Tentang Sebuah Keluarga

Posted: Desember 3, 2010 in Gien Aquilan


*ketika kemakmuran tidak berarti kebahagiaan*

Alkisah, di sebuah rumah yang mungil di atas perbukitan yang rindang, terdapatlah sebuah rumah kecil yang mungil. Dirumah tersebut tinggalah seorang keluarga yang sederhana. Suatu ketika si bapak yang bekerja sebagai seorang abdi negara, pulang dengan membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Sebuah kain batik untuk istrinya terkasih dan sebuah mainan robot-robotan untuk putranya yang masih berumur 5 tahun.

Bukan main senangnya istri dan anaknya dengan oleh-oleh yang dibawa pulang oleh sang suami.

“Alhamdulillah bu, ini rejeki dari Tuhan YME, bapak hari ini dapat promosi dikantor.” jelas sang suami.

“Terima kasih ya pak, ibu turut senang buat bapak.” jawab sang istri sambil memeluk suami tercintanya.

Karena dedikasinya selama bekerja dinilai baik oleh atasannya, si bapak mendapat promosi menjadi kepala bagian. Sejak itu kehidupan mereka pun beranjak dari keluarga yang sederhana berubah menjadi keluarga yang berkecukupan. Mau liburan ke luar negeri, cukup. Mau beli kendaraan baru pun lebih dari cukup.

Anak mereka pun tumbuh tanpa satu kekurangan apapun. Bisa bersekolah di tempat yang bagus, bisa membeli mainan yang bahkan anak-anak lain belum cukup uang untuk membelinya. Singkatnya kehidupan mereka berubah 180 derajat.

Tahun demi tahun berlalu. Entah sejak kapan suasana keluarga tersebut pun mulai berubah. Si bapak menjadi sering telat pulang karena alasan pekerjaan. Si ibu pun tidak kalah sibuknya. Mulai dari acara arisan sesama ibu-ibu sampai bisnis baru yang ditekuninya.

Akhirnya mulai jaranglah mereka duduk makan bersama, bercengkerama di ruang keluarga hanya sekedar untuk menceritakan hari-hari yang telah mereka lalui. Si anak pun tumbuh dengan segala fasilitas-fasilitas yang lebih dari cukup untuk anak seusianya, dan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Sampai pada suatu ketika, datanglah sepucuk surat panggilan dari sekolah si anak. Surat tersebut berisi, peringatan akan jatuh tempo pembayaran SPP si anak.

“Loh bu ini surat apa?” tanya si bapak ketika pulang kerumah.

“Ohhh si adek pah, katanya belum membayar spp 4 bulan.” jawab si ibu singkat sambil terus memainkan jari-jari di smartphone mewahnya.

“Kok bisa, memang ibu ndak kasih uang ke adik?” tanya si bapak semakin penasaran.

“Bentar ya pak ibu lagi sibuk, bapak besok ke sekolah saja buat ketemu sama kepala sekolahnya.” lanjut si istri sambil berlalu pergi.

Si suami yang merasa tersinggung pun mulai menaikkan nada bicaranya. Dia berkata,

“Ibu ini bagaimana toh? Kok main pergi saja, Bu… Ibu…!” sahut si bapak sambil menghampiri istrinya dengan kesal.

Dan kemudian dimulailah percekcokan antara si suami dan si istri. Entah sudah sejak kapan dimulainya tradisi perdebatan sambil saling berteriak dan saling menyalahkan. Padahal dulu waktu mereka masih tinggal di rumah lamanya jarang sekali terjadi pertengkaran.

Di tempat lain, si anak yang kini sudah beranjak dewasa, sedang sibuk dengan teman-teman mainnya.

“Bro, gimana nih, barang gua habis, kamu masih punya persediaan ndak?”

“Waduh habis tuh bos, ntar deh gua beli lagi. Santailah duit gua banyak kok.” jawab si anak.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu digedor. Betapa terkejutnya si anak yang sedang bersantai dengan teman-temannya di sebuah kamar kos-kosan.

***

“Krinnngggg!” terdengar suara bunyi bel.

Si Ibu yang akan pergi arisan, terkejut oleh kedatangan 2 orang polisi. Mereka menginformasikan bahwa anak mereka sekarang ditahan di kantor polisi atas dugaan pemakaian narkoba.

“Ahhh tidak mungkin pak anak saya terlibat narkoba, orang dia anak baik-baik kok.” bantah si ibu.

“Maap bu, masalah itu sedang dalam pemeriksaan, sekarang saya minta ibu dan bapak ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”

*ketika kemakmuran tidak berarti kebahagiaan*

Alkisah, di sebuah rumah yang mungil di atas perbukitan yang rindang, terdapatlah sebuah rumah kecil yang mungil. Dirumah tersebut tinggalah seorang keluarga yang sederhana. Suatu ketika si bapak yang bekerja sebagai seorang abdi negara, pulang dengan membawa buah tangan untuk istri dan anaknya. Sebuah kain batik untuk istrinya terkasih dan sebuah mainan robot-robotan untuk putranya yang masih berumur 5 tahun.

Bukan main senangnya istri dan anaknya dengan oleh-oleh yang dibawa pulang oleh sang suami.

“Alhamdulillah bu, ini rejeki dari Tuhan YME, bapak hari ini dapat promosi dikantor.” jelas sang suami.

“Terima kasih ya pak, ibu turut senang buat bapak.” jawab sang istri sambil memeluk suami tercintanya.

Karena dedikasinya selama bekerja dinilai baik oleh atasannya, si bapak mendapat promosi menjadi kepala bagian. Sejak itu kehidupan mereka pun beranjak dari keluarga yang sederhana berubah menjadi keluarga yang berkecukupan. Mau liburan ke luar negeri, cukup. Mau beli kendaraan baru pun lebih dari cukup.

Anak mereka pun tumbuh tanpa satu kekurangan apapun. Bisa bersekolah di tempat yang bagus, bisa membeli mainan yang bahkan anak-anak lain belum cukup uang untuk membelinya. Singkatnya kehidupan mereka berubah 180 derajat.

Tahun demi tahun berlalu. Entah sejak kapan suasana keluarga tersebut pun mulai berubah. Si bapak menjadi sering telat pulang karena alasan pekerjaan. Si ibu pun tidak kalah sibuknya. Mulai dari acara arisan sesama ibu-ibu sampai bisnis baru yang ditekuninya.

Akhirnya mulai jaranglah mereka duduk makan bersama, bercengkerama di ruang keluarga hanya sekedar untuk menceritakan hari-hari yang telah mereka lalui. Si anak pun tumbuh dengan segala fasilitas-fasilitas yang lebih dari cukup untuk anak seusianya, dan jauh dari pengawasan orang tuanya.

Sampai pada suatu ketika, datanglah sepucuk surat panggilan dari sekolah si anak. Surat tersebut berisi, peringatan akan jatuh tempo pembayaran SPP si anak.

“Loh bu ini surat apa?” tanya si bapak ketika pulang kerumah.

“Ohhh si adek pah, katanya belum membayar spp 4 bulan.” jawab si ibu singkat sambil terus memainkan jari-jari di smartphone mewahnya.

“Kok bisa, memang ibu ndak kasih uang ke adik?” tanya si bapak semakin penasaran.

“Bentar ya pak ibu lagi sibuk, bapak besok ke sekolah saja buat ketemu sama kepala sekolahnya.” lanjut si istri sambil berlalu pergi.

Si suami yang merasa tersinggung pun mulai menaikkan nada bicaranya. Dia berkata,

“Ibu ini bagaimana toh? Kok main pergi saja, Bu… Ibu…!” sahut si bapak sambil menghampiri istrinya dengan kesal.

Dan kemudian dimulailah percekcokan antara si suami dan si istri. Entah sudah sejak kapan dimulainya tradisi perdebatan sambil saling berteriak dan saling menyalahkan. Padahal dulu waktu mereka masih tinggal di rumah lamanya jarang sekali terjadi pertengkaran.

Di tempat lain, si anak yang kini sudah beranjak dewasa, sedang sibuk dengan teman-teman mainnya.

“Bro, gimana nih, barang gua habis, kamu masih punya persediaan ndak?”

“Waduh habis tuh bos, ntar deh gua beli lagi. Santailah duit gua banyak kok.” jawab si anak.

Tiba-tiba, terdengar suara pintu digedor. Betapa terkejutnya si anak yang sedang bersantai dengan teman-temannya di sebuah kamar kos-kosan.

***

“Krinnngggg!” terdengar suara bunyi bel.

Si Ibu yang akan pergi arisan, terkejut oleh kedatangan 2 orang polisi. Mereka menginformasikan bahwa anak mereka sekarang ditahan di kantor polisi atas dugaan pemakaian narkoba.

“Ahhh tidak mungkin pak anak saya terlibat narkoba, orang dia anak baik-baik kok.” bantah si ibu.

“Maap bu, masalah itu sedang dalam pemeriksaan, sekarang saya minta ibu dan bapak ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s