Banalitas Benalu

Posted: Februari 9, 2011 in Kumpulan Cerita

“Cit…cit.. cittttt… gubraaak!!!”

“Cuuiiiiiiiiiit.. Glodak-glodak! Ngeeek!!”

Bunyi gesekan roda mobil yang di rem mendadak di jalanan aspal yang rusak berlobang-lobang, mengagetkan para pejalan kaki dan orang-orang yang sedang berkegiatan di sepanjang jalan itu.

Wajah Barudin pucat. Pucat pasi malah. Kaki kanannya masih dalam posisi menginjak rem dalam-dalam. Dengan ujung lengan kaosnya, dia mengusap keringat dingin di dahinya. Mulutnya komat-kamit nampak seperti sedang berdoa.

“Untung rem-nya pakem. Kalau tidak, bisa-bisa aku melindas mereka,”pikirnya. Dari belakang setir, dia melihat salah satu dari orang yang berboncengan sepeda motor tadi masih pingsan setelah terlempar jauh sampai ke pinggir selokan. Tetapi dia yakin, itu tadi adalah kecelakaan tunggal. Mereka terjatuh karena terantuk lobang aspal yang dalam. Mobilnya sama sekali tidak menyenggol motor itu.

Dengan niatan berbuat baik, Barudin hendak turun dari mobil untuk melihat kondisi mereka, dan untuk membawa ke rumah sakit jika memang diperlukan. Tetapi belum juga membuka pintu, tiba-tiba kerumunan orang berdatangan mendekat dan mengerumuni mobilnya. Sebagian besar, wajahnya nampak tidak bersahabat. Dan mereka mulai mengetuk-ngetuk kaca mobil, menjadikannya mengurungkan niat untuk segera turun.

“Turun..turun, ayo tanggung jawab!”

“Baru punya mobil gini saja sudah belagu. Main tabrak saja! Hayo mau lari ya??”

“Ini mesti nabrak orang gara-gara nyetir sambil nelpon,” suara-suara itu bersahut-sahutan. Barudin panik. Walau yakin tidak bersalah, dia keder juga. Tetapi mau tidak mau memang tetap harus turun, daripada mereka tambah beringas.

“Bug..bag..buk..gedebug!!” tanpa adanya komando, pukulan demi pukulan mendarat di kepala, dada dan perut begitu saja. Barudin bahkan tidak punya kesempatan untuk menjelaskan apa-apa. Pandangan matanya mulai kabur.

“Too..looong… toolooong.. ampppuuuun.. toloooong.. ampuuun!”

“Mas banguun mas, banguuun. Mas.. banguuuun! Woii… siang-siang kok malah ngelindur! Ayo bangun.. ada yang nyari tuh!”

Barudin kaget njenggirat. Tangannya spontan menutupi wajah sambil terus teriak ampun. Tetapi wajahnya berubah menjadi bengong ketika ternyata yang dilihatnya adalah sang isteri. Dia melihat ke kiri kanan, “Jangan-jangan aku dipukuli sampai pingsan dan lalu dibawa ke rumah sakit.” Demikian pikirnya. Tetapi setelah beberapa saat, dia sadar juga bahwa ternyata itu semua tadi hanyalah mimpi. Dan itu tadi mimpi yang ketiga-kalinya. Sebelumnya, dia juga sudah bermimpi dua kali tentang masalah yang menimpa dirinya terkait kondisi jalanan yang rusak.

“Mas, di cari Pak Djatmiko itu. Mau ngambil semen dan aspal dia.”

“Aspal?” tanyanya dengan masih sedikit linglung.

”Lha iya, aspal di gudang yang mas tawarkan kemarin itu.”

“Semen?”

“Iyaaa!! Ih, pikun nih orang. Dia mau ambil semua. Ndak pakai nawar lagi. Katanya ada calon camat yang perlu cepat-cepat untuk program aspalisasi dan proyek MCK di mana gitu.”

Tidak seperti biasanya. Tiba-tiba saja, Barudin nampak tidak nyaman. Dia merasa gelisah dan kegelisahan itu cukup mendominasi perasaannya. Dia merasa mimpinya itu berhubungan dengan kelakuannya selama ini yang suka memanipulasi bahan-bahan material dari proyek bangunan yang ditanganinya. Dan tentang keterkaitan dengan mimpinya itu, dia tahu benar kalau dia memang ikut bertanggung jawab atas kondisi jalan yang dikerjakan sekenanya dan asal-asalan sehingga cepat rusak. Dia memang salah satu dari tukang sunat proyek-proyek seperti ini, tukang sunat di antara berderet-deret tukang sunat alias maling yang berbaris panjang dari hulu ke hilir, sejak pengadaan barang sampai dengan pengerjaannya. Ya, maling-maling intelek yang mulai beroperasi sejak pertama-tama digelarnya arisan tender, yang menentukan siapa mendapatkan proyek apa dan berapa nominal atau jatah yang harus disetor. Di dalam otaknya, dia masih ingin bisa berkilah kalau dia hanya sekedar meneruskan ‘tradisi’, seperti yang juga dilakukan bosnya, wakil-wakil bosnya, juga oleh pemimpin-pemimpin proyek di lapangan sampai bagian logistik, para mandor dan bahkan sopir-sopir yang hanya kebagian mengakali uang bensin. Tetapi ketika masanya sudah tiba dan hati nurani mulai dengan lantang berbicara, siapa yang bisa melawannya?

“Tolong sampaikan saja, kalau barangnya sudah diambil orang,” jawabnya setelah terdiam dan merenung cukup lama. Ini tentu saja membuat heran isterinya..

“Loh, tadi pagi bukannya masih ada?.”

“Eh, bukan begitu dik. Aku sudah kapok jadi tikus proyek, dik. Ndak mau gitu-gitu lagi. Tolong jawab saja sudah diambil orang. Kalau ngeyel ya bilang saja kalau itu juga mau dipakai proyek pengerasan jalan dan pengairan sama calon camat atau calon bupati.. atau tokoh Partai Mbelgedhes, Partai Gendruwo Limbung atau partai apalah.. terserah.”

“Kapok? Kok kapok kenapa?”
”Ah, ceritanya nanti saja. Tolong itu urusan Pak Djat itu diselesaikan dulu. “

Isterinya beranjak menuju ruang tamu untuk menemui Pak Djatmiko yang sudah menunggu. Barudin berjalan mengendap-endap menyusul dan menguping pembicaraan mereka dari balik penyekat ruang tamu.

“Maaf, Pak Djat.. ternyata sudah diambil orang semuanya.”
”Waduh, gimana ini. Padahal saya sudah dipesan harus dapat secepatnya. Mas Udin ndak ada to?”
”Ndak ada, lagi nungguin proyek di mana gitu. Tadi saya cuman telepon. Kalau belum puas silakan telepon sendiri saja.”

Barudin mengernyitkan dahi. Ternyata isterinya tidak jago berbohong. Kalau sampai Pak Djat menelpon selulernya beneran dia kan bakal ketahuan kalau di rumah.

“Oh baiklah. Salam saja. Nanti saya telepon Mas Udin. Tapi ya titip pesan sekalian, mbok ya stoknya diperbanyak. Pas masa-masa kampanye gini kan proyeknya banyak.”

“Ya..ya, nanti saya sampaikan.” Sahut isterinya sambil mengantarkan tamu sampai ke depan pintu.

“Walah dik. Kamu ini sembrono. Jadi orang kok ndak pinter bohong. Lha tadi kalau pak Djat nelpon kan bisa ketahuan,” kata Barudin setelah tamu yang mencarinya pergi.

“Hihihi.. tadi kelepasan. Jadi sudah dengar semua kan percakapan tadi,” sahut isterinya sambil sedikit terkikik. Barudin mengangguk. Dia lalu menceritakan kenapa dia sudah kapok untuk menilep bahan-bahan bangunan dari proyeknya. Dia bercerita tentang mimpinya dan kesadaran yang tiba-tiba menggelitik nuraninya.

Pada awalnya, sang isteri juga protes karena penghentian praktek itu akan berdampak pada stabilitas cashflow belanjanya. Naga-naganya dia juga harus ikut bijaksana untuk menyesuaikan konsumsi pupur, pakaian, lauk pauk dan pernak pernik kebutuhan lainnya. Tetapi toh akhirnya dia memahami keputusan sang suami. Toh itu juga dulu janji yang telah dibuat berdua, untuk selalu bersama-sama dalam suka dan duka, dalam untung dan malang.

***

“Permisiii… Pakdhe.. permisiii!”

Barudin mengucap salam di rumah Pakde Kaspo sambil mengetuk-ngetuk pintunya. Pakde Kaspo adalah seorang veteran kemerdekaan, yang walaupun sudah tua namum tetap kelihatan sehat dan panca indra-nya masih cukup tajam semua. Dan dalam usianya yang sudah di ujung senja itu, dia masih mengawasi jalannya usaha percetakan genteng dan batako yang sudah lama dirintisnya. Sementara uang pensiunnya sudah diiklaskan untuk selau dikirim ke salah satu pantai asuhan di salah satu kawasan Menoreh.

“Ada apa Din? Mau menawarkan semen murah lagi? Jangan harap kalau aku mau. Aku tahu dari mana semen itu. Kamu beri gratispun tak akan sudi,” Pakde Kaspo membuka pintu dan langsung memberondongnya dengan kata-kata pedas. Wajahnya nampak kurang bersahabat. Barudin maklum saja. Pada orang-orang seperti dia, Pakde Kaspo memang nampak sangat benci. Dia menganggap mereka semua itu pengkhianat bangsa.

“Tidak kok dhe. Justru saya berani ke sini karena saya sudah menyadari perkataan-perkataan Pakdhe yang dulu-dulu. Saya sudah kapok.”
”Kapok?”
”Iya, tiba-tiba saya sadar kalau itu menyengsarakan orang banyak.”

“Bener kapok? Tidak takut melarat?”

“Kapok. Beneran kapok. Melarat ya tidak apa-apa. Yang penting hati tentram. Nanti kan juga bisa cari kerja sambilan kalau memang belum cukup. ”

“Bagus. Itu baru laki-laki namanya. Berani bersikap benar walau beresiko miskin”

“Iya, dhe. Pakdhe itu ndak ada kompromi ya soal begitu-begitu?”

“Lha sama pengkhianat kok kompromi. Mereka itu sama bangsa sendiri saja bisa setega itu. Dulu sewaktu jaman perjuangan fisik yang seperti itu juga sudah terjadi Din. Ada teman pakdemu ini yang dulu ngurusin logistik, tega-teganya dia njualin beras yang sangat terbatas itu dan hasilnya dipakai buat mencari pengaruh dan menyusun kekuatan untuk mendapatkan jabatan nantinya. Apa yang begitu itu ndak malu menyebut diri pejuang, wong adanya ya serba pamrih. Itu saja sudah keterlaluan. Apalagi sekarang ini. Betul-betul sangat keterlaluan. Baru jadi pemimpin sebentar saja, isteri, anak dan semua saudara-saudara dan teman-temannya sudah punya perusahaan. Ini jaman apa to Din…Din?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s