Pengolahan Data dalam Novel Karya Sastra Fiksi

Posted: November 27, 2010 in Kumpulan Artikel Unik

Setiap pengarang, pada hakekatnya mengangkat “kehidupannya” ke dalam novel. Franz Kafka (1883-1924), novelis besar Cheko yang jadi kampiun novel-novel psikologis dan filosofis itu, sebenarnya menyibakkan ketakutan-ketakutannya melalui kecemasan tokoh-tokohnya yang terus-menerus didera teror. Sampai dewasa, Kafka tak pernah mendapatkan privasi di rumah orangtuanya. Ia setiap hari merasa tak nyaman, karena ayah-ibunya dapat saja dengan bebas menggeledah surat-surat pribadinya.

Dan setiap pengarang, pada dasarnya melakukan riset untuk bahan novelnya. Leon Uris (1924-2003) menjelajahi literatur tentang abad pertengahan untuk novelnya. John Grisham melakukan studi ulang atas kasus-kasus hukum yang diminatinya, agar dapat dipertanggungjawabkan azas hukumnya ketika dinovelkan. Dan lima tahun terakhir, kita sama melihat kesuksesan riset Dan Brown tentang ikon-ikon Kristianitas, yang dipaketkannya sebagai bacaan laris dalam The Da Vinci Code.

Namun, hasil riset ternyata menghasilkan data yang berbeda pada karya sastra. Di dalam penulisan novel yang berhasil, data diolah jadi “data” oleh para pengarangnya. Budi Darma (1984) menyebut hal ini sebagai persoalan penting dunia prosa, khususnya novel. Berpeluang dituliskan sampai berarus-ratus bahkan ribuan halaman, novel memang lebih kuat bila didukung data riset dari berbagai sumber.

Tapi masalahnya adalah, bagaimana si pengarang mengolah datanya. Apakah data tetap menghampar sebagai data, atau berhasil dieksplorasi sebagai ”data” baru dan segar. Bagi seorang pengarang yang baik — data menyatu sebagai bangunan novel dalam rangkaian teks yang hadir mutlak — karena berhasil ditransformasikan sebagai “data” fiksional.

Sementara, bagi pengarang yang gagal mengatasi data, data jadi kekayaan novel yang identik dengan data yang dapat diakses siapa saja dari sumber yang digunakan si novelis. Misalnya, dari berbagai penelitian tentang gereja abad pertengahan yang banyak digunakan Leon Uris atau Dan Brown. Atau, dari kasus-kasus hukum yang dijadikan kisah oleh Jhon Grisham. Pada mereka, data terbaca utuh sebagai kekayaan sejarah, yang pernah dipinjam sebagai bahan novel.

Ketika dibawa ke dalam novel, data ini saling berlomba dengan plot, atau menjadi tulang punggung novel. Lalu ditempeli penokohan tipologis: jagoan kontra penjahat; baik versus buruk; tampan, cantik, berpenampilan menarik, misterius, dll — berseberangan dengan — tidak tampan, sinis, penampilan membosankan, kaku, kejam, telengas, dll. Didukung jalinan plot: pembukaan, konflik, lalu penutupan — atau dibolak-balik; yang dirangkai dalam suspensi tinggi, agar menimbulkan ketegangan (sekaligus ketertarikan) pembaca.

Karena tujuan si pengarang adalah: menyodorkan kisah menarik, mencekam, dan tentu saja: laku dijual. Novel-novel seperti ini, tak bisa dilepaskan dari pergerakan modal atau industri pendukungnya. Lihatlah penyebaran novel-novel Leon Uris, John Grisham, Dan Brown, yang kemudian bersinergi dengan industri kreatif lainnya: film, periklanan, percetakan dan penerjemahan ke banyak bahasa, hingga publikasi dan distribusi sistematis ke berbagai negara.

Sementara, novel “data” lainnya, meski beberapa mengalami keberuntungan publikasi dan penyebaran lumayan, namun tak pernah “seberhasil” novel-novel Uris, Grisham atau Brown. Misalnya: La Peste-nya Alber Camus (1913-1960), My Name Is Red-nya Orhan Pamuk, dan The Name of The Rose-nya Umberto Eco.

La Peste atau Sampar, karya Albert Camus, adalah novel yang didukung riset tentang epidemi sampar di berbagai negara. Hingga suatu saat, sampar melanda kota bernama Oran. Pembaca pun berkenalan dengan Dr. Rieux, tokoh utama yang berusaha “melawan”. Seorang dokter yang kemudian ditinggal mati istrinya. Setiap kali pulang dari rumah sakit, di rumahnya, si dokter hanya ditemani ibunya yang pendiam.

Novel menyosokkan berbagai tokoh “darah daging” lainnya, di antara data dan wabah sampar. Kita lupa sedang berurusan dengan data, karena “data” fiksionalnya menyatu bersama konflik filosofis, religius, psikologis, sosiologis, bahkan politik para tokoh cerita. Data sampar hanya bahan mentah bagi Camus untuk menyosokkan “data” fiksional, tentang sampar yang sesungguhnya. Yang kemudian menjadi simbolisasi sampar penderitaan — akibat cengkeraman pasukan Nazi yang menduduki Paris, kotanya.

Begitupun Orhan Pamuk dan Umberto Eco. Ketika keduanya menjadikan abad pertengahan sebagai bahan cerita, kita sesungguhnya sedang mengenali manusia-manusia dan kebudayaan abad pertengahan versi Pamuk dan Eco. Pamuk mengurai konflik dan kehidupan para pelukis istana kerajaan Turki abad ke-16, dan Eco menyoroti kehidupan para biarawan di sebuah gereja kuno di pojokan Italia.

Si Hitam My Name Is Red tumbuh sebagai manusia “darah daging” dengan kemelut kejiwaan, nafsu, kejujuran, dan kerapuhannya — berhadapan dengan peristiwa pembunuhan yang menimpa para pelukis istana. Sambil lalu, Pamuk juga menggambarkan kehidupan kaum sufi, yang pada masa itu kontroversial karena berbeda dengan kehidupan masyarakat umum.

Dan William dari Baskerville The Name of The Rose, adalah manusia “darah daging”, yang mengagungkan ilmu pengetahuan alam — berhadapan dengan misteri kematian para biarawan yang harus diselidikinya. Di samping membawa pembaca ke dalam berbagai peristiwa mencekam di dalam novel, plot pun menimbulkan pencerahan filosofis tentang ilmu pengetahuan, filsafat, agama, dan takhyul, yang menjadi acuan hidup individu dan masyarakat.

Dalam kedua novel ini, data sejarah bertransformasi menjadi “data” fiksional. Hingga novel menjadi kaya dan inspiratif.


Share

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s