Tanya yang Tak Tereja

Posted: Desember 3, 2010 in Kumpulan Artikel Unik, Kumpulan Cerita

Ada tanya yang terpendam, tak terejakan. Tanya yang kerap hadir saat garis senja terbenam. Bait atau syair gelisahmu itu menjalari malam yang menyibukkanku. Rerimbun tanya dan tanya yang tidak akan terjawab, sebab angin melarikan tanya dan pekat menyisipkan jawab, di saku mimpi.

Udara pagi menusuk. Sinar rembulan meredup terbalut pekatnya kabut. Jiwamu yang tersapa hampa kian gelisah oleh kata-kata yang sedari tadi tumbuh di mimpi. Senyap mulai semaikan ribuan puisi kerinduan, tapi penuh kemayaan.

Mengejaku, mengajak dirimu tersudut di siku malam yang sunyi. Mengejaku, membuat dirimu menuang ribuan tanya yang tak tereja. Tanya yang kerap meluncur tuk memahamiku. Inilah sebuah keentahan yang entah bagaimana lagi harus kukatakan. Sebuah keanehan yang terpelihara.

Sengaja aku menabung tanyamu itu, perlahan menyudutmu dalam kebisuan, ketidakpastian yang amat maha dahsyat akan menerpamu. Mungkin sudah kau rasakan, iya kan?

Akan kubiarkan begitu. Kubenamkan dirimu. Bukan inginku sebenarnya, namun mengejakan semua yang kulalui, tentu akan menenggelamkan dirimu dalam jejak nisbi yang semakin pekat. Aku katakan sejujurnya, aku sulit kau eja, jejakku terlalu terjal, jiwaku terlalu liar untuk kau susur.

Namun, bila keingintahuan itu begitu maha dasyat membanjiri hatimu, keinginan untuk mengejaku, maka aku persilahkan kau susur waktu yang telah kugurat itu, lihatlah jejakku.

Dan tatkala kau masih juga belum mengenalku, coba lihat saat debu menimbunku, coba kau angsur tanya pada mereka yang dekat denganku. Mungkin bisa jadi referensi untuk mengenaliku. Setidaknya aku ada dalam warna hidup mereka, mungkin beberapa tanyamu akan terjawab dari mereka, semoga.

Namun, jika belum juga kau temukan jawab itu, maka katupkan mata, susurlah malam berjelaga, mimpi-mimpi fatamorgana akan kau temukan. Labirin dengan sekat putih akan menyapamu. Gunakan hati nurani agar tak tersesat saat mengenaliku.

Bila sudah berada di sana, lekaslah menujuku, iya! Di pucuk itu. Tataplah sedalam kau menatap telaga, dan marilah bercengkrama, menandaskan tanyamu yang belum juga tuntas itu.Tapi tolong, jangan tanya siapa diriku, karena aku akan hilang terbalut kabut, tolong jangan tanyakan hal itu. Bisakah?

Mungkin engkau akan beranjak meninggalkanku, tapi sebentar, sekedar berkabar, nyatanya aku tak bisu, aku bisa menalar apa yang engkau katakan. Sungguh! Ini bukan peran gila yang kulakukan, aku ingin jadi diriku sendiri, dan kau menemukanku seperti manusia yang hilang ingatan, ah betapa -maaf- bodohnya dirimu.

Aku mengunggumu di sini, mengeja bahagia yang kau cari, entah dan dengan keentahan yang bagaimana lagi aku akan mengejakan itu padamu, sebuah tanya yang kerap melesat dari bibir basahmu itu, ” engkau sudah menemukannya?”

Baiklah, mungkin akan terurai jika aku mengatakannya lewat deretan kata ini. Aku sudah menemukannya, tanpa terejakan olehmu! Aku menemukan di atas rubuhnya pagi, aku menemukannya di atas timpangnya sendi hidup ini, aku meraihnya saat berpeluk dengan sedih, aku mendapatkannya dan aku bahagia dengan segala hal yang tak kan terejakan olehmu, entah sampai kapan dan dengan keentahan yang bagaimana engkau akan berkelana hingga ruh dirimu meregang dan jasad berbalut kafan. Semoga sebelumnya engkau dapati itu. Semoga.

Dan sekarang masih kau tanyakan makna itu? Masih juga belum tereja olehmu? Sudah aku katakan, mengeja tanya itu butuh perhatian yang tak sedikit, butuh rimbun tanya yang terbit. Butuh sabar yang menjalar. Tapi, apapun aku hanya akan menanggalkan jawab itu bila semua semesta rela atas apa yang kurasa, saat itu aku akan menanggalkan makna ini, akan kutinggalkan keramaian dan menyudut di sepi, merapal sujud kesyukuran yang tak terperi, karena kau telah menemukan jawab atas tanya yang membayangimu, selama ini.

Namun, lihatlah kerut terlipat-yang semakin berlipat. Rentang yang kian panjang itu menjauhkan titik temu antara dua sisi kehidupan. Entahlah, hati yang melindap itu kerap menyundutku dengan untaian tanya dan tanya yang kerap menghiasi malamku.

Aku tak terganggu atas itu. Sungguh!.

Engkau berkaca di saat hujan, ketika rinai-rinai menimpamu. Kesejukan yang menghanyutkanmu, mengharap tanyamu bergegas tertunai, memang, tetes hujan akan menandaskan dahagamu, tapi itu sementara saja. Sedangkan yang engkau butuhkan lesapnya dahaga untuk selamanya, iya kan?

Baiklah, aku tak ingin berlanjut, aku ingin harimu berdenyut kembali seperti semula, sebelum engkau mengeja dengan puluhan tanya yang mengejarku. Aku lelah, baik, sekarang meringkuk dalam selimutmu. Larut kau dalam mimpi, nah kau melihat aku kan? Sekarang yang harus kau sadari sesadar-sadarnya bahwa aku adalah bayanganmu.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s