Untuk Perempuan Bermahligai Rembulan

Posted: November 29, 2010 in Kumpulan Artikel Cinta

Perempuan Bermahligai Rembulan,

Apa kabarmu?

Cuaca di awal bulan Oktober ini sungguh sangat tak terduga. Seharusnya–menurut ramalan meteorologi– hujan akan turun membasahi bumi, dan awal bencana banjir akan tiba. Tapi ternyata tidak. Mentari masih bersinar cerah, tak ada satupun mendung kelam menggelayut di langit.

“Ini efek pemanasan global,” begitu katamu. Selalu, seperti berapologi sekaligus menunjukkan pengetahuanmu yang luas tentang deviasi cuaca akibat gejala ini. Dan aku, juga selalu, akan mengangguk-angguk perlahan sambil tetap menatap takjub binar matamu yang mengerjap indah.

“Ini,”lanjutmu lagi,”membuat iklim di berbagai belahan dunia, susah ditebak, sulit diprediksi, kapan mulai atau berakhirnya”.

“Ya,” sergahku tiba-tiba. “Seperti kamu, juga susah diprediksi, sebuah dampak buruk dari efek pemanasan global. Kadang-kadang terik menyengat lalu tiba-tiba dingin menggetarkan. Sungguh menyebalkan, juga sangat menggemaskan. Sejak kapan sih kamu mulai “berkoalisi” dengan “efek pemanasan global” itu?”

Kamu tertawa geli, menunjukkan barisan rapi gigimu yang mendadak menjelma seperti terali yang memenjarakanku dibalik pesona kilaunya.

Ah, kamu memang selalu membuatku terperangkap dan tak bisa lepas dari kerinduan untuk selalu dekat denganmu,bahkan ketika ratusan purnama berlalu melewati tingkap waktu. Meski tentu saja, aku tahu, adalah tak mudah memahamimu. Mengerti keinginanmu yang kerap berubah tanpa sempat memberiku waktu untuk sekedar sadar apa sebenarnya yang telah terjadi.

Ketika payung telah kusiapkan untuk menghadapi hempasan badaimu, kamu justru tiba kepadaku dengan desir gerimis kecil sembari tertawa menengadahkan wajah menyambut titik-titik air itu menyiram lembut kulitmu atau saat tak kusiapkan apa-apa karena menganggap langit akan cerah seperti langit bulan Juni,, kamu datang kepadaku dengan badai tornado yang dashyat menerbangkanku jauh ke awan lalu membantingku keras ke lantai bumi. Kamu sungguh-sungguh tak terduga. Bingung sekali rasanya menghadapimu.

“Persekutuan” mu dengan “efek pemanasan global” membuatku untuk mencoba terus belajar memahamimu. Mendeteksi secara dini gejala spesifik kapan kamu bahagia, marah atau malah kedua-duanya sekaligus.Tapi tak mudah. Dan itu membuat kita berbeda. Juga jauh.

Seperti saat ini ketika badai itu kembali kamu kirimkan kepadaku bersama gelegar petir, hempasan angin dan deras hujan, membuatku meringkuk, gemetar kedinginan. Sendirian. Bersama desir rindu yang luruh sia-sia di sudut hati.

Saat semuanya tergenang dan tenggelam, aku melihatmu begitu jauh disana, berdiri tegak pada sebuah pulau kecil dimana butuh sebuah perahu untuk mencapainya. Harapan sederhana lantas terbit dihati. Karena bumi ini bulat, selalu ada kemungkinan untuk bisa bertemu denganmu kembali pada sebuah tempat, disuatu waktu, dimana aku bisa menikmati mahligai rembulan dari sosokmu yang memancar lembut melerai gundah hati.

Lalu kita bersama menikmati pelangi yang berkilau indah seusai badai hujan seraya lirih kulantunkan puisi untukmu

Pernahkah kau bayangkan
Rangkaian mimpi yang kupahat di temaram langit
Adalah wujud rinduku yang luruh dalam hening
Dan tenggelam dalam kerik jengkerik di beranda

Pernahkah kau bayangkan
Disetiap rentang waktu yang riuh
dimana kurekat erat binar matamu
Selalu kutitipkan harap disana
Dalam desau angin dan desir gerimis senja

Pernahkah kau bayangkan
Pada kelopak mawar disudut taman
Dan jernih embun yang menitik diatasnya
Kusimpan gigil gairahku yang membara padamu
Disetiap tarikan nafas
saat kulukis paras purnamamu di kanvas hatiku


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s