Arsip untuk Januari 11, 2011

Kecintaan Yassmin Abdel-Magied, 19 tahun, akan dunia balap sudah sedari kecil. Mahasiswa universitas Brisbane ini mengaku terpikat pada Ferari. “Aku suka mesin-mesin yang indah,” ujarnya.

Kini, Yassmin Abdel-Magied mencatatkan namanya sebagai Muslimah Australia pertama yang terjun di kancah Formula Satu (F1). Ia kerap menerima cibiran, bahwa ia hanya mencari sensasi. “Semua orang mengira itu bohongan,” katanya sambil tertawa.

Jangankan berada di atas mobil balap, memasuki lapangan balap saja, orang kerap melihat sebelah mata. Namun, ia tak peduli. “Balap sudah menjadi bagian hidup saya sejak enam tahun lalu,” ujarnya.

Yassmin tumbuh dalam keluarga imigran asal Sudan. Yassmin lahir di ibukota Sudan, Khartoum. Ayahnya adalah seorang insinyur listrik dan ibunya seorang arsitek.Orang tuanya membawanya ke Australia saat ia masih balita.

Beda dengan imigran yang lain, Abdel Magied kerap membawa anak perempuannya menekuni hobi lamanya, balap mobil. “Dia benar-benar pemecah sterotip,” ujarnya.

Kendati sibuk balapan, Yassmin tetap aktif kuliah. Ia kini duduk di tingkat akhir untuk meraih gelar sarjana teknik mesin di di University of Queensland. Gadis yang pernah dinobatkan sebagai The Young Queenslander of the Year pada tahun 2010, ini juga pelatih tim sepak bola Muslimah, Shinpads and Hijabs. Dia juga anggota dari Queensland Design Council dan di organisasi Youth Without Borders.

“Aku tidak pernah mendapatkan delapan jam tidur di malam hari,” katanya. “Tapi aku baik-baik saja dengan itu, saya menikmati sedang sibuk, saya menikmati membantu orang … bila anda ingin melakukan hal-hal bermanfaat, Anda akan selalu menemukan waktu untuk itu.”

Koran New York Times dalam sebuah laporannya, menyoroti perkembangan dan peningkatan pengaruh agama Islam di tengah berbagai lapisan masyarakat Amerika Serikat. Ditambahkannya, setiap tahun lebih dari 200 ribu orang di AS memeluk agama Islam.

Sebagaimana dilaporkan situs INN, Selasa (11/1), New York Times menulis, agama Islam terutama di kalangan para imigran dari Republik Dominican, Meksiko, Kuba dan Spanyol, mengalami perkembangan signifikan dan mayoritas orang-orang di AS yang memeluk Islam berasal dari Spanyol (Hispanik).

Seraya menjelaskan bahwa menurut sejumlah penelitian, lebih 200 ribu orang di AS memilih menjadi Muslim setiap tahunnya, New York Times menambahkan, salah seorang yang memutuskan memeluk Islam adalah Musa Franco, warga Kolumbia yang memilih agama Islam sejak usia 13 tahun.

Berdasarkan laporan ini, Miriam Celeste Colon, salah seorang perempuan Amerika yang memeluk Islam pada tahun 2002, mengatakan,”Saya telah mulai mendesain pakaian dengan metode Islami.”

Rodriguez, yang memutuskan masuk Islam pada tahun 2009, telah memulai memakai pakaian Muslimah dan aktif menghadiri acara-acara keagamaan.

Tidak hanya Indonesia saja yang bisa menaturalisasi Cristian Gonzales, striker kelahiran Uruguay, menjadi pemain timnas Merah Putih. Uruguay sebaliknya berpotenis menaturalisasi 15 pemain muda Indonesia yang sudah lama merumput di tanah kelahirannya Cristian Gonzales tersebut.

Seperti diberitakan Antara, ketentuan di Uruguay membolehkan seorang warga negara asing mengajukan permohonan kewarganegaraan apabila telah menetap selama tiga tahun. Setidaknya ada 15 pemain muda Indonesia yang telah tiga tahun berkiprah di Uruguay.

Soal pemain Indonesia yang akan dinaturalisasi Uruguay, Demis Djamaoeddin mengatakan bahwa pihaknya belum dapat berkomentar banyak soal itu. Manajer Timnas SAD itu hanya membenarkan bahwa dua pemain SAD, Syamsir Alam dan M Zainal Haq, akan memperkuat klub raksasa Uruguay Atletico Penarol.

Direkrutnya dua pemain SAD oleh klub Uruguay itu menjadi bukti bahwa Uruguay mulai melirik potensi pemain muda Indonesia. SAD (Sociedad Anónima Deportiva) merupakan kumpulan pemain sepak bola Indonesia usia 17 tahun yang menempa ilmu di Uruguay. Mereka juga bermain di kompetisi Uruguay.

Sebanyak 40 pemain muda Indonesia yang masuk dalam Timnas SAD akan berangkat ke Uruguay untuk mengikuti dua kompetisi resmi federasi sepak bola Uruguay musim ini. Total 40 pemain itu terdiri atas 19 pemain yang tergabung pada tahun sebelumnya dan 21 pemain baru hasil seleksi.

Striker Timnas Malaysia, Safee Sali, akan meninggalkan klubnya Selahor FC dan berkeinginan untuk tampil di salah satu klub Liga Super Indonesia. Dia sudah 70 persen akan hijrah. Namun hal itu terserah kepada perkembangan perbincangan antara klubnya Selangor dan klub-klub yang berminat, katanya kepada koran Utusan, Senin.

Safee menegaskan keinginannya untuk hijrah bukan karena Liga Malaysia tidak berkualitas, tapi berharap dapat bermain dalam liga di luar Malaysia, karena menyadari karir sepak bola adalah bersifat sementara. “Sebagai pemain profesional, kalau tak rebut peluang, rugilah. Peluang ini tidak datang selalu.Kalau dapat bermain di luar Malaysia, baru saya boleh uji kebolehan diri yang sebenar, di samping dapat mengembangkan cara permainan dan prestasi saya,” katanya.

Menurut pemenang sepatu emas Piala AFF Suzuki itu, tiga klub Liga Super Indonesia (ISL) yang berminat yakni Persib Bandung, Persib Balikpapan dan Pelita Jaya. Ia menambahkan, sebuah lagi klub dari Vietnam tapi tidak meneruskan hasrat mereka.

“Saya difahamkan tiga klub liga Indonesia masih berminat dan saya menyerahkan kepada Persatuan Bola Sepak Selangor (FAS) untuk menguruskan segala perbincangan perpindahan,” katanya. Safee masih mempunyai kontrak bersama Selangor sehingga November 2011. Klub-klub yang menginginkan Safee dapat menstranfernya.

Menurut Safee, seandainya perjanjian perpindahan tercapai, dia tidak akan berhijrah dalam waktu dekat, karena masih sempat bermain beberapa pertandingan untuk Selangor. Disinggung klub mana, Safee memilih Persib Bandung karena jaraknya yang dekat dengan Malaysia. “Saya juga mungkin membawa isteri dan anak bersama, tapi tengoklah keadaan dulu,” katanya.

Islam memainkan peran yang semakin penting dalam debat publik di Jerman. Di sebuah universitas Frankfurt, siswa dapat belajar tentang agama dengan cara ilmiah sebagai bagian dari program sarjana dalam teologi Islam.

Universitas Goethe Frankfurt telah memperkenalkan gelar sarjana tiga tahun untuk studi Islam, kuliah pertama di Jerman. Program ini menempatkan teologi Islam pada pijakan yang sama dengan teologi Kristen dan Yahudi di universitas-universitas Jerman. Tujuan mereka disebutkan untuk memberikan para siswa dengan pendekatan akademis dan ilmiah untuk suatu topik Islam.

Bagian dari inisiatif tahun lalu adalah mempromosikan studi Islam dan pelatihan para imam di universitas-universitas Jerman. Namun berbeda dengan lembaga program lainnya yang terlibat, Universitas Frankfurt belum menerima dana federal tambahan untuk program tersebut.

Dan tanda meningkatnya minat kepada Islam di Jerman, lebih dari 100 siswa telah mendaftar untuk semester pertama di Frankfurt, Jerman sendiri mempunyai populasi empat juga Muslim.

Namun jangan harap Islam yang diajarkan adalah seperti yang diajarkan di universitas-universitas di Timur Tengah atau Arab Saudi. Disini, untuk siswa Muslim, teologi Islam ini dianggap sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahaman mereka tentang agama dan budaya mereka sendiri secara rasional dan ilmiah.

“Biasanya, kita mendengar tentang segala sesuatu dalam bahasa asli kita sendiri di masjid atau di sekolah Qur’an. Sekarang kita akhirnya belajar tentang semua itu pada tingkat ilmiah dan dalam bahasa Jerman,” kata Urbe Tschi, 21 tahun mahasiswa program tersebut.

Program sarjana ini berfokus pada mengambil pandangan ilmiah pada Islam serta memberikan perspektif dari dalam dengan menggunakan profesor Islam. Universitas Frankfurt Goethe telah mengumumkan rencana untuk memperluas program di tahun-tahun selanjutnya, menawarkan para calon mahasiswa kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang Islam.

Kabar ini memang cukup menggembirakan di kalangan Muslim, bahwa Islam terus dipelajari di Eropa, namun kita juga jangan terlalu gembira, karena bisa saja studi ini dibuat untuk membelokkan makna Islam yang sebenarnya, seperti yang jamak terjadi di universitas-universitas di Indonesia. Banyak

universitas Islam di Indonesia namun melahirkan kader-kader liberal yang malah semakin merusak nilai Islam. Mereka mulai mengkoreksi Al Qur’an dan mempelajari Islam bukan untuk mencari kebenaran tapi untuk mendistorsi ajaran Islam.