Arsip untuk Desember 19, 2010

Bandung: Kondisi makam Ibu Inggit Garnarsih, istri proklamator Soekarno, di TPU Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat, sangat memprihatinkan. Enam pilar penyangganya miring 20 derajat dan nyaris roboh karena dimakan usia.

Pengurus makam Oneng Rohiman, baru-baru ini, mengatakan, kondisi makam yang memprihatinkan sudah terjadi sejak setahun silam. Jika hujan turun, makam tersebut langsung basah diguyur air karena atapnya rusak. Bila kondisi ini terus dibiarkan, bukan tak mungkin, cungkup makam akan roboh.

Tak hanya tiang penyangga, lantai keramik serta sebagian temboknya juga pecah. Pilarnya terus bergeser karena adanya pergerakan tanah. Ironisnya, hingga saat ini belum ada upaya perbaikan makam, baik dari dari pihak keluarga maupun pemerintah.

Oneng Rohiman menambahkan, sejak dibangun pada 1990, area pemakaman Ibu Inggit pernah direnovasi oleh mantan Wakil Gubernur Jabar Numan Abdul Hakim. Biasanya makam tersebut selalu ramai dikunjungi pada saat hari Kemerdekaan Indonesia. Mereka yang datang umumnya para pejuang dari berbagai daerah serta sejumlah pengurus partai politik bila menjelang pemilihan umum.

Di area makam terdapat sejumlah foto Ibu Inggit bersama Soekarno. Ada juga sebuah cermin yang terpasang tepat berada di atas makam. Sebagai aset yang mempunyai nilai sejarah, diharapkan makam tersebut segera diperbaiki.


Share

percayakah anda, sebuah dendam dan kebencian yang ditebar hari ini membuahkan celaka bagi generasi mendatang? Mari kita tengok.

Berapa sering kita mendengar banyaknya korban akibat ranjau yang ditanam saat perang puluhan tahun silam. Di Rusia, Cina, Kolombia, Kamboja, Jenewa, Irak, Afganistan, negara-negara Afrika, dan lain-lain.

Ranjau-ranjau itu adalah sisa-sisa amarah, bekas-bekas angkara, dan jejak-jejak amuk, dan bekas-bekas kebencian. Kebencian atas penindasan dan ketidak adilan. Kebencian akan perilaku adikuasa.

Kita tak pernah tahu kapan semua itu akan tersapu bersih. Meski damai telah dijabattangankan, siapa bisa menjamin tak ada penyesalan di kemudian hari? Betapa mahalnya sebuah kebencian.

Hal ini mengajarkan pada kita untuk tidak hanya mempertimbangkan apa yang terjadi pada esok hari akibat perbuatan kita hari ini. Ketika kita membenci sesuatu, maka kebencian itu akan beranak pinak, dan akan kembali kepada kita sebesar kebencian yang kita tebarkan.

Mari tanyakan pada diri sendiri, buat apa kebencian ini? Adakah manfaatnya? Adakah akibat diesok hari buat diri kita dan anak cucu kita? Adakah jalan yang lebih baik? Karena ranjau-ranjau kebencian itu akan melukai orang yang membenci, juga orang yang dibenci. Dua-duanya sama-sama terluka.

Namun ada yang harus digaris bawahi, bahwa kebencian tidaklah sama dengan ketegasan sikap dalam menegakkan aturan dan batas-batas norma kehidupan. Kebencian lebih condong mengarah pada subjek, sedang ketegasan lebih mengacu pada perilaku dan perbuatan.

Semakin jauh kita memandang ke depan, semestinya semakin besar nilai perbuatan kita hari ini bagi kemanusiaan. Semakin berhati-hati dalam menentukan langkah dalam bertindak.


Share