Coba Lihat Dari Sudut Pandang Yang Tepat

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Artikel Unik, Kumpulan Cerita

Ini adalah satu kisah yg saya ambil dari kehidupan rumah tangga saya sendiri yg mana pada waktu itu hampir setiap hari sepulang saya kerja, pasti istri saya atau yg biasa saya panggil Mama, selalu saja ngomel-ngomel ndak karuan. Selidik punya selidik ternyata dia marah karena sepatu saya selalu meninggalkan jejaknya di atas karpet permadani ruang depan. Bukan hanya itu, rupanya anak-anak sayapun juga suka sekali bermain di atas karpet tersebut. Anak saya yg laki-laki selalu mengotorinya dengan memainkan mobil RCnya dari halaman rumah langsung masuk ke dalam lalu kembali lagi keluar, begitu seterusnya hingga roda-rodanya meninggalkan jejak kotoran di atas karpet dan lantai rumah. Sedangkan anak saya yg perempuan suka bermain pasar-pasaran dengan mengguntingi kertas kecil-kecil sebagai barang dagangannya. Bahkan tak jarang pula ia memetik dedaunan dan bunga-bunga dari taman depan.

Sebenarnya kalau urusan belanja, cucian, makanan, kebersihan dan kerapian rumah, Mama selalu dapat menanganinya dengan sangat baik. Rumah selalu tampak rapi, bersih dan teratur. Saya serta anak-anak pun sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah. Istri saya yg saya kenal pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumah nampak kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu saya atau kotoran lain dari anak-anak saya di atas karpet itu, dan suasana ndak enak pun akan berlangsung seharian. Padahal dengan dua orang anak di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan tentu saja itu akan sangat menyiksanya.

Lalu sayapun mulai introspeksi diri, dan juga mencoba untuk mencari solusi, gimana supaya Mama ndak suka marah-marah lagi dan menerima keadaan itu dengan lapang dada lalu membersihkannya lagi dengan ikhlas. Lha mau gimana lagi namanya juga anak-anak. Kalau saya sih mungkin bisa merubah kebiasaan dengan melepas sepatu sebelum masuk rumah (kalau ndak lupa), tapi anak-anak?? Saya rasa cukup sulit juga untuk melarang mereka main di atas karpet itu.

Akhirnya saya pun berinisiatif pergi menemui seorang sahabat lama yg kebetulan sudah sukses menjadi psikolog dan atas saran dari dia, saya pun lalu mengajak istri saya berkonsultasi padanya.
Mamapun lalu menceritakan segala apa yg menjadi masalah dan ganjalan hatinya selama ini.

Setelah mendengarkan cerita dari istri saya dengan seksama dan penuh perhatian, temen saya hanya tersenyum lalu berkata :

“Coba sekarang Ibu relax, pejamkan mata dan bayangkan saja apa yg akan saya katakan ini.”
Istri saya kemudian duduk santai, merebahkan tubuhnya di sebuah kursi goyang kemudian mulai memejamkan kedua matanya.

“Coba Ibu bayangkan rumah Ibu yg rapi dan karpet Ibu yg bersih harum mengembang, tak ternoda, tanpa jejak sepatu dan tanpa kotoran sedikitpun. Bagaimana perasaan Ibu?”

Masih tetap sambil menutup mata, nampak istri saya tersenyum, mukanya yg tadinya murung berubah menjadi cerah. Mama tampak senang dengan bayangan yg dilihatnya.
Teman saya pun lalu melanjutkan,

“Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah Ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Yaaah… mungkin suami Ibu sedang makan siang bersama wanita lain dan anak-anak Ibu sedang bermain di luar seharian sampai lupa waktu. Rumah Ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yg Ibu kasihi.”

Seketika raut wajah istri saya berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya berat mengandung isak. Sepertinya, perasaannya terguncang dan pikirannya langsung cemas membayangkan apa yg tengah terjadi pada saya dan anak-anak.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, Ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana, dan itu artinya suami dan anak-anak Ibu ada di rumah, orang-orang yg Ibu cintai ada bersama Ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu.”

Nampak istri saya mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

“Sekarang buka mata Ibu dan rasakan. Bagaimana? Apakah karpet yg kotor masih menjadi masalah buat Ibu?”

Tanpa menjawab, istri saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya istri sayapun bicara,

“Saya tahu maksud Anda. Jika kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yg tepat, maka hal yg semula tampak negatif, pasti dapat dilihat secara positif.”

Sejak saat itu, Mama ndak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yg kotor, karena setiap melihat jejak sepatu dan kotoran lain disana, ia tahu, bahwa saya dan anak-anak yg tentu saja sangat dikasihinya, sedang berada di rumah bersamanya.

Nah… teman-teman semua… kita hidup memang ndak akan pernah terlepas dari suatu masalah, dan mungkin saja masalah itu sangat mempengaruhi cara berpikir kita selama ini. Suatu hal yg sebenarnya sangat sepele, bisa saja berubah menjadi masalah yg cukup besar kalau kita melihatnya hanya dari satu sudut pandang saja. Sebaliknya, masalah yg besar akan dapat diatasi dengan begitu mudah jika kita mampu melihatnya dari sudut pandang yg tepat, dengan kata lain, jika kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yg tepat, maka hal yg semula tampak negatif, pasti dapat dimaknai secara positif.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s