Untuk Dia, Yang Pergi Membawa Kelam di Hatinya

Posted: November 29, 2010 in Kumpulan Artikel Cinta, Kumpulan Cerita

“Ini untuk dia, yang pergi membawa kelam dihatinya,” suara perempuan itu bergetar di ujung telepon. Aku menggigit bibir seraya menatap Wilson, sang operator lagu pasanganku, yang balas menatapku dengan senyum maklum.

Seperti biasa. Setiap kali perempuan itu menelepon.

“Tolong Mas, putarkan saja kembali lagu itu. Aku ingin mengenang sosok yang pernah lekat dibatin itu kembali, selalu, lewat radio ini, sama dengan yang sudah aku lakukan pada malam kemarin, juga malam-malam sebelumnya”, lanjut perempuan tersebut dengan suara lirih. Isak tangis terdengar diantara kalimat-kalimatnya.

Aku menghela nafas panjang.

Rasa kesal dan juga kasihan bercampur aduk jadi satu dalam batin. Untuk kesekian kalinya, dia merahasiakan siapa gerangan lelaki yang setiap malam ia bingkiskan lagu “Soledad” yang didendangkan begitu melankolis oleh kelompok vokal Westlife tersebut.

Dan perempuan itu, setiap malam selama dua minggu terakhir ini (kecuali malam senin) saat acara “Midnight Song” diudarakan pasti menelepon pada suatu waktu selama acara itu berlangsung dan senantiasa meminta lagu yang sama.

“Tapi mbak..lagu ini sudah diputar berulang kali hampir tiap hari di stasiun radio kami atas permintaan mbak sendiri. Para pendengar kami yang lain tentu saja akan..”, mendadak kalimat saya terpotong.

“Aku tahu itu Mas,”tukas perempuan tersebut. “Namun tentu acara ini dibuat untuk mengakomodir permintaan setiap pendengar radio termasuk aku kan’? Tidak perduli seberapa sering aku memintanya dan juga lagu apa yang aku harapkan untuk diputar”

“Anda benar Mbak, tapi, beberapa pendengar kami menyampaikan keluhan atas permintaan anda yang aneh ini: meminta lagu yang sama setiap kali acara ini berlangsung dan selalu hanya untuk “dia yang pergi membawa kelam di hatinya”. Ini aneh dan tentu mengundang tanda tanya dibenak kami semua serta para pendengar setia radio “Aura FM”. Apakah anda tidak berkeberatan kiranya membagi kisah anda tentang “dia” serta hal-hal yang melatarbelakangi mengapa anda sering memesan lagu “Soledad”setiap kali menelepon kesini?, Ya..paling tidak ini akan menjawab rasa penasaran dan meminta mbak untuk berbagi duka, siapa tahu ada yang bisa memberikan solusi terbaik “, aku mencoba menjelaskan dengan suara setenang mungkin.

Terdengar suara desah diujung telepon. Perempuan itu seperti menyimpan sebuah beban berat yang tak kuasa untuk disampaikan.

“Ini tentang masa lalu yang pahit dan luka kehilangan…” suara perempuan itu menggantung di udara.

Aku menahan nafas. Tegang. Wilson terlihat mengacungkan jempol dari balik dinding kaca seperti ingin memberikan semangat agar aku terus “menggali” rahasia perempuan penyuka lagu“Soledad” tersebut.

“Katakan saja mbak, kami mendengarkan’” ujarku pelan dengan tenggorokan tercekat.

Terdengar helaan nafas berat disana. Aku melihat Wilson mengangguk-angguk mendukung. Ia terlihat begitu bersemangat.

Isak tangis terdengar pilu diseberang sana.

“Mohon maaf, aku tak bisa. Tolong putarkan saja, terimakasih,” usai mengucapkan kalimat tersebut perempuan tadi menutup hubungan telepon.

Aku melihat Wilson menepuk jidatnya.

Rahasia itu kembali tak jua terkuak.

****

Lagu “Soledad” baru saja berhenti mengalun. Perempuan itu membasuh airmata yang membasahi pipinya dengan punggung tangan. Kenangan tentang lelaki tersebut kembali menghantam benaknya. Perih. Ngilu. Nelangsa. Dan membuat hatinya berdarah. Setiap malam.

Lamunannya pun terbang pada kejadian 2 bulan silam.

Bimo berdiri tegak didepannya dengan seragam co-pilot salah satu maskapai penerbangan terkenal. Saskia menatap kagum sosok tinggi dan tampan serta memiliki sorot tajam mata elang itu tak berkedip.Dalam hati ia mensyukuri karunia Tuhan kepadanya atas kehadiran Bimo yang senantiasa setia menemaninya meniti hari.Hubungan kasihnya dengan Bimo sudah memasuki usia setahun sejak pertama kali diperkenalkan oleh kedua orang tua mereka disalah satu pesta keluarga.

“Kamu cantik sekali hari ini, Saskia,” ujar Bimo lembut seraya membelai rambut sang kekasih.”Tumben ada angin apa nih muji-muji aku, biasanya kamu langsung ngeloyor pulang,”goda Saskia.

“Nggak tau juga ya Sas, aku hanya merasa, hari ini kamu terlihat begitu cantik. Beda dengan hari-hari lain,” sahut Bimo dengan tatapan aneh.

“Berarti kalau hari-hari lain, aku jelek ya..,” kata Saskia pura-pura merajuk.

Bimo terkekeh geli.

“Bagiku, hari-hari yang lain, kamu memang tidak cantik. Tapi jelita. Sudah ya, malam ini, dengan pesawat terakhir aku ada tugas terbang ke Manado.Nginap disana dan pagi-pagi kembali kesini sekalian menikmati masa bebas tugas. Bersamamu,”sahut Bimo sambil menepuk lembut pipi Saskia yang langsung merah merona.

Hujan turun makin lebat. Tirai air tipis yang sebelumnya jatuh ke bumi, menjelma menjadi guyuran deras seperti ditumpahkan dari langit. Bimo mendengus kesal, tampaknya ia segera membayangkan tantangan yang bakal dihadapi menerbangkan pesawat ditengah cuaca buruk seperti ini.

Saskia mengantar Bimo dengan payung hingga ke mobil Suzuki Aerionya. Sebelum membuka pintu mobil, Bimo sempat berbalik dan mengecup kening Saskia. Lama.

“Jaga dirimu, Sas. Aku pasti kembali untukmu,”ucap Bimo lirih seperti akan pergi ketempat yang sangat jauh dan terpencil. Saskia sempat menangkap nada getir disana apalagi saat melihat sorot mata Bimo yang aneh seperti disaput kabut kelam. Ia menepis jauh-jauh firasat buruk yang tiba-tiba hinggap di batinnya.

“Kamu juga ya Bim, hati-hati. Terutama godaan pramugari cantik,”jawab Saskia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan canda.

Bimo tersenyum.

Senyum paling manis dan terakhir yang pernah dilihat Saskia karena keesokan harinya Headline disejumlah media cetak dan elektronik menampilkan berita tragis musibah jatuhnya pesawat yang kebetulan dikemudikan Bimo dalam perjalanan Jakarta-Manado. Seluruh penumpang dan awak pesawat diketemukan tewas dalam kecelakaan tersebut.

Perlahan, Saskia, perempuan itu merengkuh sebuah kertas putih dari laci mejanya. Kesendirian ini pada akhirnya membuat ia sampai pada sebuah titik yang membuatnya nyaris gila. Kehilangan Bimo membuat segala harapan hidupnya musnah. Hilang tak berbekas.

Kenangan tentang lelaki yang menyimpan keteduhan dan ketenangan danau jernih di matanya itu senantiasa membetot Saskia kedalam pusaran waktu dimana segala keindahan rasa dan cinta berpadu menjadi satu dalam sebuah denyar kebahagiaan yang meletup-letup di dada. Dengan mengirim lagu kegemaran mereka berdua itu setiap tengah malam, Saskia senantiasa menganggap almarhum Bimo-nya akan mendengar lagu tersebut di alam tempat ia bersemayam dan ikut merasakan kesendiriannya saat ini.

Saskia menghela nafas panjang. Rasa duka ini begitu berat menggayuti dada. Ia merenung dalam-dalam. Waktu akan terus berjalan, bergulir perlahan juga berdesing amat cepat dan ia akan tumbuh dari hari ke hari, mengalami berbagai kelebat peristiwa. Ke arah mana dan akan jadi apa, ia tak akan tahu pasti. “Sanggupkah aku berserah diri dalam ketidakpastian? Bahwa aku, dan juga semua orang tak akan tahu pasti apa yang akan terjadi besok”, tanyanya dalam hati.

Malam kian larut, lamat-lamat, suara Stein Rakasiwi, penyiar Radio “Aura FM” menyampaikan kalimat penutup di akhir acaranya yang mengutip sebuah tulisan :

Setiap dari kita menyukai perjumpaan. Selalu ada harapan baru dan segar yang muncul dari sebuah perjumpaan dengan seseorang.Tapi seringnya kita tidak menyongsong perpisahan dengan sikap yang sama. Jika kita kilas ke belakang, adakah perpisahan yang masih kita sesalkan? Dan dari segala perpisahan yang terjadi dalam hidup kita, berapakah di antaranya yang sudah menerbitkan pelajaran atau hikmah yang indah?

Sepotong kata “selamat tinggal” atau “putus” kadang menjadi pil pahit yang amat kita hindari. Namun ibarat sebutir obat yang kita minum saat sakit, justru lewat kegetiranlah kita belajar menanggulangi sesuatu. Hati kita semakin kuat. Perjalanan hidup semakin bermakna.

Perpisahan seringkali dicap sebagai musibah. Tapi, sebagaimana segala peristiwa dalam hidup, musibah atau berkah hanyalah kemasan yang membungkus sebuah pelajaran berharga. Terkadang perpisahan adalah jawaban. Meski pahit dan sedih, perpisahan tak jarang memberi kita ruang segar untuk mencicipi hidup dari sisi yang baru. Hanya saja dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk menyadarinya.

Kita mesti senantiasa percaya, segala sesuatu dalam hidup ini tidak pernah ada yang sia-sia.

Selamat tidur dan bermimpi para pendengar “Midnight Song” yang Budiman, terimakasih sudah menemani kami dalam acara ini dan semoga hari esok akan senantiasa lebih baik dari hari ini. Salam hangat dari kami Stein Rakasiwi dan Wilson..”

Saskia menggigit bibir. Uraian kalimat Stein meresap jauh kedalam dan menyentuh dasar hatinya.

Perlahan, jemari Saskia mulai menari menuliskan sesuatu diatas kertas putih. Sebuah puisi.

***

“Perempuan itu sepertinya sudah tidak waras, Son, sebaiknya kita hentikan saja, telepon permintaan lagunya yang “over dosis” itu,” ucapku seraya menyeruput kopi di ruang pantry radio “Aura FM”

“Jangan dong! Justru ini jadi daya tarik stasiun radio kita. Tau nggak? Gara-gara telepon perempuan itu, kantor kita dibanjiri telepon dan fax yang menanyakan latar belakang dan kisah perempuan penyuka lagu Soledad itu. Simpati para pendengar acara “Midnight Song”mengalir sejak perempuan aneh itu menelepon,” sergah Wilson spontan.

Aku hanya angkat bahu.

Mendadak sebuah panggilan datang dari luar.

“Ada telepon, tuh. Aku ke mejaku dulu ya Son,” ujarku buru-buru pergi.

Setelah meletakkan kopi di meja, Aku mengangkat telepon.

Dan disana, aku seperti mendengar suara yang sangat dikenal. Suara perempuan penggemar lagu “Soledad”!.

“Hai, Mas Stein, aku Saskia. Mungkin sudah familiar dengan suara ini,” terdengar suara lembut diseberang sana.

“Ya…aku tahu, anda adalah..”

“Perempuan penggemar lagu Soledad itu kan’?”

Aku terkekeh pelan. “Betul, Oke mbak, ada yang bisa saya bantu?”

Terdengar helaan nafas panjang diujung sana.

“Mulai hari ini, aku tidak akan mengirim lagi request lagu yang aneh dan berulang-ulang di acara “Midnight Song” yang Mas Stein asuh. Hanya mohon bantuan Mas Stein untuk membacakan puisi yang baru saja aku kirim lewat fax ke kantor radio Aura FM”, tutur Saskia lirih.

“Oke Saskia, terus…setelah puisi itu dibacakan, apakah mau diputarkan ulang lagi lagu “Soledad” seperti biasa?”, tanyaku iseng.

“Tidak, aku mohon, usai puisi itu dibacakan, disusul dengan lagu dari William Brother’s berjudul “I Can’t Cry Hard Enough”. Terimakasih ya sebelumnya,” ujar Saskia seraya menutup telepon.

Aku tak sempat berkata apa-apa lagi. Hanya terpaku dan seperti tak percaya pada apa yang baru saja aku alami ini.

***

Malam itu, Saskia tersenyum saat suara Stein membacakan puisinya di acara “Midnight Song”. Sebuah puisi yang merupakan ekspresi batinnya. Tentang luka. Tentang kehilangan. Tentang perpisahan. Tentang kesedihan. Juga tentang Bimo, yang pergi membawa kelam dihatinya.

Kita, Katamu

Bagai dua ilalang liar

yang tumbuh di hamparan rumput halus

dimana embun enggan beranjak

dari selusur daunnya

walau terik mentari hangat menyengat

Kita, Katamu

Adalah bau tanah basah seusai hujan pagi

yang meruap perlahan mendekati jendela terbuka

pada bilik sepasang pengantin baru

yang lantas menghirup wanginya bersama

sembari tersenyum simpul

mengingat syahdu malam pertama

dengan rasa bahagia memenuhi dada

Kita, Katamu

seperti dua angsa putih berenang riang

di danau tenang

dengan sayap berkepak-kepak riuh

yang membuat air beriak

dan ikan-ikan didalamnya,

mendelik cemburu

atau mungkin mendesah patah hati

Kita, Katamu

ibarat kerlip lampu mercusuar

yang menerangi langit malam bertabur bintang

dan pasir putih di bibir pantai

yang dicium malu-malu pada tepiannya

oleh debur lembut ombak laut

Kita, katamu

seumpama serpih-serpih kenangan

yang mengapung rapuh di udara

menari bersama desir angin beranda

yang menerbangkannya jauh

hingga angan pun tak mampu menggapai

Kita, Katamu

serupa geliat cemas dan rindu

yang disimpan diam-diam

di jagad hati

lalu berharap

jarak itu bisa kita lipat

dengan cinta sebagai pengikat

Kita, katamu..

Adalah senyap yang menetap

pada setiap sajak pilu

yang kita tulis

dengan luka

tanpa airmata..


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s