Arsip untuk Desember 1, 2010

Biarlah

Posted: Desember 1, 2010 in Puisi

Saat ku tak taw kemana jalan tuk melangkah
Disaat kesendirian ini pun menghantuiku
Kucoba untuk berpegang pada hatimu
Mencoba mengertikan arti dirimu

Namun seperti yang pernah ada
Ku taw kau tak kan pernah bisa
Tuk mencintaiku lagi
Tuk menyayangiku kembali

Akankah ku bisa bertahan
Dalam kesendirianku
Dalam kesepianku
Tanpamu….disisiku

Dan biarkan kini kuberjalan sendiri
Menapaki hariku yang sunyi
Dan biarkanlah ku pergi…
Dari kepenatanku yang terus menunggu….dirimu

Kaulah segalanya bagiku
Kau hatiku..jiwaku dan kewarasanku

Sekarang biarkan ku mencoba
Tuk melupakanmu…tuk membunuh bayangmu
Walau ku tau ku tak kan pernah bisa lakukan itu
Disepanjang nyawaku masih disini


Share

Sepasang Telinga Itu

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Artikel Unik

Alkisah…
dengan mata memancar penuh kebahagiaan,

“bisa saya melihat bayi saya, Dok..?”

pinta seorang Ibu yg baru saja melahirkan anak pertamanya.
Begitulah awal dari kisah yg saya tulis kali ini, ketika gendongan itu sudah berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yg membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, Ibu itu menahan nafasnya.
Dokter yg menungguinya pun segera berbalik memandang ke arah luar jendela. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah daun telinga..! Na’udzubillahi mindhalik..

Namun demikian waktupun membuktikan, meski tanpa daun telinga, pendengaran bayi yg kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu, tetap bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yg memang nampak sedikit aneh.

Suatu hari anak lelaki itu berlarian pulang ke rumah dan segera membenamkan wajahnya di pelukan sang Ibu sambil menangis tanpa henti. Ibu itu sungguh bisa ikut merasakan bahwa hidup anak lelakinya pasti penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata,

“Ibu… seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh, masa’ anak manusia ndak punya daun telinga…”

Ibunyapun tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya tetesan air mata dan belai lembut yg sanggub ia berikan.

Waktu terus berlalu dan tahunpun berganti. Anak lelaki itu sekarang sudah tumbuh dewasa. Meski tanpa daun telinga, ia cukup tampan di balik ketidak-sempurnaannya. Ia pun mulai disukai beberapa teman di sekolahnya. Ia juga berbakat di bidang musik dan menulis. Ingin sekali ia menjadi ketua kelas, namun Ibunya selalu mengingatkan,
“bukankah dengan menjadi ketua kelas itu nantinya kamu akan bergaul dengan lebih banyak lagi remaja-remaja ya lain? dan apakah kamu sudah siap dengan segala konsekwensinya, anakku??”
jauh di lubuk hatinya, Ibu itu merasakan trenyuh yg amat sangat.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yg bisa mencangkokkan daun telinga untuknya.

“Saya yakin saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tapi harus ada seseorang yg bersedia mendonorkan telinganya”
kata dokter itu.
Kemudian, kedua orang tua itu mulai mencari siapa yg mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada anaknya.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah kini saatnya mereka memanggil anak lelakinya,
“Nak, seseorang yg tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya untukmu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia”
kata sang ayah.

Alhasil, operasi pun berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun tlah lahir. Lelaki tampan dengan bakat musiknya yg hebat. Kepiawaiannya dalam menulis pun mampu merubah dirinya menjadi kejeniusan tersendiri. Ia pun menerima banyak sekali penghargaan. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya,
“Yah, aku harus tahu siapa yg telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yg besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya.”

Ayahnya menjawab,
“Ayah yakin kamu takkan bisa membalas kebaikan hati orang yg telah memberikan telinga itu.”

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan,
“Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasianya rapat-rapat. Hingga suatu ketika, sebuah berita menyedihkan diterima oleh keluarga tersebut. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu harus menerima kenyataan, berdiri terpaku di depan jenazah ibunya.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…
Sang Ibu telah berpulang..!!

Dengan sangat perlahan, di sela-sela tetes air matanya, sang ayah membelai lembut rambut jenazah ibu yg terbujur kaku itu lalu berkata lirih pada anaknya,
“Anakku, coba kamu sibakkan rambut Ibumu…”

Anak itupun menuruti apa kata Ayahnya, dengan tangan gemetar, ia menyibakkan rambut Ibunya sehingga tampaklah bahwa ternyata sang ibu tidak memiliki daun telinga lagi. Klak..! Bagai tercekat kerongkongan anak itu bahkan untuk sekedar menelan ludah saja, itu sangat sulit baginya.

“Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya,”
bisik sang ayah. “dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan? Kecantikan yg sejati itu tidak terletak pada penampilan tubuh namun ada di dalam hatinya.
Harta karun yg hakiki itu tidak terletak pada apa yg bisa terlihat, namun pada apa yg tidak dapat dilihat.
Cinta yg sejati tidak terletak pada ‘apa yg telah dikerjakan dan diketahui’, tapi pada ‘apa yg telah dikerjakan namun tidak diketahui.”

Anak itupun hanya bisa menangis dan menangis tanpa henti sambil memeluk jasad Ibunya erat-erat,

“trimakasih Ibu… sungguh tak pernah terbayang olehku betapa besar pengorbananmu untukku…”


Share

Makna Keriput Di Kening Ayah

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Cerita

Suatu ketika tanpa sengaja, seorang gadis kecil melihat Ayahnya tengah mengusap-usap wajahnya sendiri yg nampak mulai keriput dengan badannya yg mulai sedikit bongkok, disertai dengan suara batuk yg begitu parau.

Gadis kecil itu lalu memberanikan diri untuk bertanya,

“Ayah… kenapa wajah Ayah kian hari kian keriput dengan badan yg kian membungkuk ?”

Sang ayah yg sedang beristirahat di beranda rumahpun lalu menjawab singkat,

“Sebab Ayahmu ini laki-laki, Nduk…”

Gadis kecil itu nampak bingung dan berguman dalam sendirinya,

“Saya ndak ngerti apa yg Ayah maksud…???”

Dengan kening berkerut, ia nampak termenung dalam kebingungannya. Namun Ayahnya hanya tersenyum sambil membelai rambut anaknya itu, lalu menepuk-nepuk pundaknya, kemudian berkata,

“Anakku, memang belum saatnya kamu mengerti banyak tentang lelaki…”

Demikianlah bisik sang Ayah, yg justru malah membuatnya semakin bingung.
Karena perasaan ingin tahunya yg cukup besar, gadis kecil itu lalu menghampiri Ibunya dan bertanya,

“Ibu, kenapa wajah Ayah jadi keriput dan badannya kian hari kian membungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”

Ibunya pun menjawab,

“Anakku… jika seorang lelaki benar-benar bertanggung-jawab terhadap keluarganya, ya memang akan seperti itu nantinya…”

Hanya itu jawaban Ibunya. Gadis itupun semakin mengerutkan keningnya. Ia masih belum mengerti, apa maksud dari jawaban Ibunya tadi.

Haripun berganti dan waktu kian berlalu… sekarang gadis kecil itu sudah besar dan menjadi dewasa, tetapi dia tetap masih bingung juga, mencari-cari jawaban, kenapa wajah ayahnya yg dulu tampan, sekarang jadi keriput dan badannya kian membungkuk?
Hingga pada suatu malam, dia bermimpi di satu tidurnya.
Dalam mimpinya itu seolah dia mendengar suara yg sangat lembut, namun jelas sekali kata-katanya, yg ternyata itu adalah suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban atas kebingungannya selama ini.

“Saat Aku menciptakan seorang lelaki… Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi”

“Ku ciptakan untuknya bahu yg kuat dan berotot agar mampu membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya”

“Ku berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yg berasal dari tetesan keringatnya sendiri yg halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walau terkadang seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya”

“Ku berikan keperkasaan dan mental baja yg akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram air hujan dan dihembus angin malam. Dia relakan tenaga perkasanya dicurahkan demi keluarganya. Dan yg selalu dia ingat adalah di saat semua anggota keluarga menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya”

“Ku berikan kesabaran, ketekunan serta kesungguhan, yg akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya, keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya”

“Ku berikan perasaan ulet dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, dalam suasana dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pulalah yg telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yg memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara”

“Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dikotak-katikkan oleh anak-anaknya”

“Ku berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa istri yg baik adalah istri yg setia terhadap suaminya. Istri yg baik adalah istri yg senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yg diberikan kepada istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sepadan dan saling melengkapi serta saling menyayangi”

“Ku berikan keriput diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa lelaki itu senantiasa berusaha sekuat daya fikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya dapat hidup dalam keluarga bahagia. Dan Ku jadikan badannya kian bongkok agar dapat membuktikan, bahwa sebagai lelaki yg bertanggung-jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, kesungguhannya demi kelanjutan hidup keluarganya”

“Ku berikan kepada lelaki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yg dimilikinya, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia dan juga di akhirat nanti”

Tersentaklah gadis itu dan terbangun dari tidurnya. Segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh, setelah itu dia hampiri peraduan ayahnya. Ia dapati sang Ayah sedang bersujud dan barulah ketika ayahnya berdiri gadis itu menggenggam dan mencium telapak tangan ayahnya.

“Ampuni anakmu ini Ayah…
Sungguh aku bisa ikut merasakan betapa berat bebanmu selama ini….”

Sahabatku semua… jika saat ini Ayah kalian masih bisa menemani menjalani hidup ini, jangan pernah kalian sia-siakan kesempatan untuk membuat hatinya merasa tersanjung bahagia.

Tapi bila Ayah kalian telah tiada, jangan putuskan tali silaturahmi yg telah dirintisnya, doakanlah agar Allah selalu
menjaganya dengan sebaik-baiknya, Amin.”


Share

Bila Mama Boleh Memilih

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Cerita

Suatu sore di sebuah rumah, seorang remaja putri baru aja pulang setelah seharian mengikuti pelajaran dan dilanjutkan ekskul di sekolahnya. Dan bukan hal yg mengherankan lagi kalau ia selalu mendapati rumahnya sepi tanpa penghuni kecuali Bik Inah yg lagi menyiram bunga di taman belakang. Ia tau. Pastilah Papanya masih sibuk di kantor, dan Mamanya selalu pulang malem ngurusin usaha konveksinya. Sedangkan kakak satu-satunya hanya pulang seminggu sekali karena harus menyelesaikan kuliahnya di luar kota.

Sebut saja ni anak, Ratih namanya. Seperti biasa sebelum masuk, Ratih selalu menggesekkan alas sepatunya di atas doormat di depan pintu. Segera ia membuka pintu, menutupnya lagi dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Tanpa melepas seragam, dia melempar tubuhnya di atas springbed. Sebuah diary kecil ia raih dari saku tas sekolah. Kata demi kata ditorehkannya di lembar-lembar putih itu. Ia tumpahkan segala kekecewaan atas kesibukan orang tuanya dan segala kepedihan serta kesepiannya selama ini. Di raut wajahnya jelas terpancar sebuah kekecewaan yg begitu mendalam.

“ya Allah… kenapa kedua orang tuaku lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang aku anaknya? Kenapa ya Allah..?
Papa… Mama… tahukah kalian? Betapa bahagianya aku andaikan kita semua bisa selalu berkumpul, menikmati teh bersama di teras rumah… sambil memandang langit senja yg memerah… tidakkah kalian menginginkan itu Pa…? Ma…?”

Ratih masih terus larut dalam air matanya yg mulai jatuh membasahi dan melunturkan tulisannya, ketika BB barunya berdering nyaring.

“iya Ma… kenapa??” jawab Ratih malas-malasan.

“udah mandi, Sayang..?”

“belum.”

“udah makan..??”

“dah tadi di skul.”

“hmmm… keliatannya anak Mama lagi sewot ni… kenapa Sayang..? tadi ada masalah ya di sekolah? bilang sama Mama, mungkin Mama bisa bantu…”

“enggak… sapa juga yg sewot… nggak ada masalah apa-apa koq..”

“ya udah… kalo Ratih nggak mau cerita sekarang, ntar aja kalo kita udah ketemu di rumah. Sekarang Ratih mau kan tolongin Mama? tolong kamu ganti air bunga tuberose di kamar Mama ya… tadi pagi Mama lupa menggantinya.”

“iya…”

“hati-hati gucinya jangan sampai pecah… dan ingat..! jangan nyuruh Bik Inah..!”

Setelah melempar BBnya di kasur, segera Ratih bergegas menuju kamar Mamanya dan kemudian membawa guci yg berisi bunga tuberose itu ke keran air di belakang rumah. Setelah itu, dia bawa lagi guci bunga itu kembali ke kamar.
Dan pada saat itulah mata Ratih menangkap sesuatu tergeletak di atas meja rias Mamanya. Sebuah Buku Catatan..! Catatan Mamanya. Buku itu masih dalam keadaan terbuka dan sebuah Pena pun masih menempel manis di atasnya.
Perlahan sekali Ratih mulai menyimak kata demi kata yg berserak di lembar-lembar Buku Catatan itu.

“Anakku… bila Mama boleh memilih, apakah Mama berbadan langsing atau berbadan besar karena mengandungmu, maka Mama pasti akan memilih mengandungmu…
Karena dalam mengandungmu Mama merasakan keajaiban dan kebesaran Allah. Sembilan bulan, Nak… kamu hidup di perut Mama, kamu ikut kemanapun Mama pergi, kamu ikut merasakan ketika jantung Mama berdetak karena bahagia,
kamu menendang rahim Mama ketika kamu merasa tidak nyaman karena Mama kecewa dan berurai air mata…

Anakku… bila Mama boleh memilih apakah operasi caesar atau Mama harus berjuang melahirkanmu… maka Mama pasti akan memilih berjuang melahirkanmu…
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit kelahiranmu adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu pintu surga. Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke luar ke dunia sangat Mama rasakan. Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita berdua. Malaikat tersenyum di antara peluh dan erangan rasa sakit yg tak pernah bisa Mama ceritakan kepada siapapun.
Dan ketika kamu hadir, tangismu memecah dunia. Saat itulah saat yg paling membahagiakan buat Mama. Segala sakit dan derita sirna, sesaat setelah melihat dirimu yg memerah. Mendengarkan Papamu mengumandangkan adzan, kalimat syahadat kebesaran Allah dan penetapan hati tentang junjungan kita Rasulullah di telinga mungilmu.

Anakku… bila Mama boleh memilih apakah Mama berdada indah atau harus bangun tengah malam untuk menyusuimu… maka Mama pasti akan memilih menyusuimu.
Karena dengan menyusuimu Mama telah membekali hidupmu dengan tetesan-tetesan dan tegukan-tegukan yg sangat berharga. Merasakan kehangatan bibir dan badanmu di dada Mama dalam kantuk Mama, adalah sebuah rasa luar biasa yg orang lain tak kan pernah bisa ikut merasakan.

Anakku… bila Mama boleh memilih duduk berlama-lama di ruang rapat, atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle, maka Mama pasti akan memilih bermain puzzle bersamamu. Camkan itu baik-baik, Anakku…

Tetapi ada satu hal yg sepertinya kamu harus tahu… hidup ini memang pilihan. Dan jika dengan pilihan Mama ini, kamu merasa sepi dan merana… maka maafkanlah, Nak…
Maafin Mama… Maafin Mama…

Percayalah… Mama sedang menyempurnakan puzzle kehidupan kita agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan kita yg hilang.
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka Mama juga. Kamu akan selalu menjadi belahan jiwa Mama…
Percayalah Nak… Mama sangat menyayangimu.”

Ratihpun tak kuasa lagi menahan linangan air matanya. Kalo tadi hanya menetes satu dua, sekarang ia biarkan itu semua jatuh menetes dan membasahi Catatan Mamanya. Ratihpun menangis tanpa mampu tuk menghentikannya, sampai akhirnya sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya dari belakang,

“Mama..??”

“iya Sayang… Mama udah ada disini sejak tadi…”

Tangis Ratih pun bukan makin berhenti tapi malah makin menjadi meski pelukan Mamanya terasa begitu menenangkan kegundahannya.

“Ya Allah, karuniakanlah Mamaku semulia-mulia tempat di sisi-Mu. Karena dia memang layak untuk itu. Ampuni dosa-dosanya ya Allah… Kebaikan dia lebih banyak dari pada kesalahannya. Dan akupun sangat menyayanginya…”


Share

PS : tulisan ini saya persembahkan buat kalian para Ibu dan para calon Ibu, Kartini Kartini muda yg pasti suatu saat juga akan merasakan nikmatnya menjadi Ibu. Semoga kisah ini mampu menginspirasi kalian semua.

Selamat Hari Kartini buat kalian semua.

“Ketika Aku menciptakan seorang Perempuan, ia diharuskan untuk menjadi seorang yg istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun harus cukup lembut pula dalam memberikan kenyamanan”

“Aku memberinya kekuatan dari dalam untuk menjadi Ibu yg melahirkan anaknya dan menerima segala macam bentuk penolakan yg seringkali datang dari anak-anaknya. Perempuan yg memiliki kepekaan yg luar biasa dalam mencintai anak-anaknya di setiap keadaan, bahkan disaat anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya sekalipun”

“Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh”

“Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalan, dan melengkapi tulang rusuknya untuk melindungi hatinya”

“Aku memberinya kebijaksanaan bahwa seorang suami yg baik tak kan menyakiti istrinya, tapi kadang Aku juga menguji kekuatan dan ketetapan hatinya untuk tetap berada disisi suaminya tanpa ragu”

“Dan akhirnya Aku memberinya air mata untuk diteteskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan ketika itu dibutuhkan”

Selamat Hari Ibu buat Gek, Nduk, Non, Mbak, Yuk, Jeng, Mama, Ibu, Emak, Nenek, Oma dan seluruh kaum Hawa di jagad semesta ini.

Buat para Adamnya, ingat :
“Kecantikan seorang wanita bukanlah dari busana yg ia kenakan, sosok yg ia tampilkan ataupun rambut yg ia merah-merahkan. Kecantikan seorang wanita hanya bisa dilihat dari dalam sorot matanya, karena disitulah pintu hatinya, tempat dimana cinta itu ada.”


Share

Ini adalah satu kisah yg saya ambil dari kehidupan rumah tangga saya sendiri yg mana pada waktu itu hampir setiap hari sepulang saya kerja, pasti istri saya atau yg biasa saya panggil Mama, selalu saja ngomel-ngomel ndak karuan. Selidik punya selidik ternyata dia marah karena sepatu saya selalu meninggalkan jejaknya di atas karpet permadani ruang depan. Bukan hanya itu, rupanya anak-anak sayapun juga suka sekali bermain di atas karpet tersebut. Anak saya yg laki-laki selalu mengotorinya dengan memainkan mobil RCnya dari halaman rumah langsung masuk ke dalam lalu kembali lagi keluar, begitu seterusnya hingga roda-rodanya meninggalkan jejak kotoran di atas karpet dan lantai rumah. Sedangkan anak saya yg perempuan suka bermain pasar-pasaran dengan mengguntingi kertas kecil-kecil sebagai barang dagangannya. Bahkan tak jarang pula ia memetik dedaunan dan bunga-bunga dari taman depan.

Sebenarnya kalau urusan belanja, cucian, makanan, kebersihan dan kerapian rumah, Mama selalu dapat menanganinya dengan sangat baik. Rumah selalu tampak rapi, bersih dan teratur. Saya serta anak-anak pun sangat menghargai pengabdiannya itu. Cuma ada satu masalah. Istri saya yg saya kenal pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumah nampak kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu saya atau kotoran lain dari anak-anak saya di atas karpet itu, dan suasana ndak enak pun akan berlangsung seharian. Padahal dengan dua orang anak di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan tentu saja itu akan sangat menyiksanya.

Lalu sayapun mulai introspeksi diri, dan juga mencoba untuk mencari solusi, gimana supaya Mama ndak suka marah-marah lagi dan menerima keadaan itu dengan lapang dada lalu membersihkannya lagi dengan ikhlas. Lha mau gimana lagi namanya juga anak-anak. Kalau saya sih mungkin bisa merubah kebiasaan dengan melepas sepatu sebelum masuk rumah (kalau ndak lupa), tapi anak-anak?? Saya rasa cukup sulit juga untuk melarang mereka main di atas karpet itu.

Akhirnya saya pun berinisiatif pergi menemui seorang sahabat lama yg kebetulan sudah sukses menjadi psikolog dan atas saran dari dia, saya pun lalu mengajak istri saya berkonsultasi padanya.
Mamapun lalu menceritakan segala apa yg menjadi masalah dan ganjalan hatinya selama ini.

Setelah mendengarkan cerita dari istri saya dengan seksama dan penuh perhatian, temen saya hanya tersenyum lalu berkata :

“Coba sekarang Ibu relax, pejamkan mata dan bayangkan saja apa yg akan saya katakan ini.”
Istri saya kemudian duduk santai, merebahkan tubuhnya di sebuah kursi goyang kemudian mulai memejamkan kedua matanya.

“Coba Ibu bayangkan rumah Ibu yg rapi dan karpet Ibu yg bersih harum mengembang, tak ternoda, tanpa jejak sepatu dan tanpa kotoran sedikitpun. Bagaimana perasaan Ibu?”

Masih tetap sambil menutup mata, nampak istri saya tersenyum, mukanya yg tadinya murung berubah menjadi cerah. Mama tampak senang dengan bayangan yg dilihatnya.
Teman saya pun lalu melanjutkan,

“Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah Ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka. Yaaah… mungkin suami Ibu sedang makan siang bersama wanita lain dan anak-anak Ibu sedang bermain di luar seharian sampai lupa waktu. Rumah Ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yg Ibu kasihi.”

Seketika raut wajah istri saya berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya berat mengandung isak. Sepertinya, perasaannya terguncang dan pikirannya langsung cemas membayangkan apa yg tengah terjadi pada saya dan anak-anak.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, Ibu melihat jejak sepatu dan kotoran di sana, dan itu artinya suami dan anak-anak Ibu ada di rumah, orang-orang yg Ibu cintai ada bersama Ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati Ibu.”

Nampak istri saya mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tersebut.

“Sekarang buka mata Ibu dan rasakan. Bagaimana? Apakah karpet yg kotor masih menjadi masalah buat Ibu?”

Tanpa menjawab, istri saya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Setelah cukup lama terdiam, akhirnya istri sayapun bicara,

“Saya tahu maksud Anda. Jika kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yg tepat, maka hal yg semula tampak negatif, pasti dapat dilihat secara positif.”

Sejak saat itu, Mama ndak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yg kotor, karena setiap melihat jejak sepatu dan kotoran lain disana, ia tahu, bahwa saya dan anak-anak yg tentu saja sangat dikasihinya, sedang berada di rumah bersamanya.

Nah… teman-teman semua… kita hidup memang ndak akan pernah terlepas dari suatu masalah, dan mungkin saja masalah itu sangat mempengaruhi cara berpikir kita selama ini. Suatu hal yg sebenarnya sangat sepele, bisa saja berubah menjadi masalah yg cukup besar kalau kita melihatnya hanya dari satu sudut pandang saja. Sebaliknya, masalah yg besar akan dapat diatasi dengan begitu mudah jika kita mampu melihatnya dari sudut pandang yg tepat, dengan kata lain, jika kita melihat sesuatu dengan sudut pandang yg tepat, maka hal yg semula tampak negatif, pasti dapat dimaknai secara positif.


Share

Ketika saya kecil dulu… waktu itu Ibu sedang menggenggam sehelai kain, dan saya sedang asyik bermain di lantai. Spontan lalu saya melihat ke atas dan bertanya tentang apa yg Ibu lakukan. Ibupun lantas menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas kain tersebut.
Tetapi saat itu saya tak percaya. Saya bilang kepadanya, bahwa yg saya lihat dari bawah hanyalah gumpalan benang yg semrawut dan ruwet tak berpola.

Dengan senyuman khasnya, Ibu lalu memandangku dan kemudian berkata lembut,
“Anakku… lanjutkan sajalah permainanmu, sementara biarkan Ibu menyelesaikan sulaman ini. Nanti ketika selesai, kamu akan Ibu panggil dan Ibu dudukkan di pangkuan Ibu. Dan kamu pasti akan dapat melihat sulaman ini dari atas.”

Saat itu saya benar-benar tak habis pikir, kenapa juga Ibu susah-susah menyulamkan benang hitam dan putih sampai begitu semrawutnya.
Lalu beberapa saat kemudian, saya mendengar suara Ibu memanggil,

“Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan Ibu.”

Sayapun menuruti apa yg Ibu katakan. Dan betapa takjubnya saya sesaat setelah melakukan itu. Saya kagum melihat sulaman bunga-bunga yg begitu indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yg sedang terbit. Sungguh itu adalah maha karya yg luar biasa indah. Saya hampir tak percaya melihatnya, sebab yg saya lihat sebelumnya dari bawah hanyalah benang-benang ruwet yg begitu semrawut. Sampai akhirnya, dengan penuh kelembutan, Ibu lalu menjelaskan,

“Anakku… ketika terbentang dan kamu melihatnya dari bawah, yg nampak di sehelai kain ini memang hanya rangkaian benang yg ruwet dan kacau. Tapi sesungguhnya kamu tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yg direncanakan.
Sebuah pola yg Ibu hanya tinggal mengikutinya. Dan sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat menikmati keindahan dari apa yg ibu kerjakan selama ini.”

Sering selama bertahun-tahun, saya berkhayal melihat ke atas dan bertanya kepada Allah,

“Ya Allah, apa yg Engkau lakukan?”

Ia menjawab, “Aku sedang menyulam benang-benang kehidupanmu.”

Dan sayapun membantah, “Tetapi yg saya rasakan hidup ini ruwet dan kusut, benang-benangnya banyak yg berwarna hitam. Mengapa tidak semuanya memakai benang yg berwarna cerah, ya Allah?”

Kemudian Allah menjawab, “Hamba-Ku… kamu teruskan sajalah pekerjaanmu di bumi ini sementara Aku juga akan menyelesaikan pekerjaan-Ku. Dan suatu saat nanti ketika waktunya tiba, Aku akan segera memanggilmu ke surga dan mendudukkanmu di pangkuan-Ku, dan kamu akan melihat rencana-Ku yg indah dari sisi-Ku.”

——o0o——

Subhanallah…
Beruntunglah orang-orang yg mampu menjaring ayat indah Allah dari keruwetan hidup di dunia ini. Semoga Allah berkenan menumbuhkan kesabaran dan mewariskan kearifan dalam hati hamba-Nya agar dapat memaknai kejadian-kejadian dalam perjalanan hidupnya di dunia. Seruwet apapun itu. Aamiin.

Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Pengatur segala sesuatu di alam semesta ini. Kendatipun manusia punya keinginan, tetapi Allah mempunyai keputusan yg tak mungkin dapat kita ubah.
Marilah kita senantiasa bertawakal kepada-Nya.

Saya punya keinginan, kalian punya keinginan, kita semua punya keinginan. Tetapi hanya keinginan Allah SWT lah yg pasti dan akan terjadi, karena memang hanya Dialah yg Maha Tahu dan Maha Kuasa atas segala apa yg ada. Subhanallah…


Share

Suatu hari… di rumah Eyang Putri (begitulah anakku biasa memanggil Mama), ku lihat Mama tengah bercakap-cakap dengan adik perempuanku satu-satunya yg sudah kian beranjak dewasa. Dari mimik mulut mereka, aku tau pasti mereka sedang membicarakan Papa yg memang jarang pulang akhir-akhir ini. Menurut pengakuannya sih kerja, ya maklumlah Papaku adalah seorang pengusaha Pub dan Resto yg cukup sibuk. Dan Resto Papa kebanyakan ada di luar kota. Jadi dalam sebulan, paling banter Papa pulang hanya tiga sampai empat kali saja. Itupun hanya setengah hari bisa duduk nyantai di rumah bersama kami sedangkan malamnya Papa harus pergi lagi ngurusin Pub dan Karaoke.
Papa selalu menenteng tas laptopnya setiap kali pulang dan turun dari Aerio-nya. Masih mengenakan kemeja lengan panjang dipadu dengan celana kain warna hitam dan sepatu coklat yg mengkilat. Begitulah gambaran setiap kali Papa pulang.

Dengan mata masih setengah nyawa, aku keluar dari kamar, setelah seharian tertidur pulas, kecapekan nyetir dari rumah kami di luar kota sampai ke rumah Mama tanpa ada yg menggantikan. Ku biarkan istri dan anakku melanjutkan tidur siangnya. Di sela-sela almari hias, dari balik tirai kelambu, ku lihat Mama sedang duduk di lantai keramik, memilah-milah baju Papa yg baru saja ia angkat dari tali jemuran. Disampingnya berbaring manja adik cantikku satu-satunya.

“Gak terasa, sudah 18 tahun usiamu, Adikku…” gumamku dalam hati.

“Mama…” dia Ratih namanya, “Mama kenapa sih gak pernah protes ngeliat Papa jarang pulang gitu?”

“Papa kamu lagi kerja Sayang…” sahut Mama tenang.

“Bo’ong..! Ratih ni udah gedhe Ma… uda tau sama hal-hal kayak gituan..”

“Hal-hal kayak gituan gimana maksud kamu??”

“Banyak temen Ratih yg ngeliat Papa sering jalan sama gadis-gadis cantik seumuran Ratih Ma…”

“huss..! Jangan asal bicara ya kamu, kalo Papa denger bisa marah lho..”

“halaaaah… udalah Ma.. Mama gak usah nutup-nutupin lagi.. Ratih udah tau semuanya.” sanggah Ratih sambil mencibir.

Ku lihat Mama lalu meletakkan baju yg tengah dipegangnya di atas alas setrikaan dan kemudian menggenggam kedua tangan Ratih erat. Dengan senyum penuh kasih dipandangnya sepasang mata itu dalam-dalam,

“Anakku… ingatlah selalu apa yg hendak Mama katakan ini. Dan ingat itu ketika kelak kamu sudah berumah-tangga dan suami kamu sudah setua Papa. Laki-laki seusia Papa itu, tengah mengalami masa remajanya yg kedua. Dia mulai sedikit kekurangan kepercayaan akan dirinya. Karena itu dia merasa membutuhkan gadis-gadis cantik dan muda di sekelilingnya yg akan selalu memberinya kata-kata pujian dan sanjungan. Yg dianggabnya itu sebagai bukti bahwa dia masih menarik, bahwa dia masih belum tua, bahwa para wanita masih mengejar-ngejar dia.”

Mama mengguncang-guncang tangan Ratih pelan dan mengusap anak rambut yg menempel di dahinya.

“Masa itu tidak akan berlangsung lama, Sayang… Bila sudah berlalu, Papa akan kembali lagi pada kita, pada Mama… Dan selama menanti, tidaklah berguna bagi Mama untuk bermuka asam atau menyambutnya dengan palang pintu, sebab itu hanya akan membuatnya lari dari rumah yg dianggabnya sudah jadi seperti neraka. Lebih baik kalo dia dimanjakan dan diberi kesan bahwa dia dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya. Ingat Ratih… tidak ada seorangpun yg tidak tergerak hatinya ketika mendapat perhatian lebih dari orang lain. Percayalah itu. Camkan baik-baik apa yg Mama bilang. Bila suamimu kelak sudah berumur mendekati lima puluh tahun, dan bila dia mulai tertarik lagi pada gadis-gadis cantik, janganlah kamu musuhi dia. Tapi tetaplah berhias yg cantik, sediakan minuman dan makanan yg masih hangat dan bereskan selalu tempat tidurnya. Siapkan baju-baju yg akan dipakainya seperti biasa.
Tutup mata kamu dan tersenyumlah. Tunggu sampai masa itu usai dan setelah semua berlalu, kamu akan merasakan sebuah kenikmatan hidup yg luar biasa. Yaitu ketika suami kamu akhirnya benar-benar kembali. Karena sesungguhnya, Tuhan akan memberikan sesuatu yg lebih pada hamba-Nya yg senantiasa sabar dan tawakal.”

“Mama….” spontan Ratih langsung bangun dan memeluk Mama erat sambil menangis.

Subhanallah… begitu mulianya hatimu Mama..
Dengan begitu bijaknya, Mama menjawab pertanyaan Ratih, membela Papa yg sudah jelas-jelas bersalah, mengkhianati kepercayaan yg Mama berikan. Jujur aku kagum pada kemuliaan hatimu Ma… dan semua apa yg Mama katakan itu benar-benar membuatku tergugah. Aku janji, aku akan berusaha untuk sebisa mungkin mengindari hal itu.
Ya Allah… betulkah semua apa yg Mama katakan itu..? Akankah aku nanti juga seperti itu?? Jangan ya Allah… jangan Kau buat hamba menjauh dari istri dan anak-anak hamba. Hamba sayang banget dengan mereka.#
PS :
Semua kisah di atas hanyalah fiksi semata yg saya tulis karena terinspirasi dari postingan Vie_three, Mama dan Bunda yg di ikutkan dalam Karnaval Blog : Minum Teh Bersama Ibu dari guskar.com
Sedangkan pada kenyataannya, saya ndak pernah punya adik karena saya anak bungsu dan kedua orang tua saya sudah beristirahat dengan tenang di sisi-Nya sejak beberapa tahun silam.
Ini semua hanyalah khayalan masa kecil saya sebagai anak bungsu yg pengin sekali punya seorang adik perempuan.
Andaikan saya anak pertama dan memiliki satu adik perempuan… tinggal di sebuah rumah mewah… mempunyai Papa seorang pengusaha dan Mama yg sangat bijak dan penyabar… hmmm… betapa nikmat dan indahnya hidup ini ya Allah…
Jadi saya ndak perlu bela-belain ngamen, nyopet hanya demi untuk membayar tunggakan SPP, hahaha…. santai aja Bos… jangan terlalu di ambil hati.


Share

Buat kalian para Suami, para Istri maupun para calon suami istri, perlu kalian tau bahwa ini adalah satu kisah ‘tragis’ dalam kehidupan berumah-tangga. Saya yakin kalian nanti pasti akan menyesal dan terpaksa membaca ulang dari awal jika melewatkan satu kalimat saja dalam kisah yg saya tulis ini.

Semuanya berawal dari sebuah rumah mewah di pinggiran desa, yg mana hiduplah disana sepasang suami istri, sebut saja Pak Andre dan Bu Rina.
Pak Andre adalah anak tunggal keturunan orang terpandang di desa itu, sedangkan Bu Rina adalah anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua Pak Andre, sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Karena selain rajin, patuh dan taat beribadah, Bu Rina juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yg lalu.

Sekilas orang memandang, mereka adalah pasangan yg sangat harmonis. Para tetangganya pun tahu bagaimana mereka dulu merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, pasangan itu belum lengkap.
Dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahannya, mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya Pak Andre putus asa hingga walau masih sangat cinta, dia berniat untuk menceraikan sang istri, yg dianggabnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yg mendalam, akhirnya Bu Rina pun menyerah pada keputusan suaminya untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yg tidak menentu, suami istri itupun menyampaikan rencana perceraian tersebut kepada orang tuanya. Orang tuanya pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan Pak Andre sudah bulat. Dia tetap akan menceraikan Bu Rina.

Setelah berdebat cukup lama dan alot, akhirnya dengan berat hati kedua orang tua itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yg sama besar seperti besarnya pesta saat mereka menikah dulu.
Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Saya berani sumpah bahwa itu adalah sebuah pesta yg sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yg hadir. Pak Andre nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara Bu Rina tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipinya.
Di sela mabuknya itu tiba-tiba Pak Andre berdiri tegap dan berkata lantang,

“Istriku, saat kamu pergi nanti… ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yg kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!”

Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, seusai pesta, Pak Andre terbangun dengan kepala yg masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu. Rina istrinya, yg masih sangat ia cintai, sosok yg selama bertahun-tahun ini menemani hidupnya.
Maka, dia pun lalu bertanya,

“Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan…”

Bu Rina pun lalu menatap suaminya penuh cinta, dan dengan mata berkaca dia menjawab,

“Suamiku… ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yg aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yg berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!”

Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Pak Andre pun lalu bangun dan kemudian memeluk istrinya erat dan cukup lama sambil terdiam. Bu Rina pun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. Ia biarkan kedua tangannya tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh kurusnya.

“Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun…”

Kedua suami istri itupun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalannya masing-masing. Mereka akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkannya.
Yup… till death do apart..! Subhanallah…#.#.#

Tahukah kalian, apa yg dapat kita pelajari dari kisah di atas?
Kalau menurut Kang Sugeng sih begini, tujuan utama dari sebuah pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan keturunan, meski diakui mendapatkan buah hati itu adalah dambaan setiap pasangan suami istri, tapi sebenarnya masih banyak hal-hal lain yg juga perlu diselami dalam hidup berumah-tangga.
Untuk itu rasanya kita perlu menyegarkan kembali tujuan kita dalam menikah yaitu peneguhan janji sepasang suami istri untuk saling mencintai, saling menjaga baik dalam keadaan suka maupun duka. Melalui kesadaran tersebut, apapun kondisi rumah tangga yg kita jalani akan menemukan suatu solusi. Sebab proses menemukan solusi dengan berlandaskan kasih sayang ketika menghadapi sebuah masalah, sebenarnya merupakan salah satu kunci keharmonisan rumah tangga kita.

“Harta dalam rumah tangga itu bukanlah terletak dari banyaknya tumpukan materi yg dimiliki, namun dari rasa kasih sayang dan cinta pasangan suami istri yg terdapat dalam keluarga tersebut. Maka jagalah harta keluarga yg sangat berharga itu..!”


Share

Mengatasi Tantangan Hidup

Posted: Desember 1, 2010 in Kumpulan Artikel Unik

kecil dulu, saya sering bermain permainan yang bernama “tantangan” bersama teman saya. Permainannya cukup sederhana, saya cukup melakukan apa saja yang diminta teman saya. Begitu juga sebaliknya. Siapa yang tidak bisa memenuhi “tantangan” itu akan dinyatakan kalah dan mukanya harus dicoreng-moreng dengan bedak. Semua pemain, harus berusaha menuntaskan tantangan yang diberikan. Setelah saya beranjak dewasa, saya mulai menyadari bahwa permainan tersebut memunyai arti yang dalam dan bernilai. Dalam kehidupan ini, kita pasti dihadapkan dengan tantangan-tantangan yang tidak sedikit. Bahkan tantangan-tantangan yang kita alami terkadang hampir menggoyahkan iman kita. Namun, demi mencapai keberhasilan mau tidak mau kita harus melewati tantangan tersebut. Bila kita menyerah, pasti hanya hasil buruk yang akan kita dapat.

Sama seperti buku karya Bill Crowder bertajuk “Mengatasi Tantangan Hidup”. Buku ini mengingatkan saya bahwa tantangan bisa menjadi guru yang baik. Guru kehidupan. Dengan tantangan dan persoalan yang ada, kita ditempa untuk menjadi orang yang kuat, teguh, dan kokoh dalam iman. Saya banyak belajar dari tokoh Yusuf, tokoh yang menjadi refleksi dalam buku ini. Yusuf mengalami banyak persoalan dalam hidupnya, mulai dari dijual oleh saudara-saudaranya sendiri sampai difitnah oleh istri Potifar dan dijebloskan ke dalam penjara. Apabila Yusuf seorang yang “miskin iman”, dia pasti sudah menyerah. Namun, Yusuf memunyai iman yang sangat besar kepada Tuhan. Dia tetap bertahan walaupun banyak masalah datang menerpa. Dengan tegas dia menolak ajakan istri Potifar untuk berzina. Dia tetap bersyukur meskipun dia dijebloskan ke dalam penjara atas apa yang tidak ia lakukan. Namun akhirnya, ia memeroleh keberhasilan serta menjadi pemimpin yang panutan. Semua tantangan memang dipersiapkan Allah untuk menempa karakter Yusuf.

Oleh Bill Crowder, tantangan-tantangan hidup dibagi ke dalam 5 sub-bab yaitu: mengatasi tantangan, mengatasi pencobaan, mengatasi kekecewaan, mengatasi keberhasilan, dan yang terakhir mengatasi sakit hati. Cara menghadapi tantangan pun bermacam-macam. Namun yang paling mengena di hati saya adalah pengampunan. Dengan mengampuni dan melupakan, kita bisa membuang rasa sakit hati kita jauh-jauh. Dengan tidak ada rasa dendam, hati dan perasaan kita juga akan senantiasa diliputi kedamaian. Mengapa cara itu yang paling mengena untuk saya? Karena saya mengakui bahwa mengampuni sekaligus melupakan bukan tindakan yang mudah untuk dilakukan. Apalagi bila tindakan orang tersebut secara manusiawi tidak bisa dimaafkan. Akan tetapi, hanya pengampunanlah satu-satunya cara untuk mengatasi kepahitan.

Melalui buku ini saya banyak belajar untuk berani menghadapi setiap tantangan dan persoalan yang ada dan menemukan cara-cara untuk mengatasinya. Meskipun buku ini tidak terlalu tebal, namun sangat padat berisi. Cara penyampaiannya pun tidak bertele-tele. Buku ini menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk terus bertahan dalam pencobaan. Bagaimana dengan Anda? Tentu saja Anda tidak ingin menyerah dan membiarkan “muka Anda tercoreng-moreng” bukan? Teruslah bertahan, Tuhan pasti memberi kekuatan.


Share