Rumah Itu Simpan Kenangan Sukartinah (Kisah Cicit Pangeran Diponegoro)

Posted: November 28, 2010 in Kumpulan Artikel Berita Nasional, Kumpulan Artikel Kemerdekaan, Kumpulan Artikel Sejarah

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi cicit Pangeran Diponegoro, Sukartinah Maruzar (69) rumah tua peninggalan sang ayah Soekardjono Reksosoeprojo, menyimpan banyak kenangan. Di rumah ini ia tumbuh bersama empat saudaranya dan tinggal menikmati masa tua bersama mendiang suaminya.

“Rumah ini cukup luas, ada sebelas kamar. Tiap anak punya kamar sendiri,” kata Sukartinah saat ditemui di rumahnya, di Jalan Blitar Nomor 3 Menteng Jakarta Pusat, Senin (15/11/2010). Di rumah ini, ia juga tinggal bersama sang suami yang telah meninggal dunia tujuh tahun lalu. “Dulu di rumah ini, suami saya setiap hari bermain musik dengan keyboard. Ia memainkannya dan menyanyikan lagu setiap hari,” kenang Sukartinah.

Karena tak mau selalu terkenang sang suami, Sukartinah menjual barang-barang yang mengingatkan pada sosoknya, salah satunya alat musik tersebut. Selain barang peninggalan suami, rumah yang sudah ditempati sejak ia berusia sembilan tahun ini menyimpan romantisme yang ia jalani bersama suaminya.

“Di rumah ini banyak suasana romantis bersama almarhum. Dulu rambut saya yang berwarna putih selalu dia yang mengecat menjadi hitam. Muka saya pun ia olesi krim agar tampak cerah,” cerita Sukartinah mengenang suaminya.

Sukartinah mengakui ia bahagia mendapat warisan rumah dari sang ayah. Namun, pernah suatu kali ia mengeluh bahwa rumah yang besar ini membawa masalah yang besar pula. “Saya pernah mengeluh kepada almarhum ayah, dalam batin saya bilang kenapa diwarisi rumah besar dengan masalah yang besar pula. Tapi buru-buru saya minta maaf, ini adalah amanah,” kenangnya.

Menghadapi kasus sengketa rumahnya, Sukartinah yang duduk di kursi roda mengaku siap, ia meyakini pihaknya benar. Seperti diberitakan, rumah warisan Sukartini telah menjadi sengketa sejak tahun 1987. Ia mengaku kalau ayahnya membeli dari perusahaan Belanda yang telah dinasionalisasikan menjadi PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).

PPI sendiri kini bangkrut dan tidak bisa membayar 59 pegawainya. PPI kemudian menyatakan memiliki aset di Jalan Blitar No. 3 Menteng Jakarta Pusat, kalau 59 pegawainya ingin ganti rugi. Pegawai PPI kemudian menggugat rumah yang diwarisi Sukartinah.

Kasus sengketa rumah ini telah dibawa sampai Mahkamah Agung dan dimenangkan oleh Sukartinah. Namun, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melelang rumah ini.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s