Gadis Pembawa Apel

Posted: Januari 6, 2011 in Kumpulan Cerita

Kisah Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida.
Bulan Agustus 1942, di Piotrkow, Polandia.

Langit mendung pagi itu ketika kami menunggu dengan gelisah.
Semua pria, wanita dan anak-anak dari perkampungan Yahudi Piotrokow telah digiring ke arah sebuah lapangan. Menurut kabar yang terdengar, kami akan dipindahkan. Ayahku baru saja meninggal karena penyakit tifus, yang berjangkit dengan ganas di perkampungan yang padat ini.
Ketakutanku yang paling besar adalah apabila keluarga kami dipisahkan.
“Apapun yang kamu lakukan,” Isidore, kakakku yang tertua, berbisik,
“jangan sebutkan umurmu yang sebenarnya. Katakan saja kamu enam belas tahun!”
Aku termasuk anak lelaki yang tinggi untuk umur 11 tahun, sehingga aku dapat menuakan diri. Mungkin dengan cara ini aku dianggap menjadi pekerja yang berguna.

Seorang serdadu Nazi menghampiriku, derap sepatu boot-nya menghentak di bebatuan.
Ia memandangku dari atas ke bawah, kemudian menanyakan umurku. “Enam belas,” jawabku.
Ia menyuruhku ke sisi kiri, dimana tiga kakakku dan para pria lain yang sehat sudah berbaris.

Ibuku dikumpulkan di sebelah kanan bersama para wanita lain, anak-anak, orang-orang sakit dan orang-orang tua. Aku berbisik kepada Isidore, “Kenapa?” tanyaku.
Ia tidak menjawab. Aku berlari ke arah mama dan berkata bahwa aku ingin ikut dengannya.
“Jangan!” katanya dengan tegas. “Pergilah. Jangan mengganggu.
Pergilah bersama kakak-kakakmu.” Ibu tak pernah berkata dengan keras seperti itu
sebelumnya. Tetapi aku mengerti. Ia sedang melindungiku. Ia mengasihiku sedemikian
besar, sehingga kali ini ia berpura-pura sebaliknya.
Itulah kali terakhir aku melihat ibu.

Kakak-kakakku dan aku sendiri dipindahkan dalam truk ternak ke Jerman. Kami tiba di Kamp Konsentrasi Buchenwald pada malam hari seminggu kemudian dan kami digiring ke sebuah barak yang sesak. Hari berikutnya, kami diberi pakaian seragam dan nomor pengenal. “Jangan panggil aku Herman lagi.”
kataku kepada kakak-kakakku. “Panggil saja si 94983”.
Aku ditugaskan untuk bekerja di bagian krematorium di kamp itu, mengangkut jenazah ke dalam elevator yang digerakkan tangan.
Aku juga merasa sudah mati. Hatiku beku, aku telah menjadi sebuah angka belaka.

Segera aku dan kakak-kakakku dikirim ke Schlieben, salah satu cabang kamp Buchenwald,
dekat Berlin.

Pada suatu pagi aku pikir aku mendengar suara ibuku. “Nak,”
Katanya dengan lembut namun jelas, “aku mengirimkan kepadamu seorang malaikat.”
Kemudian aku bangun. Cuma mimpi. Mimpi yang indah.
Namun di tempat seperti ini mana ada malaikat? Yang ada hanya bekerja. Dan kelaparan. Dan ketakutan.

Beberapa hari kemudian, aku sedang berjalan-jalan keliling kamp, di belakang barak-barak, dekat pagar yang beraliran listrik dimana para penjaga tidak mudah melihat. Aku sendirian. Di seberang pagar itu, aku melihat seseorang:
seorang gadis muda dengan rambut ikal yang berkilauan.
Ia setengah bersembunyi di belakang pohon murad.
Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihatku.

Aku memanggilnya pelan-pelan dalam bahasa Jerman. “Apakah kamu punya makanan?”
Ia tidak mengerti. Aku bergeser sedikit ke arah pagar dan mengulangi pertanyaan tadi
dalam bahasa Polandia. Ia melangkah maju. Aku kurus kering, dengan kain rombeng menutup sekeliling kakiku, namun gadis itu nampak tidak ketakutan.
Di matanya kulihat kehidupan. Ia mengambil sebutir apel dari jaket wolnya dan melemparkannya ke arah pagar. Aku menangkap buah itu, dan begitu aku akan berlari
menjauh, aku mendengar perkataannya yang lemah, “Aku akan ketemu kamu lagi besok.”

Aku kembali lagi ke tempat yang sama dekat pagar itu pada waktu yang sama setiap hari.
Ia selalu ada di sana dengan makanan buatku: sepotong roti atau, lebih bagus lagi,
sebutir apel. Kami tidak berani ngobrol atau berlama-lama. Kalau kami tertangkap,
kami bisa mati. Aku tidak mengenal gadis itu, ia cuma gadis desa, kecuali bahwa
ia mengerti bahasa Polandia. Siapa namanya? Mengapa ia mempertaruhkan nyawanya
bagiku? Aku selalu berharap akan pemberian makanannya yang dilemparkan gadis
ini dari seberang pagar, sebagai makanan yang menyehatkan dalam bentuk roti dan apel.

Hampir tujuh bulan kemudian, kakak-kakakku dan aku dimuat ke dalam sebuah kereta batu
bara dan dikapalkan ke kamp Theresienstadt di Cekoslovakia.
“Jangan datang lagi,” kataku kepada gadis itu. “Kami akan pergi besok.”
Aku berbalik menuju barak-barak dan tak menoleh ke belakang lagi, bahkan aku juga tidak mengatakan selamat tinggal kepada gadis yang aku tak tahu namanya, gadis pembawa apel itu.

Kami berada di Theresienstadt selama tiga bulan. Perang mulai mereda dan pasukan Sekutu mulai mendekat, namun nasibku rupanya sudah ditentukan. Pada tanggal 10 Mei, 1945,
aku sudah dijadwalkan untuk mati di kamar gas pada jam 10 pagi. Di dalam ketenangan fajar pagi hari, aku berusaha mempersiapkan diriku. Begitu sering kematian nampaknya sudah siap menjemputku, namun agaknya aku selalu selamat. Kini, semuanya sudah selesai.
Aku memikirkan orangtuaku. Paling tidak, aku pikir kami akan dipertemukan di akhirat.

Pada jam 8 pagi ada keributan. Aku mendengar teriakan, dan melihat orang-orang Berlarian ke segala arah ke luar kamp. Aku pergi bersama kakak-kakakku.
Pasukan Rusia telah membebaskan kamp ini! Pintu kamp terbuka lebar. Setiap orang berlarian, begitu juga aku.

Secara mengherankan, semua kakak-kakakku selamat. Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Namun aku tahu bahwa gadis pemberi apel itu telah menjadi kunci bagi kelangsungan hidupku. Di tempat yang nampaknya kejahatan merajalela, kebaikan seseorang telah menyelamatkan hidupku, telah memberiku harapan di tempat dimana tidak ada harapan. Ibuku telah berjanji mengirimkan seorang malaikat, Dan malaikat itu telah datang.

Akhirnya aku mencapai Inggeris dimana aku disponsori oleh sebuah yayasan Yahudi,
diinapkan di sebuah hostel dengan para pemuda lain yang telah selamat dari Pembantaian Massal dan dilatih di bidang elektronika. Kemudian aku pergi ke Amerika, dimana kakakku Sam telah lebih dahulu pindah. Aku masuk dinas ketentaraan Amerika Serikat selama Perang Korea, dan kembali ke Kota New York setelah dua tahun.
Pada bulan Agustus 1957 aku membuka toko servis elektronika milikku sendiri. Aku mulai hidup menetap.

Pada suatu hari, temanku Sid, yang aku kenal di Inggeris, menelponku.
“Aku punya teman kencan. Gadis ini punya kenalan seorang Polandia.
Yuk, kita ajak kencan mereka berdua.” Kencan buta? Tidak, bukan untukku.
Namun Sid terus mendesakku, dan beberapa hari kemudian kami pergi menuju Bronx untuk menjemput teman kencannya dan temannya Roma. Aku harus mengakui bahwa,
untuk kencan buta seperti ini tidaklah terlalu buruk.
Roma adalah seorang perawat di RS Bronx. Ia gadis yang baik dan cerdas.
Juga cantik dengan rambut ikal yang cokelat, dan dengan bola mata hijau seperti buah
badam yang berkilauan dengan kehidupan.

Kami berempat pergi ke Pulau Coney. Roma adalah gadis yang mudah diajak berbicara,
enak diajak bergaul. Ia juga ternyata bosan dengan kencan buta!
Kami berdua hanya menolong para sahabat kami. Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai,
menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari Samudera Atlantik, Dan kemudian makan malam di pantai. Aku tak dapat mengingat saat yang lebih indah lagi.

Kami semua bergegas menuju mobil Syd, aku dan Roma duduk di kursi belakang.
Sebagai seorang Yahudi Eropa yang telah selamat dari perang, kami menyadari bahwa banyak hal yang belum kami bicarakan di antara kami.
Ia memulai topik itu ketika ia bertanya, “Dimana kamu,” tanyanya lembut, “ketika perang?”
“Di kamp,” kataku, sambil mengingat kenangan mengerikan yang masih jelas terekam,
kehilangan keluarga yang tak terpulihkan. Aku telah berjuang untuk melupakannya.
Namun kita tak dapat melupakannya.

Ia mengangguk. “Keluargaku bersembunyi di sebuah peternakan di Jerman, tak jauh dari Berlin,” katanya kepadaku. “Ayahku mengenal seorang pendeta, Dan ia memberikan kami dokumen-dokumen keturunan Jerman.”

Aku dapat membayangkan betapa ia harus menanggung penderitaan juga, ketakutan yang selalu menyertai. Dan sekarang di sinilah kami, berdua selamat, di dunia yang baru. “Di sana ada sebuah kamp di dekat peternakan itu.”
Roma melanjutkan. “Aku melihat seorang anak laki-laki dan aku melemparkan apel
kepadanya setiap hari.” Kebetulan yang sangat mengherankan kalau ia menolong anak
lelaki lain. “Seperti apa rupa anak lelaki itu?” tanyaku. “Ia tinggi, kurus, kelaparan. Aku pasti menemuinya setiap hari selama enam bulan.”
Hatiku berdetak kencang. Aku tak dapat mempercayainya! Mustahil.
“Apakah ia mengatakan kepadamu pada suatu hari bahwa kamu tidak perlu menemuinya
Lagi karena ia harus meninggalkan Schlieben?” Roma menatapku dengan heran.
“Ya.”
“Dialah aku!” Aku meluap dengan sukacita dan keheranan, perasaanku berkecamuk hebat.
Aku tak percaya. Malaikatku!

“Aku tak akan membiarkanmu pergi.” kataku kepada Roma. Dan di kursi belakang mobil
itu dalam suasana kencan buta, aku melamar Roma. Aku tidak ingin menunggu lagi.
“Kamu gila ya!” katanya tertawa. Namun ia mengajakku menemui orangtuanya dalam suatu makan malam Sabat pada minggu berikutnya.

Banyak hal yang ingin kuketahui tentang Roma, namun hal yang paling penting aku Ketahui: keteguhan hatinya, kebaikannya. Selama beberapa bulan, di dalam keadaan yang terburuk, ia selalu datang ke pagar dan memberikanku pengharapan.
Sekarang aku telah menemukannya lagi, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Pada hari itu, ia menyetujui lamaranku. Dan aku selalu setia pada janjiku.
Setelah hampir lima puluh tahun perkimpoian kami, dengan dua orang anak dan tiga cucu,
aku tidak pernah membiarkannya pergi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s