Arsip untuk Desember 2, 2010

Nyanyi Sunyi Pendekar Sampah

Posted: Desember 2, 2010 in Puisi

Hidup memang tak banyak memberi

Tapi banyak yang kami punyai untuk berbagi

karena kami punya hati untuk yang lain

Di tong-tong sampah

Di air-air keruh penuh kotoran dan sampah membusuk

Kami merajut masa depan

Sambil bergurau dengan nasib

Yang selalu mengelak dari kami

Dan kami akan terus mengais

Memungut yang tersisah dari kehidupan

Sambil berkubang di air keruh

yang dengan caranya sendiri tela merampas yang lebih dari si kaya

tersenyum membalas cibiran dan caci maki penduduk

Sampai nasib berpihak pada kami

Di kehidupan yang akan datang

Tuhan

Suatu saat ketika sampah-sampah ini habis

Aku ingin memulung lagi di kemewahan surgamu.


Share

Hening Kembali Merayap

Posted: Desember 2, 2010 in Puisi

Melintas di jalan perintis kemerdekaan
Anak-anak manusia berkeliaran di berbagai tempat
Demi mengisi lambung tengah
Kumpulkan tenaga yang mulai terkuras

Sekumpulan awan hitam menerjang mata-mata itu
Berulang kali berbelok arah tanpa kejelasan
kadang berputar saja di satu tempat
Titik putih pun itu meradang sangat
Jatuhlah ia pasrah pada gravitasi
Menghasilkan banyak warna

Di hamparan tikar, karpet, dan tehel
Sesekali anginmu berhembus
Disertai banyak senyum dari wajah-wajah itu
Merangkul pesona dengan penuh kagum

Desir air yang jatuh dari langit
Tertawa-tawa ketika bertemu batu dan tanah
Aroma berhembus kuhirup dalam
Bau yang kusukai…Kunikmati sangat

Banyak nafas dan harapan
Banyak detak dalam satu tempat
Disertai gelombang hujan yang melebar berjatuhan
Seakan membasahi diri ini

Terlintas dosa yang perlahan menarik kaki-kaki ini
Warnahnya hitam meliuk-liuk di permukaan air
Kutak dapat memutar waktu
Maaf atas hal itu
Tersadar lenyap di permukaan
Lalu hening kembali merayap


Share

Kegelisahan Malam Ini

Posted: Desember 2, 2010 in Kumpulan Cerita

Malam semakin larut, sementara bulan enggan memberi seberkas cahaya buat kegelapan ini. terasa sepi, sebab dunia sudah terlelap di temani mimpi-mimpi indah. Bayangan gelap semakin membenamkan rasa kelelahan yang menggerogoti jiwa, sebab dengan mudahnya mata terpejam, diatas empuknya tempat pembaringan ini.
Namun tidak untuk malam ini. berulangkali aku berusaha memejamkan mata, tapi sia-sia. rasa kantuk enggan menghampiri. Segelas kopi abc, yang ku minum tadi Sore, menjadi sebagian alasan yang selalu kurenung. Ah, mungkin saja tapi bukankah kopi menjadi minuman favoritku setiap hari, bahkan sebelum tidur malam terkadang aku masih sempat menengguknya, pikirku lanjut.
“Belum tidur Ko??”
sahut teman sebelah kamarku. Maaf bro, ak uda menganggu kosentrasimu. Temanku rupanya belum tidur, dan sengaja untuk begadang membereskan kerjaan yang belum selesai dari kantornya. Mungkin kesengajaan begadang membuatnya terbiasa dengan kesunyian malam, dan barangkali kesunyiaan malam membentangkan sejuta inspirasi yang mendatangkan kesejukan dirinya.
“Bro,jangan menyulitkan hidupmu dengan sejuta ide liarmu itu”
Kita mesti realistis dan berusaha untuk menangkap hidup ini secara abstrak.
Maksudnya?.
tanyaku dalam kebingungan. Barangkali temanku benar. Saya kurang menghargai kehidupanku yang riil. Padahal disana saya bertarung membentuk sebuah cita-cita yang menjadi tujuan hidup saya.
Lama saya merenung perkataan teman saya, bersama pekatnya malam, sementara mataku kian tajam mengusir rasa ngantuk itu. kucoba merangkai sebuah alur cerita dalam lembaran putih tak bergaris. Ingin kutumpahkan isi kepalaku, barangkali saja terbentuk sebuah titik simpul yang hendak menguraikan persoalanku. Memang imajinasi terkadang muncul ketika jiwa tergerus oleh aneka persoalan.
Ya, prsoalan, lagi-lagi persoalan, kapan manusia bebas dari persoalan??. Ah pertanyaan bodoh, sampai kapanpun manusia dalam ziarah panjangnya akan terus berkutat dengannya. Demikianlah saya, cerita masa lalu kurang sedap, bahkan terlampau malu ku merangkainya. Masa lalu turut mengerdilkan citra kedirianku, hingga membuatku terjerembab pada alur hidup yang serba tidak pasti. Itulah persoalanku, namun terlalu berat untuk sekdar melupakannya, kalau saja bisa, pasti aku menjadi manusia merdeka.
Tiba-tiba aku terhenti pada sebuah konsep yang ditelurkan seorang filsuf, heideger namanya, bahwa kita mengada bersama waktu. Waktu masa lalu yang diisi dengan aneka persoalan adalah waktu yang masih membentuk kedirianku sekarang ini. singkatnya waktu masa lalu masih menjadi bagian dari masa sekarang dimana saya sedang berada dan berkutat dengannya.

Ada benarnya juga, mungkin aku perlu berdamai dengan masa lalu. Sebab bagaimanapun juga masa lalu menyiratkan sejumlah pesan untuk pembaharuan diri.


Share

Asa Dan Lara

Posted: Desember 2, 2010 in Kumpulan Cerita

Kamu duduk di tembok taman. Raut wajahmu sangat sedih. Aku tidak tahu masalah apa yang saat ini menimpamu. Terlihat seperti beban berat yang terpaksa harus kamu tanggung. Aku hanya bisa menatap tanpa mampu berbuat banyak. Seperti saat ini aku hanya bisa diam melihatmu mengisap rokok. Entah sudah berapa bungkus yang telah kamu habiskan sejak duduk di tembok itu dua jam yang lalu. Sesekali kamu menerima telpon. Berbicara cukup lama. Lalu kamu terdiam lagi. Mengisap lagi rokokmu dengan penuh perasaan saat melepaskan asap-asap. Kamu seperti mencari jalan keluar dari setiap kali mengisap rokok.

Kamu memeriksa bungkus rokokmu yang telah kosong. Kamu berdiri, melihat sekeliling. Entah apa yang kamu cari. Tapi kemudian kamu duduk lagi. Kali ini tak ada rokok yang menemanimu. Beberapa saat kamu hanya terdiam mematung. Sesekali melihat ke jalan, ke taman atau ke arah lain. Selang satu jam seorang lelaki datang. Kamu menyambutnya sambil tersenyum. Hari sudah mulai beranjak sore. Lelaki itu menemanimu duduk di tembok. Suara kalian cukup besar hingga aku bisa mendengarkan. Apalagi kalian duduk persis disampingku.

Aku menyimak dengan serius.

“Nggak bisa lebih, to? Aku sangat butuh uang, nih. Segitu kayaknya aku harus cari tambahan lagi” katamu dengan mimik kecewa.

“ Pasaran memang segitu harganya. Apalagi dengan model yang kamu punya sama sekali nggak bisa menaikkan harganya. Kemarin itu untung ada pembeli yang menawar dengan harga segitu. Jarang loh ada yang menawar dengan harga yang lumayan untuk tahun keluaran yang kamu punya”

Kamu terdiam seperti sedang berpikir keras untuk memutuskan.

“ Bagaimana? Kamu setuju dengan harga yang kemarin aku tawarkan?”

“ Baiklah. Aku tidak punya pilihan lain. Aku sangat butuh uang. Kalau saja bisnisku tidak bermasalah, aku pasti tidak akan menjualnya” Katamu dengan nada suara terdengar sedih.

Lelaki itu masuk ke mobilnya. Tidak lama kemudian dia keluar lalu duduk di sampingmu lagi.

“ Nih, hanya segini yang bisa aku kasi. Kamu sabar saja setiap masalah pasti ada jalan keluar” Kamu menerima kertas yang yang di berikan lelaki itu. Melihatnya beberapa menit. Aku tahu walau matamu menatap kertas itu tapi pikiranmu terbang ke tempat lain. Lelaki itu kemudian meningalkanmu setelah kalian berjabatan tangan. Kamu masuk ke dalam mobil lagi.

“ Maaf membuatmu menunggu lama” katamu. Aku tersenyum.

“ Nggak apa-apa” sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Kamu terlihat sangat tegang dan tertekan. Apakah karena kondisi perusahaanmu?. Itukah sebabnya kau mencari wanita seperti aku untuk menghiburmu. Tapi hiburan apa yang bisa aku berikan? Aku sama sekali tidak mengerti tentang cara menghibur lelaki. Aku memang bekerja di tempat mbak Cecil. Setiap lelaki hidung belang pasti tahu tempat itu. Bagi mereka yang ingin menghibur diri dengan segala macam wanita datang saja ke tempat mbak Cecil. Di sana banyak wanita-wanita cantik yang siap memberikan hiburan. Tapi aku baru sehari bekerja di tempat itu. Kamu adalah tamu pertamaku. Aku heran juga saat tadi kamu memilihku. Mbak Cecil sampai tersenyum kepadaku. Mungkin dalam fikirannya aku laris juga. Baru sehari di luncurkan sudah ada yang booking.

“ Kenapa? Apa ada yang ingin kamu katakan?” tanyamu. Mungkin karena sejak tadi aku terus memperhatikan kamu yang sedang menyetir.

“ Nggak..pa..pa” kataku cepat. Aku tidak berani menanyakan hal-hal yang sudah ada dalam kepalaku. Sepertinya kamu juga sedang malas untuk berbicara.

Mobilmu terus melaju di jalan yang ramai. Hari sudah beranjak malam. Lampu-lampu yang warna warni sudah mulai menghias wajah perkotaan. Aku sejak tadi hanya berkutat dengan pikiranku. Walau sebelumnya sudah di jelaskan oleh mbak Cecil tentang cara-cara melayani pelanggan. Tapi namanya masih baru, aku sama sekali lupa dengan semua yang telah diajarkan mbak Cecil.

Mobilmu berhenti di sebuah cafe. Seperti biasa kamu melarang aku untuk turun. Kalau sore tadi aku bisa mendengarkan percakapanmu maka sekarang lain. Jarak parkiran dan cafe berjauhan. Aku hanya bisa melihat kamu berjalan di dalam cafe menemui seseorang. Terlihat seorang lelaki menyambutmu. Kalian berjabatan tangan lalu duduk. Sekitar satu jam kalian terlibat pembicaraan yang serius. Tak ada wajah-wajah ceria yang nampak dari wajahmu dan wajah lelaki itu. Kamu lalu melangkah keluar dari cafe mendekati mobil.

“ Kamu belum mengantuk?” tanyamu. Aku tersenyum tipis.

“ Belum, mas”

Aku heran dengan pertanyaanmu. Kenapa menanyakan hal seperti itu? Bukankah aku bertugas untuk menghiburmu? Jadi sudah sewajarnya aku menemanimu sepanjang malam.

“ Kita cari makan dulu, ya.”

Kamu kemudian menjalankan mobil. Sepertinya kamu menghindari daerah-daerah yang ramai. Saat memasuki wilayah kota yang lumayan sunyi, kamu kemudian menghentikan mobilmu di sebuah warung makan kecil. Kita berdua lalu turun. Pemilik warung tersenyum lebar saat menyambutmu.

“ Mas, Valen.. mau makan apa, mas? Seperti biasa?” tanya bapak pemilik warung. Sempat ku lihat mata bapak itu melihatku sekilas.

Kamu mengangguk lalu mengarahkan aku untuk duduk di pojok. Posisi duduk aku dan kamu sangat dekat. Karena pertama kali, aku masih merasa risih. Masih menerka sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan. Karena terlalu tegang dengan pemikiranku aku malah merasa gugup. Aku membayangkan kalau kamu yang lebih dulu agresif tapi kamu tampaknya kalem. Apakah memang seperti ini yang ditunjukkan oleh lelaki-lelaki yang menyewa wanita seperti aku?

“ Tumben mas, ada yang temani? Pacar ya” tanya bapak pemilik warung. Kamu tersenyum sambil memandangku. Aku jadi kikuk diperhatikan dengan tatapan yang aneh.

“ Bukan pacar, pak. Tapi calon istri” katamu yang membuatku terkejut. Bapak itu melihatku.

“ Cocok mas Valen, mbaknya cantik pas dengan mas Valen yang ganteng”

Aku ingin protes tapi mulutku serasa terkunci. Entah mengapa aku suka saat kamu mengatakan calon istri. Mungkin kamu hanya bercanda tapi untuk wanita seperti aku mendengar kata-kata yang kamu ucapkan rasanya sangat membahagiakan.

Kamu dan aku berada di warung kecil itu hingga jam sepuluh tepat. Kita berdua keluar sesaat sebelum bapak itu menutup warungnya. Aku masuk lebih dulu ke dalam mobil sementara kamu masih berbincang dengan bapak itu.

“ Gimana makanannya, enakkan? Aku suka makan di situ. Makanannya enak. Suasana juga adem cocok untuk menenangkan pikiran.”

“ Iya, mas. Bapaknya juga ramah”

“ Makanya lain kali, kalau mau makan yang enak. Kita ke situ saja”

Aku tertegun. Kata-katamu terasa aneh. Lain kali? Apa kamu sedang linglung? Mana ada lain kali. Malam ini milik kita, besok semua berakhir. Kamu kembali ke duniamu, aku kembali ke duniaku.

“ Kita kerumahku saja. Aku ingin ketenangan” katamu lalu menjalankan mobil.

Aku mengira saat tiba dirumahmu, aku akan melaksanakan tugas-tugas seperti yang sudah diajarkan mbak Cecil. Tapi kamu memperlakukan aku sangat sopan. Tidak ada sikap atau kata-kata yang terkesan genit. Aku jadi risih untuk memperaktekkan ajaran yang sudah aku terima. Apalagi aku sama sekali tidak berpengalaman untuk bersikap genit terhadap lelaki. Pengalamanku nol. Aku bahkan belum pernah pacaran. Jadi aku sama sekali buta untuk urusan lelaki.

“ Win, bisa kita bicara sebelum kamu masuk kamar dan tidur” tanyamu. Aku menghentikan gerakan tanganku yang hendak membuka pintu kamar.

“ Iya, mas.”

Aku mengikutimu ke ruang tengah. Kamu mengambil dua minuman kaleng di kulkas kecil lalu meletakkan minuman itu di depanku.

“ Silahkan di minum” katamu lalu duduk di sebelahku. Aku mengambil minuman kaleng tapi tidak meminumnya. Aku hanya ingin saat ini ada sesuatu yang aku pegang untuk menetralisir rasa gugupku. Kamu terdiam beberapa menit sebelum akhirnya menatapku lalu berbicara.

“ Win, kamu mau menikah denganku?” aku terpana. Kata-katamu sangat mengejutkan. Kuletakkan minuman kaleng yang tadi aku pegang. Ku pandangi wajahmu. Wajahmu terlihat serius sama sekali tidak ada guratan canda. Jantungku mulai berdetak dengan cepat. Padahal tadi aku berharap kamu hanya main-main dengan ucapanmu.

“ Kamu mau tahu kenapa aku memilihmu?” aku terdiam. Sejak tadi itulah yang membuatku penasaran. Aku terlihat biasa saja dan belum pengalaman tapi kenapa kamu justru memilihku?

“ Seumur hidup, aku belum pernah ke tempat seperti milik mbak Cecil. Tadi pertama kalinya aku ke tempat seperti itu. Karena stress dengan masalahku, aku membutuhkan tempat untuk melarikan diri dari semua masalah yang membebaniku. Salah seorang teman memberikan alamat mbak Cecil. Aku tergerak ke sana. Tapi saat di sana aku menyadari, ini bukan duniaku. Aku tidak seperti itu. Aku tidak terbiasa. Aku sadar lalu aku bermaksud keluar. Saat itulah aku melihatmu. Duduk sendiri seperti kebingungan. Lama aku memperhatikan. Aku lalu bertanya ke salah seorang pelayan. Mereka memanggil mbak Cecil. Dari mbak Cecil aku tahu kalau kamu orang baru di situ. Mbak Cecil sepertinya ingin agar kamu cepat ada yang booking mengingat kamu orang baru. Tapi aku berpikir sebaliknya. Justru karena kamu baru maka lebih cepat aku mengeluarkanmu dari sana, akan lebih baik. Jadi aku putuskan untuk membooking kamu”

Aku terdiam. Tak bisa berkata-kata. Rasa terharu menjalar keseluruh tubuhku. Benarkah ada lelaki yang mengatakan kalimat seperti ini padaku? Benarkah ini kenyataan?

Kamu memegang tanganku. Apakah kamu melihat mataku yang basah karena begitu terharu?

“ Tak perlu kamu jawab sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu, kalau malam ini aku melamarmu untuk jadi istriku. Sekarang istrahatlah. Besok masih ada hal yang perlu kita selesaikan”

Kamu beranjak meninggalkanku. Kupandangi punggungmu yang berjalan menuju kamarmu. Aku tahu masalah akan selalu ada. Tapi kata-katamu malam ini membuatku yakin, bahwa kita akan bisa melewatinya. Tak perlu menunggu untuk mendengar jawabanku. Malam ini aku menerima lamaranmu untuk menjadi istrimu.**


Share

Rindu Berkawan Air Mata…

Posted: Desember 2, 2010 in Gien Aquilan

Walau bukan yg pertama kali kami berpisah, hati ini tetap merasakan rindu.
rindu bercanda denganmu, rindu memandang wajahmu, dan juga rindu memelukmu.
rindu yang ku coba kabarkan pada sang rembulan, pada sang bintang, dan juga pada angin.. agar dapat terobati rindu ini. Namun rindu ini kian mendera, betapa terasa perih di hati dan betapa sulit membendung tumpahan air mata ini.

Rindu yang kadang dapat membuatku terdiam lama dan menangis dalam sunyi. Rindu yang kadang bisa membuatku tak dapat memejamkan mata dan yg bisa membuat badan ini terasa lemas tak bertenaga.
dan rindu yg selalu berakhir menjadi sebuah doa, semoaga ALLAH selalu melindungimu .. Nduutku sayang.

Ya Allah … samapaikan rindu ini padanya, serta bisikanlah betapa aku menyanyanginya.
Ya Allah … sampaikan juga pada orang yang hamba sayangi itu, betapa hamba ingin memeluknya.

Betapa jiwa ini tak kuasa jauh darimu.


Share

Malam Peramu Mimpi

Posted: Desember 2, 2010 in Kumpulan Cerita

Bagi seorang manusia, malam berjelaga adalah kumpulan kaca yang retak. Menyerak asa yang tersamar ke penjuru hidupnya. Namun bagi peramu mimpi, malam adalah kesenyapan yang mengabarkan ketenangan, menyelipkan aroma bahagia selaksa di alam mayapada.

Kalau boleh memilih, maka aku ingin meletakkan ramuan bahagia di tiap-tiap mimpi manusia. Tapi, aku tak kuasa, sebab manusia itu makhluk terpintar di dunia yang bisa mempengaruhi, selain tentu mereka juga termasuk terbodoh di dunia karena mudah dipengaruhi. Maaf, ini hanya penilaianku sebagai peramu mimpi selama adanya manusia di muka bumi ini.

Ya, aku khusus meramu berbagai ramuan untuk mimpi manusia. Terkadang aku bingung, apa yang dirisaukan manusia-manusia itu? udara, tanah, air semua gratis, lantas apa yang mereka pusingkan? Maaf , ini hanya pengamatanku dari tiga abad yang lalu.

Apapun, meramu mimpi adalah sebuah keasyikan tersendiri, setidaknya aku bisa membangun imaji, menyalakan semangat, memantik gurat bahagia di liang sukma. Tapi, bisa juga kebalikannya, terkadang aku menyurutkan nyali, meredupkan senyum dan menjelagakan bias wajah mereka di pagi harinya. Maaf, bukannya jahat, tapi bukankah manusia lebih jahat? entahlah.

Pernah aku keasyikan, saat seorang koruptor yang hendak tenggelam dalam mimpi, di sebuah hotel berbintang tentunya. Segera kuramu gelisah di sukmanya, dan lihatlah ia akan berguling-guling tak tentu arah di atas tempat tidur, semacam cacing kepanasan. Tapi, walau geram menelingkupi, tak sampai hati juga melihatnya tersiksa, maka kubiarkan ia lelap sekejap dalam mimpi penuh kehampaan, lantas lihatlah gurat hitam yang melingkar di bawah kelopak matanya di esok harinya. Nah! bisa kau lihat sendiri kan siapa yang lebih jahat? Maaf , ini pengalamanku kemarin sore.

Pernah suatu saat aku mendengar keluh, telingaku terguyur setumpuk perih. Apalah mampuku? Saat aku harus menitipkan mimpi pulas selepas manusia serigala memangsa, juga pada seorang pejabat di dalam hotel ‘merah’, juga pada kupu-kupu malam yang meringkuk di sudut remang, apakah aku layak menitipkannya? Entahlah, entahlah dan entahlah. Maaf, aku sebenarnya kecewa.

Selalu, hingga kini. Derap langkah-langkah itu menghentak di reruang penuh dengan lampu warna-warni, sesak dengan manusia yang bermandi keringat, meliuk- liuk tubuh mereka dalam hentakan musik yang dimainkan DJ. Kerap hingga pagi dan selepasnya semua berujung pada mimpi yang terpaksa kuberikan, karena aku kasihan pada penelan pil terlarang itu, sekaligus aku ingin manusia belajar dari hal ini. Maaf, jika yang kulakukan salah menurutmu.

Kemarin, aku meramu mimpi untuk seorang lelaki tua yang kerap kerkopiah ke mana saja. Mimpi yang kusemat untuknya adalah mimpi naik haji. Entahlah, semoga bila apa yang ia cita itu tak kesampaian di alam nyata, setidaknya sudah ia rasa di alam mimpinya. Maaf, hanya ini mampuku.

Saat ini, baru saja aku menuangkan mimpi pada sepasang muda mudi yang kasmaran, mereka kupertemukan di alam mimpi, entahlah, kuharap mereka lekas-lekas membangun rumah tangga yang bahagia. Setidaknya di alam mimpi mereka sudah merasakannya. Maaf, inilah aku.

Tadi sempat aku iseng, akan kubuat kesamaan antara mimpi dengan nyata. Tadi sempat kulihat Dina menggantung pakaiannya, kelihatannya pakaian untuk berangkat kuliah besok pagi. Sebuah batik berwarna hijau muda dengan padanan rok hitam. Dan kini dihadapanku adalah si Feri, pemuda yang menimbun cinta pada si Dina. Di mimpinya, si Dina menerima cintanya dengan berpakaian batik hijau muda dengan rok hitamnya, persis dengan pakaian yang akan dikenakan Dina esok hari. Hahaha, entah apa yang terjadi besok. Yang pasti Feri akan terperanjat melihat sosok Dina. Hahaha..! Maaf, beginilah aku terkadang.

Tapi, satu hal yang buatku bahagia, tatkala masih ada jiwa-jiwa malaikat di sekitarku. Ya!, merekalah manusia malaikat, hati mereka begitu bercahaya, aku merasakannya. Memang ada kelelahan menggelayuti mereka, setelah penat seharian menabur benih makna, cita dan cinta. Merekalah penikmat ramuan terbaikku, Ramuan berisi kenikmatan akan sebuah mimpi, berisi keindahan mayapada yang akan memompa semangat mereka untuk berbuat lebih lagi keesok harinya. Jadi maaf, bila ramuan terbaikku hanya untuk yang terbaik.

Kalau sedari tadi aku mengatakan kata ”maaf”, sebenarnya maaf itu untukmu kawan, kuceritakanlah padamu waktu itu dirimu terselubung kegalauan, tersemat keresahan, air matamu tak terbendung lagi, segera akan terderai gerimis. Saat itu jiwamu retak. Maaf, aku menyesal tak menuangkan mimpi indah di malam terakhirmu. Sekali lagi maaf, karena aku hanya Peramu mimpi, bukan peramu takdirmu.

@@@ http://peramumimpi.blogspot.com/2010/08/malam-peramu-mimpi.html


Share

Menemukan

Posted: Desember 2, 2010 in Gien Aquilan

sembari kau tertidur,
aku pernah berdoa dengan desahanmu
sembari kau berpergian,
aku pernah memawaskan ketajaman hatiku sendiri
dan sembari kau marah,
aku pernah memaki dan ingin menyakitimu lebih dalam lagi

Dan sembari aku mencintai
aku menemukan sesuatu
tentangku sendiri

Nanti kubisikkan padamu lagi
buka hatimu, aku merasuki

Sahabat, apa kau dengar itu…
diantara kekalutan hidup
dan diantara logika yang terpenjara

aku sesungguhnya tahu
aku menemukannya
menemukan titik


Share

Sebuah putaran kehidupan, disini aku berpijak. Tak mencaci, tak mencari kesalahan atau membenarkan sesuatu. Duduk di dekatku dan bentangkan kisah cinta luar biasa berbagi dan menjaga sebuah rasa.
Bukan tentangku, kau tak mengerti, bukan pula tentang dia. Tentangmu, tentang rasa, tentang harap.

Kemarin, ku lihat anak-anak bangsa berlari, berkerumun. Dengan tubuh kurus, perut buncit, mereka bermain-main, aku jadi tidak bisa makan. Minggu kemarin, rumah kebanjiran, kebanjiran air mata dan luapan emosi ibu-ibu budaya, merintih kehidupan yang pelik, dan bulan lalu ayah-ayah negeriku mabuk lalu pulang ke rumah dan sibuk melayangkan tamparan di hampir setiap dinding rumah.
Aku terseok dan mengamatinya tanpa berbuat apa-apa. Hari ini aku melihat pejabat-pejabat berparfum jutaan rupiah mengendap-endap ke dapur rumah, rakus ia mengambil jatah anak-anak bangsa, ibu-ibu budaya dan ayah-ayah negeri. Kucing pun tak kebagian, aku terkekeh-kekeh seperti jam dinding.
Dan malam ini, aku tak menemukan diriku, dirimu, dan siapapun di tempat ini. Tapi, ku lihat doa-doa bertebangan, mimpi-mimpi mengalir di lantai rumah mengapung di antara banjir yang mendera, dan Tuhan menurunkan tanganNya…


Share

Sisi Lain Anak Jalanan

Posted: Desember 2, 2010 in Kumpulan Artikel Unik

Temanku Whit adalah seorang pesulap profesional, dan ia disewa sebuah restoran di Los Angeles untuk bermain sulap tiap sore untuk menghibur pengunjung restoran sementara mereka makan. Suatu sore ia menghampiri sebuah keluarga, dan setelah memperkenalkan diri, ia mengeluarkan setumpuk kartu dan mulai beraksi. Ketika … Lihat Selengkapnyaberhadapan dengan seorang gadis kecil yang duduk di meja tersebut, ia diberitahu bahwa Wendy, anak tersebut, adalah seorang gadis buta. Whit menyahut,”Tak apa-apa. Kalau dia mau, saya ingin mencoba suatu tipuan sulap.” Sambil berbalik pada si anak, Whit berkata, “Wendy, kamu mau membantu saya melakukan tipuan ini?” Sambil malu-malu, Wendy mengangkat bahu dan berkata,”Mau”. Whit duduk di kursi di seberang Wendy, lalu berkata, “Saya akan menunjukkan sebuah kartu, Wendy, dan kartunya bisa berwarna merah dan hitam. Saya ingin kamu menggunakan kekuatan batinmu dan mengatakan apa warna kartu itu, merah atau hitam. Mengerti kan?” Wendy mengangguk. Whit menunjukkan kartu raja keriting dan berkata,”Wendy, ini kartu merah atau kartu hitam?” Sesaat kemudiaan, si anak buta menyahut,”Hitam”. Keluarga itu tersenyum. Whit mengangkat kartu tujuh hati dan berkata,”Ini kartu merah atau kartu hitam?” Wendy berkata,”merah” Lalu Whit mengangkat kartu ketiga, tiga wajik dan berkata,”merah atau hitam ?” Tanpa ragu-ragu, Wendy berkata,”merah !”. Keluarganya tertawa dengan gugup. Whit mengangkat tiga kartu lagi dan Wendy menebak ketiganya dengan benar ! Keluarganya hampir tak percaya betapa jitu tebakannya. Pada kartu ketujuh, Whit mengangkat lima hati dan berkata,”Wendy, saya ingin kamu menebak nilai dan jenis kartu ini. apakah hati, wajik, keriting atau daun.” Sejenak kemudian, Wendy menyahut dengan yakin, “kartunya lima hati” Keluarganya menghembuskan napas yang tertahan. Mereka tercengang ! Ayahnya menanyakan pada Whit apakah dia menggunakan tipuan atau sulap sungguhan. Whit menyahut, “Bapak harus tanya sendiri pada Wendy” Si ayah berkata,”Wendy, bagaimana caranya?” Wendy tersenyum dan berkata. “Sulap!”. Whit berjabatan tangan dengan seluruh keluarga, memeluk Wendy, meninggalkan kartu namanya, lalu mengucapkan salam perpisahan. Jelas ia telah menciptakan saat gaib yang tak kan pernah terlupakan oleh keluarga itu. Pertanyaannya, tentu, bagaimana Wendy tahu warna kartu itu ? karena Whit belum pernah bertemu Wendy sebelum peristiwa di restoran itu, ia tentu tak bisa memberi tahu sebelumnya kapan ia akan mengeluarkan kartu merah atau kartu hitam. dan karena Wendy buta, tak mungkin ia bisa melihat warna atau nilai kartu saat Whit menunjukkannya. jadi bagaimana caranya? Whit mampu menciptakan mukjijat sekali seumur hidup ini dengan menggunakan kode rahasia dan berpikir cepat. Pada awal kariernya, Whit menciptakan kode kaki untuk menyampaikan informasi kepada orang lain tanpa kata2. Ia belum sempat menggunakan kode itu sampai peristiwa di restoran itu. Saat Whit duduk di seberang Wendy dan berkata,” Saya akan menunjukkan sebuah kartu, Wendy, dan kartunya bisa merah atau hitam,” ia mengetuk kaki Wendy (di bawah kaki meja) sekali saat ia berkata “merah” dan dua kali saat ia mengatakan “hitam” Untuk meyakinkan bahwa Wendy mengerti, ia mengulang tanda rahasia itu dengan berkata, “Saya ingin kamu menggunakan kekuatan batinmu dan katakan, apa warna kartu itu, merah (tuk) atau hitam (tuk tuk). Kamu mengerti?” Waktu Wendy mengangguk, ia tahu bahwa Wendy sudah mengerti kodenya dan mau ikut bermain. Keluarganya menganggap waktu Whit bertanya apakah Wendy “mengerti,” dia merujuk perintah lisannya. Bagaimana ia memberitahu kartu lima hati pada Wendy ? Sederhana. Ia mengetuk kaki Wendy lima kali untuk memberitahu bahwa kartunya bernilai lima. Waktu ia menanyakan apakah kartunya hati, daun, keriting atau wajik, ia memberitahu jenisnya dengan mengetuk kaki Wendy pada saat ia mengatakan “hati” Sulap atau keajaiban sesungguhnya dari cerita ini adalah efeknya pada Wendy. PERISTIWA ITU BUKAN HANYA MEMBERINYA KESEMPATAN UNTUK BERSINAR SEJENAK DAN MERASA ISTIMEWA DI DEPAN KELUARGANYA, TAPI JUGA MEMBUATNYA MENJADI SEORANG BINTANG DI RUMAH. DIA YANG SELAMA INI MERASA MENJADI BEBAN DALAM KELUARGANYA, KINI MERASA SEJAJAR DENGAN MEREKA KARENA PERISTIWA ITU. Beberapa bulan setelah kejadian itu, Whit menerima sebuah paket dari Wendy. Isinya satu set kartu Braille, bersama sepucuk surat. Di dalam surat itu, Wendy berterima kasih karena Whit telah membuatnya merasa istimewa, dan menolongnya “melihat” untuk beberapa saat. WALAUPUN HINGGA SAAT ITU WENDY TETAP TIDAK BISA MELIHAT, NAMUN SULAP WHIT TELAH MENUMBUHKAN KEPERCAYAN DIRINYA YANG SELAMA INI HILANG. Wendy menutup isi suratnya dengan berkata bahwa ia ingin Whit menerima kartu braille tersebut supaya ia bisa memikirkan sulap lain untuk orang buta.


Share

https://upayfan.wordpress.com/my-lady-rose/

tidak bisa banyak yang mampuku lakukan
hanya ini hadiah yang mungkin berharga bagiku untuknya
namun ku tak yakin akau rasa bahagia atas hadiah yang ku berikan
tidak banya yang ku harap atas BLOG ini
aku hanya berharap tulisan yang terdapat di BLOG ini bisa menghibur dan memberi cahaya pada semua orang yang membacanya.


Share