Mengatasi Tantangan Hidup

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Artikel Unik

kecil dulu, saya sering bermain permainan yang bernama “tantangan” bersama teman saya. Permainannya cukup sederhana, saya cukup melakukan apa saja yang diminta teman saya. Begitu juga sebaliknya. Siapa yang tidak bisa memenuhi “tantangan” itu akan dinyatakan kalah dan mukanya harus dicoreng-moreng dengan bedak. Semua pemain, harus berusaha menuntaskan tantangan yang diberikan. Setelah saya beranjak dewasa, saya mulai menyadari bahwa permainan tersebut memunyai arti yang dalam dan bernilai. Dalam kehidupan ini, kita pasti dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang tidak sedikit. Bahkan tantangan-tantangan yang kita alami terkadang hampir menggoyahkan iman kita. Namun, demi mencapai keberhasilan mau tidak mau kita harus melewati tantangan tersebut. Bila kita menyerah, pasti hanya hasil buruk yang akan kita dapat.

Sama seperti buku karya Bill Crowder bertajuk “Mengatasi Tantangan Hidup”. Buku ini mengingatkan saya bahwa tantangan bisa menjadi guru yang baik. Guru kehidupan. Dengan tantangan dan persoalan yang ada, kita ditempa untuk menjadi orang yang kuat, teguh, dan kokoh dalam iman. Saya banyak belajar dari tokoh Yusuf, tokoh yang menjadi refleksi dalam buku ini. Yusuf mengalami banyak persoalan dalam hidupnya, mulai dari dijual oleh saudara-saudaranya sendiri sampai difitnah oleh istri Potifar dan dijebloskan ke dalam penjara. Apabila Yusuf seorang yang “miskin iman”, dia pasti sudah menyerah. Namun, Yusuf memunyai iman yang sangat besar kepada Tuhan. Dia tetap bertahan walaupun banyak masalah datang menerpa. Dengan tegas dia menolak ajakan istri Potifar untuk berzina. Dia tetap bersyukur meskipun dia dijebloskan ke dalam penjara atas apa yang tidak ia lakukan. Namun akhirnya, ia memeroleh keberhasilan serta menjadi pemimpin yang panutan. Semua tantangan memang dipersiapkan Allah untuk menempa karakter Yusuf.

Oleh Bill Crowder, tantangan-tantangan hidup dibagi ke dalam 5 sub-bab yaitu: mengatasi tantangan, mengatasi pencobaan, mengatasi kekecewaan, mengatasi keberhasilan, dan yang terakhir mengatasi sakit hati. Cara menghadapi tantangan pun bermacam-macam. Namun yang paling mengena di hati saya adalah pengampunan. Dengan mengampuni dan melupakan, kita bisa membuang rasa sakit hati kita jauh-jauh. Dengan tidak ada rasa dendam, hati dan perasaan kita juga akan senantiasa diliputi kedamaian. Mengapa cara itu yang paling mengena untuk saya? Karena saya mengakui bahwa mengampuni sekaligus melupakan bukan tindakan yang mudah untuk dilakukan. Apalagi bila tindakan orang tersebut secara manusiawi tidak bisa dimaafkan. Akan tetapi, hanya pengampunanlah satu-satunya cara untuk mengatasi kepahitan.

Melalui buku ini saya banyak belajar untuk berani menghadapi setiap tantangan dan persoalan yang ada dan menemukan cara-cara untuk mengatasinya. Meskipun buku ini tidak terlalu tebal, namun sangat padat berisi. Cara penyampaiannya pun tidak bertele-tele. Buku ini menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus bertahan dalam pencobaan. Bagaimana dengan Anda? Tentu saja Anda tidak ingin menyerah dan membiarkan “muka Anda tercoreng-moreng” bukan? Teruslah bertahan, Tuhan pasti memberi kekuatan.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s