Hujan

Posted: November 29, 2010 in Kumpulan Cerita

Mo meninggalkan kantor jam tujuh lima belas malam setelah menyelesaikan pekerjaan rekannya yang tidak masuk karena sakit. Udara dingin, angin bertiup agak kencang, membuatnya menyesal tidak membawa baju hangat. Ia membawa payung yang cukup untuk satu orang, duduk di halte bis di sebelah wanita hamil. Ia tidak terburu-buru, lagipula jika ada maksud terburu-buru maka segeralah maksud itu diurungkan karena macet di jalanan belumlah hilang. Antara ia dan wanita itu sama-sama tahu kalau mereka bekerja di gedung yang sama. Wanita itu berharap Mo dapat menemaninya hingga dia mendapatkan taksi. Tapi mereka tidak berkenalan. Mo meninggalkannya sendirian setelah mendapatkan bis yang tidak terlalu penuh penumpang.

Mo duduk di samping jendela, membuka kaca jendela lebar-lebar lalu mengeluarkan kepalanya sedikit untuk melihat hal-hal yang sama tiap harinya: kemacetan, polisi lalu lintas bertubuh gemuk, iklan-iklan besar di papan reklame, iklan-iklan di spanduk, iklan-iklan elektronik dengan slogan berjalan, kafe pinggir jalan, ruang-ruang santai, pedagang kaki lima, mobil-mobil mewah di jalur cepat, gedung-gedung dengan beberapa ruangan yang masih terang, anak-anak jalanan, orang-orang yang duduk dan berdiri menunggu bis. Jalanan ini telah menjadi bagian hidupnya selama delapan tahun. Sering ia bertanya apakah ia akan masih di jalan yang sama tahun depan? Ia masih ingat apa yang dia pikirkan di perjalanan pulang kemarin: pekerjaannya, keluhan teman-teman kantornya, rencana akhir pekan, rencana cuti, alasan mengapa ia terjebak dalam kejenuhan kerja, masa lalunya, dan … hujan turun. Ia menutup jendela. Suara bising jalanan berubah menjadi gemuruh hujan. Ia menikmatinya karena inilah irama yang bisa menemaninya tidur.

Tiba-tiba air jatuh di atas lengannya, masuk dari sela-sela jendela, menciprat semakin deras seiring bis berlari kencang. Ada sesuatu yang mengganjal jendela sehingga tidak menutup penuh. Untungnya ini akhir pekan, jadi tidak mengapa ia terpaksa berbasah-basahan. Penumpang pria di sebelahnya tersenyum menaruh simpati. Tapi simpati tidak merubah keadaan. Mo tidak bisa kembali tidur. Ia menutupi lengannya yang basah dengan tasnya.

Mo turun di gerbang tol II dan akan melanjutkan perjalanan dengan bis yang lain. Anak-anak kecil berebutan menawarkan ojek payung di pintu keluar. Mo mengangkat tangan dan menunjukkan payungnya pada mereka. Di pinggir jalan, seorang lelaki tua berdiri kehujanan. Mo berjalan ke arahnya dan berbagi payung kecilnya. Lelaki tua itu mengucapkan terima kasih. Mo sengaja menggabungkan payungnya dengan payung kecil milik seorang wanita sehingga dapat memayungi tiga orang. Ia menanyakan tujuan lelaki tua itu. Lelaki tua itu menjawab ke Purwakarta. Lelaki tua itu seorang pesuruh di sebuah bank di Jakarta dan terbiasa pulang pergi di hari kerja. Capek bukanlah masalah, lelah sudah jadi bagian hidupnya karena keluargalah yang utama, demikianlah lelaki tua itu berkata padanya. Mo berfikir seharusnya dirinya lebih mensyukuri kehidupannya. Tentunya, gajinya lebih besar dari lelaki tua itu, pekerjaannya lebih baik dan jarak rumah dan kantor tidak sejauh lelaki tua itu. Tidak berapa lama lelaki tua itu mendapatkan bis-nya dan mohon diri sambil mengucapkan terima kasih.

Malam semakin larut, orang-orang yang menunggu bis terus bertambah. Preman-preman yang biasa meminta paksa uang pada kernet bis tidak kelihatan malam itu. Mereka berlindung di rumah masing-masing menikmati pisang goreng buatan sang ibu. Hanya beberapa pedagang yang masih bertahan. Anak-anak kecil menawarkan payung pada penumpang yang turun dari bis. Beberapa orang menyambutnya, yang lain menolaknya karena membawa payung atau terlalu pelit mengeluarkan sedikit uang. Orang-orang datang dan pergi, Mo masih menanti bisnya.

MO samar-samar melihat seorang perempuan datang berlari padanya, menutupi kepalanya dengan tas. Rambut dan seluruh tubuhnya basah hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya. Perempuan muda itu mengenalinya. Mo tersenyum padanya, menyapanya dan memberi ruang padanya untuk berteduh. Mereka pulang ke arah yang sama. Di bis yang sama mereka duduk bersebelahan.

Perempuan itu bernama Nur. Tidak ada kerinduan diantara mereka meski telah sekian lama tidak bertemu. Pembicaraan ringan hanya untuk menghabiskan waktu sambil menunggu berpisah. Mo sesekali melirik wajahnya, menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi Nur hanya diam sambil memandang ke arah luar. Tidak ada masalah di antara mereka. Ini hanya pertemuan biasa yang bisa terjadi setiap saat.

Uap dingin menutupi jendela, bias-bias lampu berlarian, air menetes dari atap bis dan jatuh di lengan Mo. Ia berpikir bagaimana ia bisa mendapatkan dua bis bocor dalam satu perjalanan. Ia mengeringkan dengan tangan kirinya sehingga membuat lengan kanannya dan lengan kiri Nur bersentuhan, merasakan bulu-bulu halusnya Nur, menggetarkan hatinya. Pandangan mereka bertemu namun hanya sesaat karena mereka kembali tenggelam dalam pikiran lain.

Bis berhenti. Mo yang turun pertama menanti Nur di samping pintu keluar sambil memegang payung dengan tangan kirinya. Tangan kanannya diulurkan untuk menyambut tangan Nur. Tapi Nur tidak melihat tangan Mo. Ia melangkah turun setengah terhuyung dan hampir terjatuh jika tidak memegang bahu Mo. Dan mata mereka bertemu sesaat. Mereka berjalan melewati genangan air, mencari bagian yang lebih tinggi, menghindari kendaraan yang datang dari arah belakang dan lewat di samping kanan mereka. Mo berjalan di belakangnya, memayunginya, tapi ia membiarkan dirinya basah. Nur memuji kebaikan Mo. Mo memuji kecantikan Nur. Masing-masing mengatakannya dalam hati.

Mo mengatakan bahwa kemacetan, rutinitas kerja yang menjemukan, bos yang menyebalkan dan trik-trik menyenangkan hati bos merupakan kesan yang tidak pernah dirasakan oleh manajer perusahaan atau bos-bos besar. Tapi ia mencoba untuk tidak mengeluh.

“Bukankah ini berkah dari Tuhan?” lanjut Mo. Yang ia maksudkan adalah keberkahan menjadi seorang staf biasa.

Nur mencoba untuk sependapat. Namun baginya menjadi seorang bos atau menajer itu jauh lebih baik; punya supir pribadi, tidak kehujanan dan gaji besar.

“Tentu saja aku memilih menjadi bos” jawab Mo sedikit kecewa. Padahal ia hanya ingin mengatakan jika pernyataannya tadi hanya untuk menyenangkan staf biasa seperti dirinya dan perempuan itu.

Angin dan hujan datang dari arah kanan mereka, membuat Nur semakin rapat pada Mo. Mo pindah posisi ke sebelah kanan Nur. Ia membayangkan memeluk Nur dengan sebelah tangannya atau mengeringkan wajah Nur dengan sapu tangannya. Payungnya tidak kuat menahan angin dan hampir-hampir terbalik jika ia tidak menahannya dengan tangannya. Tiba-tiba sebuah mobil sedan yang datang dari belakang mereka mencipratkan air dan tanah, dan mengenai wajah Mo. Nur melompat pendek ke samping kiri. Mereka berhenti melangkah. Nur memerhatikan wajah Mo yang kotor dan memberinya sapu tangan. Mo meraih sapu tangan putih itu, mengucapkan terima kasih namun enggan mengotorinya.

“Staff only” kata Mo.

Mereka tersenyum, mereka tertawa. Sebelumnya, tidak pernah kejadian ini dialami oleh keduanya dengan siapapun. Mereka berjalan mendekatkan diri, memegang payung bersama seiring arah angin dan hujan yang datang tak beraturan.

Tuhan menurunkan hujan untuk maksud-maksud tertentu yang terkadang tidak dimengerti manusia. Dan untuk segala maksud yang dipahami seharusnya menjadikan manusia selalu bersyukur. Pertemuannya dengan Nur membuka kenangan Mo saat ia masih sekolah. Ia pernah jatuh cinta padanya tapi tidak pernah menyatakannya. Waktu itu semua anak lelaki mendambakan Nur untuk menjadi kekasihnya. Mereka datang dengan kelebihan masing-masing: ketampanan, kekayaan, kepintaran atau sekedar pesona menarik perhatian. Mo hanya orang biasa dan tidak diperhatikan. Nur mengingat Mo sebagai anak lelaki yang meminjamkannya payung saat hujan deras di jam pulang sekolah. Tidak lebih, meski Mo menganggapnya sebagai sesuatu yang luar biasa.

Dan sebagaimana pertemuan terjadi, perpisahan datang bukan atas keinginan mereka. Di perempatan jalan Mo mengucapkan selamat tinggal. Nur membalasnya dengan ucapan terima kasih dan senyuman yang akan selalu diingat Mo. Hujan belum reda, jalan-jalan masih dipadati kendaraan, orang-orang berlarian mencari tempat teduh, anak-anak kecil menawarkan payung, para kaki lima menawarkan dagangan di sela-sela kemacetan.

Nur berteduh di depan sebuah toko, mengeluarkan telepon selularnya dan menghubungi suaminya untuk menjemputnya. Mo berjalan di jalanan sepi, orang-orang berteduh di teras toko, beberapa berlarian mendahuluinya. Ia menutup payungnya, wajahnya diarahkan ke langit, merasakan air dingin jatuh ke wajahnya, membayangkan kembali ke masa lalu ketika ia membiarkan dirinya kebasahan demi perempuan itu dan pulang dengan teguran ibunya. Ia tersenyum membayangkan pertemuannya tadi. Ya, perempuan itu teramat cantik untuk seorang lelaki biasa.

Mo mempercepat langkahnya, memegang payung di tangan kiri dan tangan kanannya memeluk tas. Ia bergegas karena di rumahnya seseorang menunggu, seorang perempuan yang lebih ia cintai.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s