86 Keluarga Korban Merapi Pilih Sumatera (TRANSMIGRASI)

Posted: November 30, 2010 in Kumpulan Artikel Berita Nasional

BOYOLALI, KOMPAS.com – Sebanyak 86 keluarga di lereng Gunung Merapi pada wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sudah siap mengikuti program transmigrasi.

“Ada 86 keluarga di Boyolali sudah diseleksi dan siap diberangkatkan mengikuti transmigrasi,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial Pemerintah Kabupaten Boyolali, Sugianto, di Boyolali, Selasa (03/11/2010).

Namun, katanya, mereka mengharapkan ditempatkan di wilayah Pulau Sumatera. Mereka berasal dari Kecamatan Selo sebanyak lima keluarga, Cepogo (11), Ampel (27), dan Musuk (43).

Ia mengharapkan, warga tersebut mengikuti program transmigrasi umum sehingga diprioritaskan oleh pemerintah pusat. “Kami sudah sampaikan ke pusat atau Dirjen Transmigrasi,” katanya.

Setelah letusan Gunung Merapi, pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada warga lereng Merapi di Desa Tlogolele yang hanya sekitar 3,5 kilometer dari puncak gunung berapi di perbatasan Jateng dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu.

“Kami sosialisasikan kepada masyarakat setempat agar secara sukarela mengikuti salah satu solusi program pemerintah yakni transmigrasi itu,” katanya. Pada November 2010, katanya, pihaknya juga sudah memberangkatkan 12 keluarga di Boyolali ke Ketapang, Kalimantan Barat.

“Mereka diberangkatkan dengan transmigran lainnya melalui Provinsi Jawa Tengah,” katanya. Jumlah keluarga dari Boyolali yang sudah diberangkatkan selama 2010 sebanyak 60 keluarga.

Di antara 60 keluarga tersebut, kata dia, sebanyak 30 keluarga mengikuti program transmigrasi umum ke Ketapang dan Sampit di Kalimantan Barat, sedangkan 30 keluarga lainnya ikut transmigrasi swakarsa mandiri (TSM).

“Sebanyak 60 transmigran itu, 37 keluarga di antaranya, pemukimannya terkena dampak bencana erupsi Gunung Merapi,” katanya.

Disnakertransos hingga saat ini terus melakukan sosialisasi kepada warga lereng Merapi agar mereka secara sukarela mendaftar program transmigrasi umun.

Mereka, katanya, mendapatkan jatah hidup selama enam bulan, lahan pertanian sekitar dua hektare atau tergantung lokasinya, bibit, dan uang saku atau transpor.

“Calon transmigran diseleksi, termasuk cek kesehatannya, dan dilatih keterampilannya sebelum mereka diberangkatkan di lokasi transmigrasi,” kata Sugianto.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s