PERLINDUNGAN HUKUM WARISAN BUDAYA

Posted: November 27, 2010 in Kumpulan Artikel Berita Nasional

“Benda cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan, sehingga perlu dilindungi dan dilestarikan demi pemupukan kesadaran jatidiri bangsa dan kepentingan nasional”. Inilah salah satu isi diktum pertimbangan UU No 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.

Pentingnya perlindungan dan pelestarian warisan budaya dan sejarah ini juga menjadi kebutuhan dan tuntutan masyarakat internasional. Hal ini dapat dilihat dalam Laporan Kongres PBB ke-VII tentang Pencegahan Kejahatan dan Pembinaan Narapidana di Navana, Cuba, tanggal 27 Agustus s/d 7 September 1990, yang antara lain menyangkut :

1. Pencurian/penyelundupan barang-barang kebudayaan berharga;
2. Kelengkapan peraturan perundang-undangan dalam rangka memberikan perlindungan dengan barang-barang peninggalan budaya; dan
3. Perlawanan terhadap lalu lintas internasional atas barang-barang.
Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya. Menurut Arsin Nalam, tujuan pelestarian benda-benda kuno adalah agar masyarakat dapat memahami sejarah, sekaligus juga menghargai karya cipta yang melekat pada benda kuno, sedangkan kecintaan nasional terhadap benda-benda kuno akan menumbuhkan harga diri bangsa. Pemahaman sejarah tanpa bentuk nyata akan sulit menumbuhkan kebanggaan nasional.

Pangkalpinang merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki beberapa benda cagar budaya (BCB), seperti Pemakaman Belanda (Kerkhof) dijalan Hormen Madati, Klenteng Kwan Tie Miaw (Amal Bhakti) dijalan Mayor Muhidin, Katedral Santo Yosep dijalan Gereja, Masjid Jamik dijalan Masjid Jamik, Makam China Tua (Boen Piet Liem) dijalan Semabung, Makam China Tua (Boen Men Cheiw) dijalan Demang Singayudha, Pemakaman Belanda dijalan Komplek Solihin GP, Museum Timah dijalan A.Yani, Rumah Dinas Walikota/Rumah Residen, dijalan Merdeka No. 1 dan Taman Sari (Tugu Pergerakan Kemerdekaan) dijalan Merdeka (Bangka Pos, Sabtu 19 Juli 2008).

Adanya anjuran DPRD Kota Pangkalpinang agar Pemkot mengajukan draf Raperda mengenai perlindungan benda cagar budaya atau situs merupakan hal yang sangat positif bagi pelestarian dan perlindungan peninggalan sejarah dan kekayaan budaya yang ada di kota ini. Di beberapa daerah lain, Perda seperti ini sudah lama ada, diantaranya di Pemkot Semarang ada Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Semarang No : 646/50/1992 tentang Konservasi Bangunan-Bangunan Kuno/Bersejarah Di Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Semarang dan Perda No. 8/2003 tentang Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Kota Lama Semarang. Kemudian di Pemprov Jawa Barat telah memiliki Perda No. 7/2003 tentang Pengeloaan Kepurbakalaan, Kesejarahan, Nilai Tradisional dan Museum. Namun yang terpenting dari pembuatan Perda tersebut nanti adalah hendaknya Perda tidak hanya sekedar tempat legalitas saja untuk menetapkan beberapa peninggalan sejarah sebagai benda cagar budaya, sementara upaya pelestarian dan perlindungannya tidak ada sama sekali.

Sedikit berbagi pengalaman, saya pernah melakukan penelitian tentang upaya pelestarian benda cagar budaya Lawang Sewu di kota Semarang. Mungkin sebagian anda ada yang tahu tentang Lawang Sewu, karena bangunan kuno 2 lantai yang memiliki ruang bawah tanah peninggalan Belanda 100 tahun yang lalu itu pernah difilmkan. Lawang Sewu ditetapkan sebagai benda cagar budaya kategori A dalam Perda Kota Semarang di atas, yang artinya utama untuk dilindungi dan dilestarikan, serta dijaga kualitas keaslian dan nilai sejarahnya. Namun dari hasil penelitian, yang terjadi adalah kebalikannya, bangunan tersebut jauh dari kesan sebagai benda cagar budaya yang dilindungi dan dilestarikan. Hal seperti ini hendaknya tidak terjadi terhadap benda cagar budaya di Pangkalpinang.

Perlindungan Hukum
Selama ini dapat dikatakan perhatian pemerintah, bahkan masyarakat masih kurang terhadap upaya perlindungan dan pelestarian benda cagar budaya. Sehingga tidak heran apabila banyak bangunan/benda bersejarah yang rusak, tidak terawat, dicuri, dilelang dan dimiliki oleh kolektor asing, bahkan ada arca palsu di museum Solo. Jadi yang selama ini kita lihat, pelajari dan amati adalah benda-benda sejarah bajakan.

Kebijakan hukum pidana dalam upaya pencegahan dan penanggulangan tindak pidana terhadap benda cagar budaya sebenarnya sudah sejak lama ada. Di awali sejak masa penjajahan Belanda telah ada peraturan perundang-undangan tentang perlindungan peninggalan sejarah dan kepurbakalaan, yaitu Monumenten Ordonnantie 1931 (Stbl. No. 238 Tahun 1931), yang lazim disingkat M.O. Namun M.O ini kemudian diganti dengan UU No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Peraturan pelaksana dari undang-undang tersebut adalah PP No 10/1993.

Adapun ketentuan pidananya adalah :

Pasal 26 :

Sengaja merusak benda cagar budaya dan situs serta lingkungannya atau membawa, memindahkan, mengambil, mengubah bentuk dan/atau warna, memugar, atau memisahkan tanpa izin dari Pemerintah dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 10 tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp 100.000.000

Pasal 27 :

Sengaja melakukan pencarian BCB atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya dengan cara penggalian, penyelaman, pengangkatan, atau dengan cara pencarian lainnya tanpa izin dari Pemerintah dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 50.000.000

Pasal 28 :

Tidak mendaftarkan pemilikan, pengalihan hak, dan pemindahan tempat, tidak melapor atas hilang dan/atau rusaknya benda cagar budaya, tidak melapor atas penemuan atau mengetahui ditemukannya benda cagar budaya atau benda yang diduga sebagai BCB atau benda berharga yang tidak diketahui pemiliknya, memanfaatkan kembali benda cagar budaya yang tidak sesuai dengan fungsinya semula dan menggandakan tanpa seizin Pemerintah; masing-masing dipidana dengan pidana kurungan selama-lamanya 1 tahun dan/atau denda setinggi-tingginya Rp. 10.000.000.

Namun, selama ini pelanggaran/kejahatan terhadap ketentuan-ketentuan pidana tersebut masih lemah dalam penegakan hukumnya. Disamping itu, UU No. 5/1992 juga mengandung beberapa kelemahan, seperti masalah kriminalisasi, korporasi bukan sebagai subyek tindak pidana dan belum digunakannya sistem minimum khusus dalam sistem perumusan lamanya pidana. Oleh karena itu, perlu reformulasi terhadap undang-undang tersebut dan adanya upaya sinkronisasi dan harmonisasi oleh raperda tentang benda cagar budaya yang akan dibuat nantinya agar dalam aplikasinya dapat berjalan dengan efektif.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s