Arsip untuk Januari 6, 2011

Gadis Pembawa Apel

Posted: Januari 6, 2011 in Kumpulan Cerita

Kisah Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida.
Bulan Agustus 1942, di Piotrkow, Polandia.

Langit mendung pagi itu ketika kami menunggu dengan gelisah.
Semua pria, wanita dan anak-anak dari perkampungan Yahudi Piotrokow telah digiring ke arah sebuah lapangan. Menurut kabar yang terdengar, kami akan dipindahkan. Ayahku baru saja meninggal karena penyakit tifus, yang berjangkit dengan ganas di perkampungan yang padat ini.
Ketakutanku yang paling besar adalah apabila keluarga kami dipisahkan.
“Apapun yang kamu lakukan,” Isidore, kakakku yang tertua, berbisik,
“jangan sebutkan umurmu yang sebenarnya. Katakan saja kamu enam belas tahun!”
Aku termasuk anak lelaki yang tinggi untuk umur 11 tahun, sehingga aku dapat menuakan diri. Mungkin dengan cara ini aku dianggap menjadi pekerja yang berguna.

Seorang serdadu Nazi menghampiriku, derap sepatu boot-nya menghentak di bebatuan.
Ia memandangku dari atas ke bawah, kemudian menanyakan umurku. “Enam belas,” jawabku.
Ia menyuruhku ke sisi kiri, dimana tiga kakakku dan para pria lain yang sehat sudah berbaris.

Ibuku dikumpulkan di sebelah kanan bersama para wanita lain, anak-anak, orang-orang sakit dan orang-orang tua. Aku berbisik kepada Isidore, “Kenapa?” tanyaku.
Ia tidak menjawab. Aku berlari ke arah mama dan berkata bahwa aku ingin ikut dengannya.
“Jangan!” katanya dengan tegas. “Pergilah. Jangan mengganggu.
Pergilah bersama kakak-kakakmu.” Ibu tak pernah berkata dengan keras seperti itu
sebelumnya. Tetapi aku mengerti. Ia sedang melindungiku. Ia mengasihiku sedemikian
besar, sehingga kali ini ia berpura-pura sebaliknya.
Itulah kali terakhir aku melihat ibu.

Kakak-kakakku dan aku sendiri dipindahkan dalam truk ternak ke Jerman. Kami tiba di Kamp Konsentrasi Buchenwald pada malam hari seminggu kemudian dan kami digiring ke sebuah barak yang sesak. Hari berikutnya, kami diberi pakaian seragam dan nomor pengenal. “Jangan panggil aku Herman lagi.”
kataku kepada kakak-kakakku. “Panggil saja si 94983”.
Aku ditugaskan untuk bekerja di bagian krematorium di kamp itu, mengangkut jenazah ke dalam elevator yang digerakkan tangan.
Aku juga merasa sudah mati. Hatiku beku, aku telah menjadi sebuah angka belaka.

Segera aku dan kakak-kakakku dikirim ke Schlieben, salah satu cabang kamp Buchenwald,
dekat Berlin.

Pada suatu pagi aku pikir aku mendengar suara ibuku. “Nak,”
Katanya dengan lembut namun jelas, “aku mengirimkan kepadamu seorang malaikat.”
Kemudian aku bangun. Cuma mimpi. Mimpi yang indah.
Namun di tempat seperti ini mana ada malaikat? Yang ada hanya bekerja. Dan kelaparan. Dan ketakutan.

Beberapa hari kemudian, aku sedang berjalan-jalan keliling kamp, di belakang barak-barak, dekat pagar yang beraliran listrik dimana para penjaga tidak mudah melihat. Aku sendirian. Di seberang pagar itu, aku melihat seseorang:
seorang gadis muda dengan rambut ikal yang berkilauan.
Ia setengah bersembunyi di belakang pohon murad.
Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihatku.

Aku memanggilnya pelan-pelan dalam bahasa Jerman. “Apakah kamu punya makanan?”
Ia tidak mengerti. Aku bergeser sedikit ke arah pagar dan mengulangi pertanyaan tadi
dalam bahasa Polandia. Ia melangkah maju. Aku kurus kering, dengan kain rombeng menutup sekeliling kakiku, namun gadis itu nampak tidak ketakutan.
Di matanya kulihat kehidupan. Ia mengambil sebutir apel dari jaket wolnya dan melemparkannya ke arah pagar. Aku menangkap buah itu, dan begitu aku akan berlari
menjauh, aku mendengar perkataannya yang lemah, “Aku akan ketemu kamu lagi besok.”

Aku kembali lagi ke tempat yang sama dekat pagar itu pada waktu yang sama setiap hari.
Ia selalu ada di sana dengan makanan buatku: sepotong roti atau, lebih bagus lagi,
sebutir apel. Kami tidak berani ngobrol atau berlama-lama. Kalau kami tertangkap,
kami bisa mati. Aku tidak mengenal gadis itu, ia cuma gadis desa, kecuali bahwa
ia mengerti bahasa Polandia. Siapa namanya? Mengapa ia mempertaruhkan nyawanya
bagiku? Aku selalu berharap akan pemberian makanannya yang dilemparkan gadis
ini dari seberang pagar, sebagai makanan yang menyehatkan dalam bentuk roti dan apel.

Hampir tujuh bulan kemudian, kakak-kakakku dan aku dimuat ke dalam sebuah kereta batu
bara dan dikapalkan ke kamp Theresienstadt di Cekoslovakia.
“Jangan datang lagi,” kataku kepada gadis itu. “Kami akan pergi besok.”
Aku berbalik menuju barak-barak dan tak menoleh ke belakang lagi, bahkan aku juga tidak mengatakan selamat tinggal kepada gadis yang aku tak tahu namanya, gadis pembawa apel itu.

Kami berada di Theresienstadt selama tiga bulan. Perang mulai mereda dan pasukan Sekutu mulai mendekat, namun nasibku rupanya sudah ditentukan. Pada tanggal 10 Mei, 1945,
aku sudah dijadwalkan untuk mati di kamar gas pada jam 10 pagi. Di dalam ketenangan fajar pagi hari, aku berusaha mempersiapkan diriku. Begitu sering kematian nampaknya sudah siap menjemputku, namun agaknya aku selalu selamat. Kini, semuanya sudah selesai.
Aku memikirkan orangtuaku. Paling tidak, aku pikir kami akan dipertemukan di akhirat.

Pada jam 8 pagi ada keributan. Aku mendengar teriakan, dan melihat orang-orang Berlarian ke segala arah ke luar kamp. Aku pergi bersama kakak-kakakku.
Pasukan Rusia telah membebaskan kamp ini! Pintu kamp terbuka lebar. Setiap orang berlarian, begitu juga aku.

Secara mengherankan, semua kakak-kakakku selamat. Aku tidak tahu bagaimana caranya.
Namun aku tahu bahwa gadis pemberi apel itu telah menjadi kunci bagi kelangsungan hidupku. Di tempat yang nampaknya kejahatan merajalela, kebaikan seseorang telah menyelamatkan hidupku, telah memberiku harapan di tempat dimana tidak ada harapan. Ibuku telah berjanji mengirimkan seorang malaikat, Dan malaikat itu telah datang.

Akhirnya aku mencapai Inggeris dimana aku disponsori oleh sebuah yayasan Yahudi,
diinapkan di sebuah hostel dengan para pemuda lain yang telah selamat dari Pembantaian Massal dan dilatih di bidang elektronika. Kemudian aku pergi ke Amerika, dimana kakakku Sam telah lebih dahulu pindah. Aku masuk dinas ketentaraan Amerika Serikat selama Perang Korea, dan kembali ke Kota New York setelah dua tahun.
Pada bulan Agustus 1957 aku membuka toko servis elektronika milikku sendiri. Aku mulai hidup menetap.

Pada suatu hari, temanku Sid, yang aku kenal di Inggeris, menelponku.
“Aku punya teman kencan. Gadis ini punya kenalan seorang Polandia.
Yuk, kita ajak kencan mereka berdua.” Kencan buta? Tidak, bukan untukku.
Namun Sid terus mendesakku, dan beberapa hari kemudian kami pergi menuju Bronx untuk menjemput teman kencannya dan temannya Roma. Aku harus mengakui bahwa,
untuk kencan buta seperti ini tidaklah terlalu buruk.
Roma adalah seorang perawat di RS Bronx. Ia gadis yang baik dan cerdas.
Juga cantik dengan rambut ikal yang cokelat, dan dengan bola mata hijau seperti buah
badam yang berkilauan dengan kehidupan.

Kami berempat pergi ke Pulau Coney. Roma adalah gadis yang mudah diajak berbicara,
enak diajak bergaul. Ia juga ternyata bosan dengan kencan buta!
Kami berdua hanya menolong para sahabat kami. Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai,
menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari Samudera Atlantik, Dan kemudian makan malam di pantai. Aku tak dapat mengingat saat yang lebih indah lagi.

Kami semua bergegas menuju mobil Syd, aku dan Roma duduk di kursi belakang.
Sebagai seorang Yahudi Eropa yang telah selamat dari perang, kami menyadari bahwa banyak hal yang belum kami bicarakan di antara kami.
Ia memulai topik itu ketika ia bertanya, “Dimana kamu,” tanyanya lembut, “ketika perang?”
“Di kamp,” kataku, sambil mengingat kenangan mengerikan yang masih jelas terekam,
kehilangan keluarga yang tak terpulihkan. Aku telah berjuang untuk melupakannya.
Namun kita tak dapat melupakannya.

Ia mengangguk. “Keluargaku bersembunyi di sebuah peternakan di Jerman, tak jauh dari Berlin,” katanya kepadaku. “Ayahku mengenal seorang pendeta, Dan ia memberikan kami dokumen-dokumen keturunan Jerman.”

Aku dapat membayangkan betapa ia harus menanggung penderitaan juga, ketakutan yang selalu menyertai. Dan sekarang di sinilah kami, berdua selamat, di dunia yang baru. “Di sana ada sebuah kamp di dekat peternakan itu.”
Roma melanjutkan. “Aku melihat seorang anak laki-laki dan aku melemparkan apel
kepadanya setiap hari.” Kebetulan yang sangat mengherankan kalau ia menolong anak
lelaki lain. “Seperti apa rupa anak lelaki itu?” tanyaku. “Ia tinggi, kurus, kelaparan. Aku pasti menemuinya setiap hari selama enam bulan.”
Hatiku berdetak kencang. Aku tak dapat mempercayainya! Mustahil.
“Apakah ia mengatakan kepadamu pada suatu hari bahwa kamu tidak perlu menemuinya
Lagi karena ia harus meninggalkan Schlieben?” Roma menatapku dengan heran.
“Ya.”
“Dialah aku!” Aku meluap dengan sukacita dan keheranan, perasaanku berkecamuk hebat.
Aku tak percaya. Malaikatku!

“Aku tak akan membiarkanmu pergi.” kataku kepada Roma. Dan di kursi belakang mobil
itu dalam suasana kencan buta, aku melamar Roma. Aku tidak ingin menunggu lagi.
“Kamu gila ya!” katanya tertawa. Namun ia mengajakku menemui orangtuanya dalam suatu makan malam Sabat pada minggu berikutnya.

Banyak hal yang ingin kuketahui tentang Roma, namun hal yang paling penting aku Ketahui: keteguhan hatinya, kebaikannya. Selama beberapa bulan, di dalam keadaan yang terburuk, ia selalu datang ke pagar dan memberikanku pengharapan.
Sekarang aku telah menemukannya lagi, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi.
Pada hari itu, ia menyetujui lamaranku. Dan aku selalu setia pada janjiku.
Setelah hampir lima puluh tahun perkimpoian kami, dengan dua orang anak dan tiga cucu,
aku tidak pernah membiarkannya pergi.

John Blanford berdiri tegak dari bangku di Stasiun Kereta Api sambil melihat ke arah jarum jam, pukul 6 kurang 6 menit. John sedang menunggu seorang gadis yang dekat dalam hatinya tetapi tidak mengenal wajahnya, seorang gadis dengan setangkai mawar.
.
Lebih dari setahun yang lalu John membaca buku yang dipinjam dari Perpustakaan. Rasa ingin tahunya terpancing saat ia melihat coretan tangan yang halus di buku tersebut. Pemilik terdahulu buku tersebut adalah seorang gadis bernama Hollis Molleon. Hollis
tinggal di New York dan John di Florida John mencoba menghubungi sang gadis dan mengajaknya untuk saling bersurat. Beberapa hari kemudian, John dikirim ke medan perang, Perang Dunia II. Mereka terus saling menyurati selama hampir 1 tahun. Setiap surat seperti layaknya bibit yang jatuh di tanah yang subur dalam hati masing2 dan jalinan cinta merekapun tumbuh.
.
John berkali-kali meminta agar Hollis mengirimkannya sebuah foto. Tetapi sang gadis selalu menolak, kata sang gadis “Kalau perasaan cintamu tulus John, bagaimanapun rupaku tidak akan merubah perasaan itu, kalau saya cantik selama hidup saya akan
bertanya-tanya apakah mungkin perasaanmu itu hanya karena saya cantik saja, kalau saya biasa2 atau cenderung jelek, saya takut kamu akan terus menulis hanya karena kesepian dan tidak ada orang lain lagi dimana kamu bisa mengadu. Jadi sebaiknya kamu tidak usah tahu bagaimana rupa saya. Sekembalinya kamu ke New York nanti kita akan bertemu
muka. Pada saat itu kita akan bebas untuk menentukan apa yang akan kita lakukan.”
.
Mereka berdua membuat janji untuk bertemu di Stasiun Pusat di New York pukul 6 sore setelah perang usai. “Kamu akan mengenali saya, John, karena saya akan menyematkan setangkai bunga mawar merah pada kera bajuku”, kata Nona Hollis.
.
Pukul 6 kurang 1 menit sang perwira muda semakin gelisah, tiba2 jantungnya hampir copot, dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik berbaju hijau lewat di depannya, tubuhnya ramping, rambutnya pirang bergelombang, matanya biru seperti langit, luar
biasa cantiknya…. Sang perwira mulai menyusul sang gadis, dia bahkan tidak menghiraukan kenyataan bahwa sang gadis tidak mengenakan bunga mawar seperti yang telah disepakati. Hanya tinggal 1 langkah lagi kemudian John melihat seorang wanita berusia 40 tahun mengenakan sekumtum mawar merah di kerahya. “O…. itu Hollis!!!!”
.
Rambutnya sudah mulai beruban dan agak gemuk. Gadis berbaju hijau hampir menghilang. Perasaan sang perwira mulai terasa terbagi 2 ingin lari mengejar sang gadis cantik tetapi pada sisi lain tidak ingin menghianati Hollis yang lembut dan telah setia menemaninya selama perang. Tanpa berpikir panjang, John berjalan menghampiri wanita yang berusia setengah baya itu dan menyapanya “Nama saya John Blanford, anda tentu saja Nona Hollis, bahagia sekali bisa bertemu dengan anda, maukah anda makan malam bersama saya?” Sang wanita tersenyum ramah dan berkata “Anak muda, saya tidak tahu apa artinya semua ini, tetapi seorang gadis yang berbaju hijau yang baru saja lewat memaksa saya untuk mengenakan bunga mawar ini dan dia mengatakan kalau anda mengajak saya makan maka saya diminta untuk memberitahu anda bahwa dia menunggu anda di restoran di ujung jalan ini, katanya semua ini hanya ingin menguji anda.”

True Love Story

Posted: Januari 6, 2011 in Kumpulan Artikel Cinta

TRUE LOVE ITU ADA TERGANTUNG KITA MAU PERCAYA APA TIDAK
BERIKUT INI KISAH NYATA TENTANG TRUE LOVE YG DIDAPAT DARI ARTIKEL CHIKEN SOUP OF SOUL

1.True Love 1
Franz seorang pria yg sukses , di H+1 Hari pernikahannya kekasihnya mengalami Kecelakaan , kekasihnya berhasil diselamatkan….tapi hal mengerikan terjadi …kekasihnya mengidap penyakit AIDS karena tranfusi darah ….. Sebuah dilemma buat Franz untuk menikahi kekasihnya …tapi karena besarnya Cinta ( Frans anak tunggal ) tetap menikahi kekasihnya , Ia tau IA tidak akan pernah memiliki keturunan …bayangkan pernikahan tanpa hubungan suami istri ??? (kasus sekarang saja byk pasutri cerai gara2 hal ini) , tapi pasangan ini menjalaninya dengan bahagia tanpa Ada keributan , Franz tetap menjalaninya dengan tulus penuh cinta tanpa Ada rasa penyesalan , IA memperlakukan istrinya hampir seperti Ratu .. …7 tahun usia pernikahnnya sampai istri tercintanya meninggal …Franz tetap setia …. ( Ia memilih tidak menikah lagi ) …

( Duda kaya … byk gadis yg menyukainya ..tapi The True Love kadang membuat seseorang menjadi aneh. Kadang cinta sejati tidak memerlukan seks …remember that … !

2. True Love 2
Dave yang harus menerima kenyataan Istrinya mengalami penyakit yg mengerikan sehingga membuat istrinya “Amnesia bahkan Gila ” …..sehingga Ia harus meluangkan waktunya untuk istrinya ..Istrinya yg dulu selalu ceria …baik , mengerti , sekarang menjadi Gila …ini benar2 membuatnya terpukul …. Dave Selalu berdoa berharap istrinya dapat sembuh lagi ….
Suatu Hari saat pulang kerja Dave melihat rumahnya berantakan sepertinya byk anak kecil di rumah , IA membereskan rumah ..tanpa berkata apapun …sebenarnya Hari ini benar2 Hari yg sangat tidak menyenangkan ..bagaimana tidak ..di kantor dia dimarahi atasannya dengan kata2nya yg pedas , Dan rekan2 sekantornya yg selalu menyindir IA memiliki istri yg Gila .. Tetap setia ..sehingga dengan usil teman2nya mengolok-ngolok Dave seorang banci ..impoten ..Dave hanya diam …di dlm hatinya dia merasa sedih ..tapi IA percaya istrinya akan sembuh … , Saat merapikan rumahnya Matanya tertuju pada sobekan kertas ….IA melihatnya ..Dan itu adalah ARSIP PENTING salah Satu Surat Perjanjian Kontrak ….Dave ingin berteriak melihat arsip itu tersobek kecil2 ..IA mencari istrinya, Dan tanpa sadar IA memarahi habis2an istrinya yang sudah menyobek arsip kantornya … Istrinya hanya menatapnya …diam ..tak berkata apapun …Dave memandang Mata istrinya , Mata coklatnya yg indah ..kini tampak berkaca-kaca ….
” ya Tuhan apa yg kulakukan ..istriku sedang sakit kenapa aku begitu emosi … , kalau dia normal dia takkan melakukan hal bodoh ini ” ..Dave memandang istrinya ..lalu memeluknya
” my dear forgive me … ” IA memeluk erat istrinya ..IA menghapus air Mata istrinya ..Mata istrinya berbinar melihat Dave tersenyum padanya … ..sepanjang mlm Dave menyesali perbuatannya …istrinya sedang sakit ..dia tidak tau siapa dirinya dia tidak tau siapa Dave ….??Ia berdoa lalu tertidur …IA berharap Tuhan mau mengampuninya ..Dan mau menyembuhkan istrinya …
Pagi itu Dave bangun Dan mulai melakukan hal yg seharusnya dilakukan perempuan …. , saat Dave mencuci piring IA mendengar suara istrinya
“Dave … ?”
Dave menoleh IA melihat istrinya tersenyum padanya …
” sayang Kau …. Kau ingat siapa aku ???
“Dave .. Maafkan aku mungkin selama ini aku sungguh merepotkanmu ”
Dave berlonjak memeluk istrinya , menciumnya , IA sangat bahagia … ” Tidak sayang …kau tidak merepotkan ..aku mencintaimu..sangat mencintaimu ….”
Dave memeluk istrinya …istrinya pun memeluk erat Dave ..Dan berbisik ” aku sangat mencintaimu Dave …..”
Dave memeluk istrinya seerat mungkin …namun dirasakannya pelukan istrinya terlepas … ” sayang …. ??? Tak Ada jawaban…Dave melihat istrinya ..Istrinya terpejam bibirnya tersenyum , wajahnya tenang …. Ia telah pergi . Dave menagis … ” sayang …aku tetap mencintaimu …pegilah dengan tenang bawa cintaku ..bawa hatiku …” IA memeluk tubuh istrinya yg sudah tak bernyawa … benar2 pagi kelabu
Dan sampai saat ini Dave menetap di San Fransico tetap sebagai Dave Wilson dengan status duda Dan tak mau..takkan pernah menikah lagi ….

3 True Love 3
Kisah ini terjadi di Beijing Cina … seorang gadis bernama Yo Yi Mei ….memiliki cinta terpendam terhadap teman karibnya di masa sekolah …namun IA tidak pernah mengungkapkannya …Ia hanya selalu menyimpan di dlm hati berharap temannya bisa mengetahuinya sendiri …tapi sayang temannya tak pernah mengetahuinya ..hanya menganggapnya sebagai sahabat ..tak lebih … suatu Hari … Yo Yi Mei mendengar bahwa sahabatnya akan segera menikah hatinya sesak …tapi IA tersenyum ” aku harap kau bahagia ” ….sepanjang Hari Yo Yi mei bersedih …IA menjadi tidak Ada semangat hidup …. Tapi dia selalu mendoakan kebahagiaan sahabatnya …
12 Juli 1994 sahabatnya memberikan contoh undangan pernikahannya yg akan segera dicetak kepada Yi mei …IA berharap Yi Mei akan datang …sahabatnya melihat Yi Mei yang menjadi sangat kurus Dan tidak ceria bertanya ” apa yg terjadi dengamu , kau Ada masalah ??? , Yi mei tersenyum semanis mungkin…” kau salah lihat ..aku tak punya masalah apa – apa …wah contoh undanganya bagus .. Tapi aku lebih setuju jika kau pilih warna merah muda lebih lembut …” Ia mengomentari rencana undangan sahabatnya .. Sahabatnya tersenyum ” oh ya …ummm aku kan menggantinya … , terimakasih atas sarannya …. Mei ..aku harus pegi menemui calon istriku Hari ini kami Ada rencana melihat2 perabotan rumah … daah ” Yi Mei tersenyum … melambaikan tangan .. Ia pulang dengan hati yg sakit sangat sakit ….
18 Juli 1994 ..Yi Mei terbaring di rumah sakit … Ia mengalami koma , Yi Mei mengidap kanker darah stadium akhir … , kecil harapan Yi Mei untuk hidup …semua organnya yg berfungsi hanya pendengaran , dan otaknya …yg lain bisa dikatakan “mati ” dan semuanya memiliki alat bantu … , hanya muzizat yg bisa menyembuhkannya …sahabatnya setiap hari menjenguknya … menunggunya …bahkan ia menunda pernikahannya ..baginya …Yi Mei adalah tamu penting dlm pernikahannya …, keluaga Yi Mei sendiri setuju memberikan “suntik Mati ” untuk Yi Mei ..krn tak tahan melihat penderitaan Yi Mei …
10 Desember 1994 …semua keluarga setuju besok 11 Desember 1994 Yi Mei akan disuntik mati ..dan semua sudah ikhlas … hanya sahabat Yi Mei yg mohon diberi kesempatan … berbicara yg terakhir …… sahabatnya menatap Yi Mei yg dulu selalu bersama …. Ia mendekat berbisik … di telinga Yi Mei
” Mei apa kau ingat waktu kita mencari belalang , menangkap kupu2….. ? kau tahu ..aku tak pernah lupa hal itu , dan apa kau ingat waktu disekolah waktu kita dihukum bersama gara2 kita datang terlambat ….kita langganan kena hukum ya ?apa kau ingat juga waktu aku mengejekmu ..kau terjatuh di lumpur saat kau ikut lomba lari,kau marah dan mendorongku hingga akupun kotor ?apakah kau ingat aku selalu mengerjakan PR di rumahmu ? aku tak pernah melupakan hal itu … , Mei .. aku ingin kau sembuh … aku ingin kau bisa tersenyum seperti dulu …aku sangat suka lesung pipitmu yg manis … kau tega meninggalkan sahabatmu ini ??? tanpa sadar sahabat Yi Mei menangis , air matanya menetes membasahi wajah yi Mei …. ” Mei ..kau tau ..kau sangat berarti untukku …aku tak setuju kau disuntik mati , rasanya aku ingin membawamu kabur dari rumah sakit ini … aku ingin kau hidup ……, kau tau kenapa ??? krn aku sangat mencintaimu …aku takut mengungkapkan padamu , takut kau menolakku ……meskipun aku tau kau tidak mencintaiku … aku tetap ingin kau hidup …. Aku ingin kau hidup .. …, Mei tolonglah …. Dengarkan aku Mei … bangunlah …. !! sahabatnya menangis …… ia menggengam kuat tangan Yi Mei …aku ..selalu berdoa Mei ..aku harap Tuhan berikan keajaiban buatku ..Yi Mei sembuh ..sembuh total ..aku percaya …. Bahkan kau tau aku puasa … agar doaku semakin didengar Tuhan …. ”
” Mei aku tak kuat besok melihat pemakamanmu ..kau jahat …kau sudah tak mencintaiku sekarang kau mau pergi …. Aku sangat mencintaimu … aku menikah hanya ingin membuat dirimu tidak lagi dibayang-bayangi diriku sehingga ..kau bisa mencari pria yg selalu kau impikan …hanya itu Mei … seandainya saja kau bilang kau mencintaiku ..aku akan membatalkan pernikahanku ..aku tak peduli …tapi itu tak mungkin …kau bahkan mau pergi dariku ..sebagai sahabat …, sahabat Yi mei mengecup pelan dahi Yi Mei ….ia berbisik ..” aku sayang kamu , aku mencintaimu ..” suaranya terdengar parau krn tangisan … …
Dan apa yg terjadi …it’s amazing ..”CINTA ” bisa menyembuhkan segalanya , 7 jam setelah itu ..dokter menemukan tanda2 kehidupan dalam diri Yi Mei …jari tangan Yi Mei bisa bergerak , jantungnya , paru2nya , organ tubuhnya bekerja …..sungguh sebuah keajaiban , pihak medis menghubungi keluarga Yi Mei..dan memberitahukan keajaiban yg terjadi ….dan sebuah muzizat lagi … masa koma lewat ….pada tgl 11 Des 1994
14 Des 1994 Saat Yi Mei bisa membuka mata dan berbicara ..sahabatnya ada disana …ia memeluk Yi Mei menagis bahagia ….. , dokter sangat kagum akan keajaiban yg terjadi …. ,
” aku senang kau bisa bangun ..kau sahabatku terbaik …. ” sahabatnya memeluk erat Yi Mei ….
Yi Mei tersenyum …. ” kau yg memintaku bangun ..kau bilang kau mencintaiku ..taukah kau ….aku selalu mendengar kata-kata itu …aku berpikir aku harus berjuang ..untuk hidup ”
“Lei …aku mohon jangan tinggalkan aku ya ..aku sangat mencintaimu …..”
Lei memeluk Yi Mei …….. ” aku sangat mencintaimu juga ” …
17 Februari 1995 ..Yi Mei & Lei menikah ……, hidup bahagia ..dan sampai dengan saat ini pasangan ini memiliki 1 orang anak laki – laki yg telah berusia 14 tahun ….kisah ini sempat gempar di Beijing
azumangadaioh is offline