Beberapa Menit yang Berarti

Posted: Desember 3, 2010 in Kumpulan Cerita

” Ayah, adik pergi dulu ya… adik mau sama ibu ke Mall, nanti siang…” Anak ke duaku menyambutku sehabis mandi.
” Sepatu ayah sudah adik semir kan?”, tanyaku.
” Sudah, ada di Rak sepatu depan”.
” Hati-hati ya…” suara motor menamatkan percakapan kami.

Minggu pagi ini mendung jadi raja sesaat. Derajat peluh penuh sudah akan kusiapkan, akan kutampung sehari nanti. Pekerjaan bagiku adalah lelembut halus yang menghantui dan terus saja akan aku kejar, jika aku jadi sang pemburu hantu. Bau melati itu. Bau itu akan terus kuhirup.

” Pak Andi nanti ke Jalan Perum Peruri no 74 ya, terus ke Gereja yang dijalan Sudirman ya… terus anterin ke Gedung Arya Graha, aku sudah disana.” Bu Fandi sudah menelpunku.
” Jam berapa Ibu?”.
” Oh ya… kalo dirumahnya jam 7.30 pagi ini.”
” Oke ibu saya akan kepangkalan”.

Mobil sudah berada diperaduannya. Dengan Hiasan cantik diselasar menyilang dipunggung. Bunga-bunga mobil itu berkamuflase dengan cantik pula. Pita-pita panjang itu seperti merekatkan dua insan, Bos sementaraku nanti. Merekatkan janji yang mereka titahkan. Bunga dan Pita adalah tipuan nyata bernama keindahan. Menalikan dengan paksa atas nama kodrat dan dogma. Bunga itu palsu atas jawaban langit jika menangis, Pita itu hanya selembar plastik yang berwarna yang berspekulasi membentuk berimbangnya khasanah kulit mobil. Kulihat hanya ada mobil Toyota warna putih tahun 2010 di garasi. Aku akan ke perhelatan. Aku segera ke Jalan Perum Peruri 74. Karena Jam sudah membentak untuk segera membelai pedal gas.

**********************************************************************
Aku sudah berada didepan Rumah bergaya Retro minimalis. Aku rasa ini bukan rumah orang tua mereka. Aku memarkirkan mobil tepat didepan mulut pintu tengah rumah itu. Kulihat hanya ada 2 Buah mobil pengiring yang akan membututiku nanti. Aku segera melakukan perdana tugasku, berdiplomasi dengan kerabat.

Mulut ini seperti ingin mengunyah sebatang Rokok, tetapi peraturan mengharuskanku untuk mensubstitusinya dengan sebuah permen. Batik ini juga hasil peraturan dari pangkalan. Batik dress code perusahaan dengan Lambang inisial huruf AD, dibawahnya tertulis Armyra Decoration disaku kirinya. Hanya sepatu fantofel hitam yang telah disemir polos hati anak keduaku yang membuat aku merasa nyaman bekerja.

Kedua mempelai telah keluar dengan tergesa-gesa. Sambil dibelakangnya dikuti orangtua mereka. Ada 4 anak kecil berdandan terduplikasi mempelai putri. Segera aku memasang wajah tersenyum, membuka pintu mempelai putri dan membuka-tutup pintu mempelai pria. Aku sudah siap menuju majelis yang akan mensyahkan mereka.

Kedua mempelai adalah seseorang yang lebih tinggi secara fisik daripadaku. Raut wajahnya menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tak pernah keluar dari tempat yang berAC. Berbalut busana perpaduan Putih dan krem menjadikanya pilihan warna gaun pengantin terkini. Sangat apik untuk hari terbaiknya ini. Elegan dengan menampilkan struktur dan garis rancangnya. Kurasa mereka mempersiapkan khusus balutan untuk hari ini. Kurasa mereka adalah dua orang yang terlebihkan dalam finansial.

Segera aku mengorek mobil untuk berjalan. Kemudian menyalakan MP3 lagu kebangsaan pernikahan. Janji Suci Yovie and the Nuno. Lagu ini direkomendasikan oleh anak pertamaku. Sebelum tren lagu ini aku memutarkan lagu Anyam-anyaman Sujiwo Tejo. Tiga ratus derajat selanjutnya roda mobil ini sudah keluar dari rumahnya. Tugasku sampai disini sudah selesai, tinggal mengendalikan kereta agar aman berjalan. Dari sini aku bisa merasakan puncak dari tugas-tugasku menjadi kusir mobil pernikahan. Ini saatnya, aku sering memperhatikan dua insan ini dalam perjalanan kepelaminan meraka. Apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka rasakan.

” Apa sih tujuan kita menikah, mas?” suara itu menyentak dari mulut sang mempelai wanita.

Banyak memori dari mobil motif bunga ini. Banyak dari mereka berdiam saja, banyak dari mereka yang komat-kamit menghafalkan janji pernikahan, banyak dari mereka yang bersendau gurau melantunkan intro bagi pernikahan mereka. Aku biasa merasakan waktu dihentikan bagi para mempelai dijok dibelakangku. Aku melihat detik penting kehidupan mereka disini.

Tapi mempelai pasangan ini lain. Mereka tak mereduksi atmosfir kebahagiaan di perjalanan sesi ini. Aku segera melihat mereka dikaca kecil diatas.

Sang mempelai pria tidak seperti biasanya. Mempelai pria terlihat memandang keluar dengan tangan memegang mulut sambil berfikir. Duduk mereka berjauhan, seakan aku mengendarai mereka menuju pengadilan agama untuk sebuah perceraian. Bagiku keadaan ini menggambarkan mempelai wanita yang sekarang pupus dari dandanan cantik balutan busana yang ia kenakan. Ada apa dengan mereka?.

Sayang kepedulianku menabrak peraturan, bahwa aku tak boleh mengajak mereka berbicara kecuali aku ditanya dahulu oleh sang dewa-dewi ini. Ingin aku mengganti lagu di MP3, tapi aku tak punya perbendaharaan lagu yang cocok. Ingin aku memutar film di Double Monitor belakang jok mobilku dengan film ” Tuhan mereka tentang perintah Nya melakukan konsensus ini”.

Menara gereja itu telah tampak, tinggal aku berbelok diperempatan jalan maka aku akan sampai. Mereka masih dengan tabiat mereka dibelakangku. Aku segera membuka pintu mempelai pria dan mempersilahkan mempelai pria membukakan pintu bagi untuk mempelai wanita. Peri-peri kecil telah membentuk barisan menuju altar dan kumelihat Pendeta dan para undangan telah ditempat mereka.

Tetapi kini kulihat kedua mempelai tersenyum menampikkan atas apa yang terjadi didalam mobil. Owh aku ingin berteriak… aku ingin berkata keras bahwa mereka akan melakukan kebohongan besar nantinya. Tapi aku hanyalah seorang pengantar. Aku hanya melakukan tugasku yaitu mengantar. Sama seperti mereka akan melakukan tugas mereka. Mempelai bertugas sebagi mempelai. Pendeta bertugas sebagai pendeta. Dan Tamu undangan bertugas seperti penonton, tak lebih.

*************************************************************************
Aku telah menghabiskan sebatang rokok di pelataran Gereja. Aku mengecheck Mobilku. Mendung bukan penyebab mengapa ke dua mempelai bersikap, atau setidaknya bukan karena asap rokokku yang menyebabkan awan menjadi mendung. Aku juga tak mau berdoa untuk menghentikan hujan, karena hujan itu anugrah, aku tak mau menolak anugrah dari tuhan. Aku berada diruang lingkup para supir-supir pengantar majikan-majikan mereka. Kami berbincang mengenai kehidupan nyata kami.

Kerabat memberi kode kepadaku bahwa prosesi berkidung digereja telah berakhir. Aku segera menuju ke mobilku. Membuka pintu bagi mempelai wanita, menutupnya. membuka pintu mempelai pria dan menutupnya.

Aku bersemangat mengendarai mobil disesi ini. Kami akan segera menuju Gedung Resepsi. Sekarang aku akan diikuti oleh banyak Mobil. Walau tanpa Forider. Tapi inilah sesi kedua pekerjaanku yang menyenangkan dan aku akan mendapatkan bonus tentang drama apa yang terjadi didalam mobil ini. Aku masih memakai lagu yang sama. Agar mempelai mengingat erat lagu ini, bahwa lagu ini akan menjadi bisikan terindah dihari tua nanti.

Tabiat kedua mempelai ini masih sama. Masih terlihat acuh didalam. Sang mempelai masih bertolak pandangan. mereka melihat obral murah pemandangan dunia di luar kaca mobil. Sang mempelai wanita masih ingin mendengar jawaban mempelai pria. Dan sang mempelai pria masih enggan memberi jawaban dan masih mencari-cari jawaban formula.

Apa yang mereka lakukan didepan pendeta?.
Apakah mereka tak mengingatnya?.
Apa yang mereka ucapakan setelah pendeta berucap tentang janji janji itu?.
Mereka ada didepan apa yang mereka sembah, apa mereka tak melihat semua itu?.

ini adalah pengalaman bias saat aku menjadi pengantar, tak seperti biasanya. Dan seharusnya aku menikmati ini. Bukan berfikir terlalu dalam.

Kuat menjalankan pementasan digereja, aku meyakini mereka juga akan kuat menjalankan skenario mereka di Gedung Resepsi. Pementasan ini lebih besar, walau set pangggung kurang terlihat sakral. Dan aku merasa mobil ini adalah ruang ganti pementasan dimana mereka membuka topeng dan kostum nyata mereka sesaat untuk melanjutkan pementasan kembali.

************************************************************************

Babak selanjutnya telah dimainkan. Mempelai kini ada didalam Gedung resepsi. Aku tak ingin mengeneralisasi atas apa yang terjadi. Aku menuju ke Boss ku saja, aku melandai turun menuju tata-pemerintahan perusahaanku sekarang. aku bertemu bu Fandi. Dan dia memperkenalkan sopir penggantiku. Aku bersalaman dengan pria itu, sambil diiringi tawa bu fandi ” Pak andi ini nggak cocok jadi supir mobil pengantin…”.

Benar sekali ini adalah menjadi terakhir tugasku meladeni wahana pernikahan ini. Setelah ini aku akan berpisah sementara untuk memulai usaha sendiri membuka persewaan mobil pernikahan dan nantinya akan mejadi rekanan perusahaan bu Fandi. Bu fandi telah merestuiku untuk berpisah kemudian bergabung lagi.

Mendung gagal menjalankan rencananya. Anugrah itu enggan datang sore ini. Aku telah bersiap di samping mobil. Senyuman masih kuperlihatkan ditengah ingatanku untuk menjemput anak kedua ku di Mall. Kini mobil kami sendirian menuju rumah mempelai.

Aku membuka pintu untuk mempelai wanita. Menutupnya kemudian membuka dan menutupnya untuk mempelai pria. Aku sudah memasukkan gigi untuk maju. Tetapi bahasa tubuh kedua mempelai ini tidak ada yang berubah. Datar dan saling acuh. Aku hendak mengajak berbicara, toh ini tugas terakhirku dan tak apalah melanggar peraturan perusahaan.

” Mas mbak, mau mutar MP3 apa nih?”.

Pertanyaanku tak digubris. Ini memperlihatkan tentang apa yang terjadi didalam. Mereka masih sukses melakoni peran-peran mereka di panggung pernikahan di resepsi tadi. Pertanyaanku seperti klakson. Bersuara keras dan tak pernah digubris.

Mp3 kuganti Anyam-anyaman Sujiwotejo. Film pada layar dibelakangku pun masih memutar film yang sama. owh… Tuhan berikan aku kondektur malaikat, atau setidaknya pengamen malaikat kecil yang bisa mencuri perjalanan mereka disini.

Apakah mereka tidak direstui orang tua mereka? apakah salah satu dari mereka berpindah keyakinan ? atau ini perjodohan ala siti nurbaya?… ah aku berfikir terlalu keras lagi.

Aku telah didepan rumah mereka. Detik ini lelaku mereka masih sama. Kudengar hembuskan nafas panjang.

Sang mempelai wanita bertanya sekali lagi ” Mas apakah tujuan pernikahan kita?”.

Aku masih memperhatikan dan tak beranjak dari kursi. Aku ingin melihat Klimak dari episode ini. Sang mempelai pria kemudian melihat mempelai wanita. Dan mencium kening mempelai wanita dengan indah sekali.

Aku pun ikut tersenyum. Segera aku melaksanakan list terakhir tugasku. Membuka pintu mempelai pria dan mempersilahkan mempelai pria untuk membukakan pintu dan menggandeng mempelai wanita.

Kini aku telah melaksanakan tugasku. Kini sekarang aku malah merasa bertambah peran. Kini aku menjadi undangan mereka dan pendeta mereka yang sesungguhnya. Aku melihat sambil tersenyum kepada mereka berdua yang bergandeng tangan dan masuk ke rumah mereka.

*************************************************************************

Kemudian mobil kuarahkan ke Mall untuk menjemput anak keduaku yang masih SD kelas 3 itu. Tepat di mulut pintu Mall. Kulihat anakku digendong oleh mantan isteriku. Setelah bersalaman dengan suami mantan isteriku. Aku dan anakku berputar-putar kota dengan mobil indah ini.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s