Asa Dan Lara

Posted: Desember 2, 2010 in Kumpulan Cerita

Kamu duduk di tembok taman. Raut wajahmu sangat sedih. Aku tidak tahu masalah apa yang saat ini menimpamu. Terlihat seperti beban berat yang terpaksa harus kamu tanggung. Aku hanya bisa menatap tanpa mampu berbuat banyak. Seperti saat ini aku hanya bisa diam melihatmu mengisap rokok. Entah sudah berapa bungkus yang telah kamu habiskan sejak duduk di tembok itu dua jam yang lalu. Sesekali kamu menerima telpon. Berbicara cukup lama. Lalu kamu terdiam lagi. Mengisap lagi rokokmu dengan penuh perasaan saat melepaskan asap-asap. Kamu seperti mencari jalan keluar dari setiap kali mengisap rokok.

Kamu memeriksa bungkus rokokmu yang telah kosong. Kamu berdiri, melihat sekeliling. Entah apa yang kamu cari. Tapi kemudian kamu duduk lagi. Kali ini tak ada rokok yang menemanimu. Beberapa saat kamu hanya terdiam mematung. Sesekali melihat ke jalan, ke taman atau ke arah lain. Selang satu jam seorang lelaki datang. Kamu menyambutnya sambil tersenyum. Hari sudah mulai beranjak sore. Lelaki itu menemanimu duduk di tembok. Suara kalian cukup besar hingga aku bisa mendengarkan. Apalagi kalian duduk persis disampingku.

Aku menyimak dengan serius.

“Nggak bisa lebih, to? Aku sangat butuh uang, nih. Segitu kayaknya aku harus cari tambahan lagi” katamu dengan mimik kecewa.

“ Pasaran memang segitu harganya. Apalagi dengan model yang kamu punya sama sekali nggak bisa menaikkan harganya. Kemarin itu untung ada pembeli yang menawar dengan harga segitu. Jarang loh ada yang menawar dengan harga yang lumayan untuk tahun keluaran yang kamu punya”

Kamu terdiam seperti sedang berpikir keras untuk memutuskan.

“ Bagaimana? Kamu setuju dengan harga yang kemarin aku tawarkan?”

“ Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain. Aku sangat butuh uang. Kalau saja bisnisku tidak bermasalah, aku pasti tidak akan menjualnya” Katamu dengan nada suara terdengar sedih.

Lelaki itu masuk ke mobilnya. Tidak lama kemudian dia keluar lalu duduk di sampingmu lagi.

“ Nih, hanya segini yang bisa aku kasi. Kamu sabar saja setiap masalah pasti ada jalan keluar” Kamu menerima kertas yang yang di berikan lelaki itu. Melihatnya beberapa menit. Aku tahu walau matamu menatap kertas itu tapi pikiranmu terbang ke tempat lain. Lelaki itu kemudian meningalkanmu setelah kalian berjabatan tangan. Kamu masuk ke dalam mobil lagi.

“ Maaf membuatmu menunggu lama” katamu. Aku tersenyum.

“ Nggak apa-apa” sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Kamu terlihat sangat tegang dan tertekan. Apakah karena kondisi perusahaanmu?. Itukah sebabnya kau mencari wanita seperti aku untuk menghiburmu. Tapi hiburan apa yang bisa aku berikan? Aku sama sekali tidak mengerti tentang cara menghibur lelaki. Aku memang bekerja di tempat mbak Cecil. Setiap lelaki hidung belang pasti tahu tempat itu. Bagi mereka yang ingin menghibur diri dengan segala macam wanita datang saja ke tempat mbak Cecil. Di sana banyak wanita-wanita cantik yang siap memberikan hiburan. Tapi aku baru sehari bekerja di tempat itu. Kamu adalah tamu pertamaku. Aku heran juga saat tadi kamu memilihku. Mbak Cecil sampai tersenyum kepadaku. Mungkin dalam fikirannya aku laris juga. Baru sehari di luncurkan sudah ada yang booking.

“ Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan?” tanyamu. Mungkin karena sejak tadi aku terus memperhatikan kamu yang sedang menyetir.

“ Nggak..pa..pa” kataku cepat. Aku tidak berani menanyakan hal-hal yang sudah ada dalam kepalaku. Sepertinya kamu juga sedang malas untuk berbicara.

Mobilmu terus melaju di jalan yang ramai. Hari sudah beranjak malam. Lampu-lampu yang warna warni sudah mulai menghias wajah perkotaan. Aku sejak tadi hanya berkutat dengan pikiranku. Walau sebelumnya sudah di jelaskan oleh mbak Cecil tentang cara-cara melayani pelanggan. Tapi namanya masih baru, aku sama sekali lupa dengan semua yang telah diajarkan mbak Cecil.

Mobilmu berhenti di sebuah cafe. Seperti biasa kamu melarang aku untuk turun. Kalau sore tadi aku bisa mendengarkan percakapanmu maka sekarang lain. Jarak parkiran dan cafe berjauhan. Aku hanya bisa melihat kamu berjalan di dalam cafe menemui seseorang. Terlihat seorang lelaki menyambutmu. Kalian berjabatan tangan lalu duduk. Sekitar satu jam kalian terlibat pembicaraan yang serius. Tak ada wajah-wajah ceria yang nampak dari wajahmu dan wajah lelaki itu. Kamu lalu melangkah keluar dari cafe mendekati mobil.

“ Kamu belum mengantuk?” tanyamu. Aku tersenyum tipis.

“ Belum, mas”

Aku heran dengan pertanyaanmu. Kenapa menanyakan hal seperti itu? Bukankah aku bertugas untuk menghiburmu? Jadi sudah sewajarnya aku menemanimu sepanjang malam.

“ Kita cari makan dulu, ya.”

Kamu kemudian menjalankan mobil. Sepertinya kamu menghindari daerah-daerah yang ramai. Saat memasuki wilayah kota yang lumayan sunyi, kamu kemudian menghentikan mobilmu di sebuah warung makan kecil. Kita berdua lalu turun. Pemilik warung tersenyum lebar saat menyambutmu.

“ Mas, Valen.. mau makan apa, mas? Seperti biasa?” tanya bapak pemilik warung. Sempat ku lihat mata bapak itu melihatku sekilas.

Kamu mengangguk lalu mengarahkan aku untuk duduk di pojok. Posisi duduk aku dan kamu sangat dekat. Karena pertama kali, aku masih merasa risih. Masih menerka sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan. Karena terlalu tegang dengan pemikiranku aku malah merasa gugup. Aku membayangkan kalau kamu yang lebih dulu agresif tapi kamu tampaknya kalem. Apakah memang seperti ini yang ditunjukkan oleh lelaki-lelaki yang menyewa wanita seperti aku?

“ Tumben mas, ada yang temani? Pacar ya” tanya bapak pemilik warung. Kamu tersenyum sambil memandangku. Aku jadi kikuk diperhatikan dengan tatapan yang aneh.

“ Bukan pacar, pak. Tapi calon istri” katamu yang membuatku terkejut. Bapak itu melihatku.

“ Cocok mas Valen, mbaknya cantik pas dengan mas Valen yang ganteng”

Aku ingin protes tapi mulutku serasa terkunci. Entah mengapa aku suka saat kamu mengatakan calon istri. Mungkin kamu hanya bercanda tapi untuk wanita seperti aku mendengar kata-kata yang kamu ucapkan rasanya sangat membahagiakan.

Kamu dan aku berada di warung kecil itu hingga jam sepuluh tepat. Kita berdua keluar sesaat sebelum bapak itu menutup warungnya. Aku masuk lebih dulu ke dalam mobil sementara kamu masih berbincang dengan bapak itu.

“ Gimana makanannya, enakkan? Aku suka makan di situ. Makanannya enak. Suasana juga adem cocok untuk menenangkan pikiran.”

“ Iya, mas. Bapaknya juga ramah”

“ Makanya lain kali, kalau mau makan yang enak. Kita ke situ saja”

Aku tertegun. Kata-katamu terasa aneh. Lain kali? Apa kamu sedang linglung? Mana ada lain kali. Malam ini milik kita, besok semua berakhir. Kamu kembali ke duniamu, aku kembali ke duniaku.

“ Kita kerumahku saja. Aku ingin ketenangan” katamu lalu menjalankan mobil.

Aku mengira saat tiba dirumahmu, aku akan melaksanakan tugas-tugas seperti yang sudah diajarkan mbak Cecil. Tapi kamu memperlakukan aku sangat sopan. Tidak ada sikap atau kata-kata yang terkesan genit. Aku jadi risih untuk memperaktekkan ajaran yang sudah aku terima. Apalagi aku sama sekali tidak berpengalaman untuk bersikap genit terhadap lelaki. Pengalamanku nol. Aku bahkan belum pernah pacaran. Jadi aku sama sekali buta untuk urusan lelaki.

“ Win, bisa kita bicara sebelum kamu masuk kamar dan tidur” tanyamu. Aku menghentikan gerakan tanganku yang hendak membuka pintu kamar.

“ Iya, mas.”

Aku mengikutimu ke ruang tengah. Kamu mengambil dua minuman kaleng di kulkas kecil lalu meletakkan minuman itu di depanku.

“ Silahkan di minum” katamu lalu duduk di sebelahku. Aku mengambil minuman kaleng tapi tidak meminumnya. Aku hanya ingin saat ini ada sesuatu yang aku pegang untuk menetralisir rasa gugupku. Kamu terdiam beberapa menit sebelum akhirnya menatapku lalu berbicara.

“ Win, kamu mau menikah denganku?” aku terpana. Kata-katamu sangat mengejutkan. Kuletakkan minuman kaleng yang tadi aku pegang. Ku pandangi wajahmu. Wajahmu terlihat serius sama sekali tidak ada guratan canda. Jantungku mulai berdetak dengan cepat. Padahal tadi aku berharap kamu hanya main-main dengan ucapanmu.

“ Kamu mau tahu kenapa aku memilihmu?” aku terdiam. Sejak tadi itulah yang membuatku penasaran. Aku terlihat biasa saja dan belum pengalaman tapi kenapa kamu justru memilihku?

“ Seumur hidup, aku belum pernah ke tempat seperti milik mbak Cecil. Tadi pertama kalinya aku ke tempat seperti itu. Karena stress dengan masalahku, aku membutuhkan tempat untuk melarikan diri dari semua masalah yang membebaniku. Salah seorang teman memberikan alamat mbak Cecil. Aku tergerak ke sana. Tapi saat di sana aku menyadari, ini bukan duniaku. Aku tidak seperti itu. Aku tidak terbiasa. Aku sadar lalu aku bermaksud keluar. Saat itulah aku melihatmu. Duduk sendiri seperti kebingungan. Lama aku memperhatikan. Aku lalu bertanya ke salah seorang pelayan. Mereka memanggil mbak Cecil. Dari mbak Cecil aku tahu kalau kamu orang baru di situ. Mbak Cecil sepertinya ingin agar kamu cepat ada yang booking mengingat kamu orang baru. Tapi aku berpikir sebaliknya. Justru karena kamu baru maka lebih cepat aku mengeluarkanmu dari sana, akan lebih baik. Jadi aku putuskan untuk membooking kamu”

Aku terdiam. Tak bisa berkata-kata. Rasa terharu menjalar keseluruh tubuhku. Benarkah ada lelaki yang mengatakan kalimat seperti ini padaku? Benarkah ini kenyataan?

Kamu memegang tanganku. Apakah kamu melihat mataku yang basah karena begitu terharu?

“ Tak perlu kamu jawab sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau malam ini aku melamarmu untuk jadi istriku. Sekarang istrahatlah. Besok masih ada hal yang perlu kita selesaikan”

Kamu beranjak meninggalkanku. Kupandangi punggungmu yang berjalan menuju kamarmu. Aku tahu masalah akan selalu ada. Tapi kata-katamu malam ini membuatku yakin, bahwa kita akan bisa melewatinya. Tak perlu menunggu untuk mendengar jawabanku. Malam ini aku menerima lamaranmu untuk menjadi istrimu.**


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s