal di Yogyakarta setahun yang lalu.

Keempat penari yang menawan, meliuk-liuk indah ditingkah suara gamelan seakan membawa kami pada wibawa magis keraton yang menggetarkan. Mereka berpadu seperti ombak pantai selatan. Berdebur kencang menerpa karang. Namun syahdu, lembut dan melenakan. Dan Niken adalah penari yang paling menonjol kelincahan geraknya. Lentik jemarinya membelai angin dan kelenturan tubuhnya membangun harmoni lebih hidup. Saya hanya memaku pandang ke arahnya. Tanpa berkedip. Dengan postur tubuh semampai ditambah wajah yang cantik, Niken-bagi saya-menjelma menjadi bidadari seloka yang melayang anggun diatas mega-mega putih.

Tariannya selesai tanpa saya sadari betul-betul. Saya masih terbawa arus kekaguman pada wanita penari itu. Dengan rasa penasaran yang memuncak, saya menemui dia di belakang panggung. Setelah larak-lirik sejenak, saya mendapatkannya tengah berdiri sendirian sembari memegang sebuah teh kotak. Wangi parfumnya menyerbu hidung saat saya mendekatinya.

“Maaf, boleh menganggu sebentar ?,” saya menyapa sopan. Ia menoleh memberi respon lalu mengangguk pelan.

Saya menarik nafas lega. Sebuah awal yang baik.

“Tarian anda tadi sangat indah dan memikat. Saya benar-benar tertarik. Oh, ya, kenalkan, saya Mukhlis, peserta pertemuan ilmiah dari Ujung Pandang. Dan anda ?”

Saya segera mengangsurkan tangan memperkenalkan diri.

Ia menyambutnya dengan hangat.”Niken. Niken Sulastri. Selamat datang di kota kami dan terimakasih atas pujiannya”, sahutnya bersahabat. Ia ternyata memiliki pribadi yang ramah dan bersahaja. Kami lantas bercakap-cakap dengan akrab. Ia menjadi kawan bicara yang menyenangkan serta memiliki sense of humoryang lumayan.

“Tahukah kamu Niken ?. Kamu seperti bidadari dengan pakaian seperti itu”, saya mencoba menggodanya.

Niken tersenyum manis. Pipinya merona.

“Gombal kamu !”, kilahnya sembari mencubit lengan saya.

Dan hari-hari sesudahnya seperti berwarna. Seminggu di Yogya, hari-hari saya terus diisi bersama Niken. Pertemuan ilmiah kami sesungguhnya cuma 3 hari, dan hari sesudahnya adalah menapak bersama sang bidadari.

Seperti malam itu.

Kami santap malam gudeg lesehan di jalan Malioboro sambil bercerita tentang banyak hal. Niken berkisah tentang latar belakang kehidupannya yang diwarnai nuansa priyayi keluarga, pandangan-pandangannya tentang masalah kemahasiswaan, kesenian, film, novel, musik favorit bahkan tentang kemiskinan yang melanda bangsa ini.

“Jadi miskin itu sesungguhnya membuat orang tambah humanis”, kata Niken membuka percakapan. “Sebab dengan miskin, kita mampu menangkap fenomena dan pernik-pernik kemanusiaan secara obyektif naluriah. Kita mampu merasakan perbedaan-perbedaan yang kental antara kemewahan si kaya dan kemelaratan kita. Dari perbedaan ini, akan nampak bagaimana sesungguhnya kita memandang dan memaknai hidup. Secara arif dan bijak. Ya, paling tidak, kita bisa memahami bahwa kemiskinan yang kita alami adalah ketidak mampuan kita menjangkau sesuatu dengan apa yang kita miliki. Bukankah itu humanis ?”.

“Tapi tidak selamanya begitu,” saya menolak asumsinya. “Kadang-kadang, kemiskinan malah membuat orang menjadi destruktif. Ia menganggap, apa yang dialaminya ketika itu adalah sebentuk ketidakadilan atas program pemerataan yang didengarnya berkali-kali. Pada gilirannya kacamata obyektifitasnya tumpul. Kedengkian merajalela di hatinya, kemalasan yang diakibatkan kepasrahannya menerima nasib kian meruyak, bahkan yang lebih fatal bila nafsu angkara mengangkangi sifat rasionalnya. Ia tidak lagi humanis. Bahkan Anarkis. Bukan begitu, Niken ?”.

Niken tersenyum. Ia tidak segera menjawab. Dikunyahnya kerupuk pelan-pelan. Suaranya keriap-keriup.

“Kamu bicara seperti layaknya seorang politikus dengan jargon-jargon meyakinkan sekaligus memilukan,” ujar Niken. Ada kilat jenaka di matanya. Saya terkekeh.

“Kamu juga. Bicara seperti pernah menjalani hidup miskin, lantas mengeksploitirnya sedemikian rupa lalu menganggapnya itu sebagai hal yang humanis”, saya membalas sindirannya dengan hangat.

Kami kemudian tertawa bersama.

Diam-diam, saya mengagumi ketajaman analisa Niken. Dia cantik, cerdas dan pandai membawa diri. Suatu paduan yang amat serasi.Bulan purnama bersinar terang diatas sana. Bulat dan bundar. Kami berjalan berdua menyusuri bahu Malioboro yang tak pernah letih meniti hari. Lalulintas orang, kendaraan bermotor dan becak begitu ramai dari kedua belah arah yang berlawanan. Hiruk pikuk.

Suara klakson bersahutan ditingkah nyanyian para musisi jalanan menjajakan suara, menambah semarak malam. Saya benar-benar menyukai suasana ini. Niken membelikan saya Souvenir baju kaos model batik dan Blangkon Jawa. Proses tawar menawarnya berlangsung seru. Pendekatan persuasif Niken dengan menggunakan bahasa jawa kromo inggil sukses dan saya sangat terkesan.

Kami akhirnya membeli oleh-oleh tadi dengan harga yang relatif murah.Saya mengantar Niken ke rumahnya . Ini malam terakhir bersama sang bidadari, aku membatin. Getir. Didepan pagar rumahnya yang mewah dan megah, prosesi perpisahan itu kami lakukan secara sederhana.

“Niken, saya akan kembali ke Ujung Pandang besok. Terimakasih dan ma’afkan atas segala sesuatunya. Kamu telah membuat perjalanan saya ke Yogya lebih berarti. Kamu bidadari yang pandai menjamu tamu. Terimakasih, Niken”, kata saya sambil menggenggam erat tangannya.

“Ini akan menjadi kenangan yang terindah buat saya. Kamu kawan baru yang baik, tidak menyebalkan dan punya karakter”, sahut Niken tulus. Pijar matanya terlihat cemerlang.

“Selamat Tinggal Niken. Sang Bidadari,” ucap saya menyampaikan pamit.

Niken mengangguk. Air mata bergulir di pipinya. Saya melambaikan tangan seraya menaiki becak yang akan membawa saya kembali ke penginapan. Sepenggal hati saya tertinggal disana, bersama Niken dan seluruh nostalgia besertanya.

* * *

HUBUNGAN surat menyurat kami sangat lancar. Kami saling bercerita tentang aktivitas kami dan banyak hal lainnya. Tapi tidak tentang cinta. Kami berusaha mengambil jarak untuk tidak sampai “sedekat” itu. Meskipun saya tahu betul dari kata-kata di suratnya, Niken tak dapat menyembunyikan perasaannya.Begitu jujur dan tak berpura-pura.

Dan untuk itu, saya sadar, untuk membangun komitmen bersamanya , saya pun harus mengungkapkan segalanya secara terbuka.

Sampai suatu ketika selama kurang lebih 5 bulan, saya tak pernah menerima kabar sedikitpun darinya. Saat itu, saya sedang sibuk menyelesaikan tugas akhir, hingga agak mengabaikan masalah tersebut.

Saya menyadari hal itu saat waktu wisuda saya makin dekat. Niken harus tahu saat penting ini.

Saya segera mengirim telegram ke Yogya mengabarkannya. Dan benar, tepat sepulang wisuda, saya mendapatkan surat dari Niken. Selain ucapan selamat yang singkat, juga :

“Saya telah menikah sebulan yang lalu. Dan untuk itu jangan pernah berharap lebih banyak lagi. Dari saya, Niken, Bidadarimu.

Saya terpana. Tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang hilang dari diri. Teramat besar dan sungguh memilukan.

* * *

KALAU saat ini saya telah berada di Yogya kembali, semata-mata karena saya tak dapat mengingkari kata hati. Saya tak dapat menerima dan melepaskan begitu saja”terbangnya” sang bidadari.

Saya menyusuri Malioboro yang sampai kini tak juga letih meniti hari, tanpa alasan yang jelas. Mungkin sekedar memutar balik kenangan yang pernah kami bangun 2 tahun silam. Saya seperti dibetot oleh kekuatan magis untuk berjalan menapak tempat ini.

Saya melewati jajaran penjual pernik-pernik dan Souvenir yang indah dengan perasaan tak menentu. Hampir saja saya menabrak tubuh seorang turis asing yang sedang menawar sesuatu.

Di depan pasar Beringharjo, mendadak saya melihat sosok yang sangat saya kenal. Niken !. Ia sedang menenteng tas belanjaan dengan perut hamil besar.

“Niken !. Niken !,” saya memanggilnya. Ia menoleh. Tapi tiba-tiba memalingkan wajah dan berjalan bergegas.

“Tunggu!” saya berlari mengejar dan langsung mencekal lengannya.

Matanya yang mengerjap indah adalah suatu pengakuan yang jujur.

Dia Niken, sang bidadari.

“Ada apa, Mukhlis Saya sudah katakan jangan pernah berharap banyak. Permisi, saya harus pulang”, Niken mengelak dan beranjak pergi.

Saya menahannya.”Tidak Niken. Kamu harus menjelaskan semua ini. Saya tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan”, kata saya tegas.

Niken menghela nafas panjang. Ia mengalah.

Kami berbicara di sebuah warung sederhana di dekat Beringharjo. Niken seperti bertambah tua dari usia sebenarnya. Ia nampak menderita dan lelah. Lalu ia bertutur datar.

“Ayah saya terlibat kasus korupsi di kantornya. Seluruh kekayaan yang kami miliki habis disita. Kami tak punya apa-apa lagi. Kami kemudian tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan beban mental memalukan. Ayah dipenjara dan ibu meninggal 2 bulan sesudahnya. Sebagai anak tertua, saya merasa punya tanggung jawab besar untuk meneruskan hidup dan membiayai kedua adik saya, tanpa menggantungkan harapan dan belas kasihan orang lain. Termasuk padamu. Tapi saya tak punya keterampilan apa-apa, selain menari dan sedikit pengetahuan tentang administrasi. Salah seorang kawan ayah saya-yang kini menjadi suami saya-berbaik hati, memberi saya pekerjaan dan akhirnya menikahi saya,”kisah Niken sendu.

Saya menggigit bibir. Ia ternyata memiliki nasib yang tidak terlalu baik.

“Maafkan saya Mukhlis. Saya tidak bermaksud mengabaikanmu. Saya cuma tidak ingin kamu repot menanggulangi beban saya, sementara kamu sibuk menyelesaikan study,”lanjut Niken lagi.

Pelupuk matanya mulai basah. Saya lalu menggenggam jemarinya, mengalirkan kekuatan dan membuatnya tidak terlalu merasa “bersalah”.

“Kamu masih ingat kata-katamu tempo hari menjelang saya kembali ke Ujung Pandang ?. Tentang kemiskinan yang membuat orang lebih humanis, lebih arif memandang hidup dan lebih tegar menghadapi tantangan ?” kata saya mengingatkan nostalgia di Malioboro. Niken mengangguk.

“Tapi saya adalah bidadari yang terluka. Mungkin cenderung seperti pandanganmu : Memandang keadilan adalah nonsens dan relatif tidak rasional”kilah Niken.

Saya tersenyum.

“Sebagai calon ibu kamu harus makin bijak”

“Ya. Antara lain belajar mencintai dan itu telah saya lakukan sepenuh hati”

“Untuk suamimu ?”

“Salah satu. Yang lain dan terpenting adalah belajar mencintai hidup. Saya berusaha untuk menyadari bahwa apa yang saya alami kini tidak lain sesuai dengan porsi yang saya emban dan kemampuan yang saya miliki”.

“Saya kagum padamu, Niken. Bidadari yang luka harus bangkit kembali meniti pelangi”, kata saya memberi semangat.

Niken kembali tersenyum. Wajahnya nampak seperti bercahaya.

“Terimakasih. Kamu membuat saya semakin berharga”, balasnya tulus.

Kami beranjak pergi. Langit diatas sana menyibak, menguak, memberi kesempatan pada mentari untuk bersinar terang. Sebelum menaiki becak yang membawanya pulang, Niken membisikkan sesuatu di telinga saya : “Jangan pernah berhenti menyebutku bidadari”.

Saya tertawa renyah.

Di bahu Malioboro, saya mendapatkan sesuatu yang selama ini hilang.

Tapi tiba-tiba saya merasa sepi. Sangat sepi.


Share

Perasaan Ini Tak Akan Berubah

Posted: November 25, 2010 in Gien Aquilan, Puisi

Tahukah seorang pecinta merasakan rindu yang amat sangat
Terkadang perasaan itu muncul ketika kita jauh dengan yang kita cintai
Terkadang pula ketika sebuah lantunan lagu terdengar begitu mengiris kalbu
Adakalanya hadir ditengah lamunan dalam sebuah perjalanan
Ya rindu itu selalu hadir ketika kita memiliki sebuah kata ….Cinta

Terkadang ketika hati ini begitu kesal dan marah
Selalu saja telisik rindu datang dengan sendirinya
Tak rela rasanya ketika melihat matanya berlinang air mata
Berdosa rasanya ketika dia tertunduk sedih
Ah..diriku terkadang merasa menjadi lelaki tanpa perasaan

Aku bukanlah seorang lelaki romantis
Yang selalu bertabur kata cinta dan rayuan
Tapi aku bisa lebih terkadang
Bisa membuatmu terbang dengan kebahagiaan yang kamu impikan

Sayang…
Bukanlah harta yang aku janjikan untuk dirimu
Bukan pula janji janji manis yang terkadang selalu tersisa tanpa ampas

Tapi aku adalah bagian dari kehidupanmu
Yang akan selalu merasa sakit ketika kamu menangis
Yang akan selalu pilu ketika kamu bersedih hati

Percayalah….
Walau usia kita bertambah
Tapi rasa sayang itu akan selalu menyala
Buat dirimu…..


Share

21 – 11 – 2010

Posted: November 20, 2010 in Gien Aquilan

Bulan purnama ini kau hadir dalam ingatanku,
Bulan purnama ini kau ingatkan aku tentang waktu.
Sejenak ku nikmati sisa-sisa bulan purnama ini dengah tubuh lemah.
terbunuh sepi dan di temani sunyi.
Hembus angin malam yang kian malam kian merasuk dalam sendi-sendi tubuh ini.
Dimana saat orang lain terjaga dalan rebahnya, di mana suatu malam yang indah ini mereka terlelap dengan ribuan mimpi indahnya.
Namun, Aku….
Aku yang selalu mengingat dirimu, dirimu yang selalu hadir dalam khayalku, masih saja termenung dalam kesunyian.
Berharap semua dapat terulang kembali, dan selalu berharap sama di setiap malam-malam yang ku lalui.
Mungkin penyesalan bukanlah jalan yang terbaik, mungkin juga penderitaan ini patut ku miliki.
Terlintas wajahmu, aku merasa malu, aku merasa hina, aku merasa bodoh.
seandainya hatimu di beri kelembutan satu kali lagi oleh sang khalik.
aku berjanji, aku berjanji untuk merubah semuanya.
Peri kecilku, dirimu takkan pernah hilang dalam ingatanku, dirimu takkan bisa tergantikan oleh siapapun.
Kau rangkul aku di saat tubuh ini lemah, Kau jabat tangan ku di kala aku bahagia.
hanya satu doaku, aku ingin kau kembali.
GSP, you are my dream garden, you are my light flower.

Letters For Love

Posted: November 19, 2010 in Gien Aquilan

Yank,
malam ini kurenungi kembali arti dirimu di hidupku
bukan untuk meragukan cintamu padaku
bukan pula mencari hina dalam dirimu

apa yg telah kau berikan padaku, tiada ternilai
kau telah mengingatkan aku tentang arti kehidupan
entah apa yg mesti kukatakan
untuk sekedar mengungkapkan rasa syukurku pada-Nya

Yank,
begitu besar anugerah yang telah Dia berikan padaku lewat dirimu
nanti kalau Tuhan mengijinkan kita hidup bersama
tiada kan mati cintaku padamu

kau yg diciptakan oleh-Nya
dengan segala keindahan yg kau miliki
ingin selalu kupuja

Yank,
jadilah milikku selamanya
dan akupun jadi milikmu selamanya
dengan segala puji bagi Tuhan
kukatakan padamu
“aku sangat mencintaimu”
dengan segala kekurangan dan kelebihanmu


Share