Arsip untuk November, 2010

Sukma

Posted: November 30, 2010 in Gien Aquilan

Aku masih dalam peluh
Mencoba menatap luas hamparan harap
Saat langit-langit hatiku mulai luruh
Dalam keadaan sepi, sendu, kelam

Aku masih berdiri dan menunggu
Dan untuk saat ini aku tak hanya menunggu
Tapi juga mencoba mengosongkan hati
Dan menutupnya erat

Aku tetap termenung dalam lamunan
Dalam kesunyian yang tak berdasar
Terperangkap dalam Kekosongan

Aku akan terus disini
Hingga aku dapat memejamkan mata tanpa mengingatmu
Tanpa ada kamu
Dan masih tanpa kamu


Share

Namaku …… ah g penting juga buat tau namaku, ntar kalau tau namaku malah pembaca minta kenalan, habis itu pembaca minta no hp, habis itu pembaca minta aku jadi co nya. La kalau yang minta itu cewek sih enggak masalah, tapi kalau yang minta mas-mas kan aneh. Emanknya gue cowok apaan, hehehhehe.

Mulai sekarang panggil aja aku mister kucluk. Seseorang dengan intelejensi pas-pas an.pinter ngomong, ngegombal, bahkan perawan tua yang janji g akan nikah dalam hidupnya bisa digombalin. Seseorang dengan tingkat ketampanan dibawah rata-rata. Namun punya tingkat kepopuleran diatas angin, wakwkakwak.

Untuk perkenalanya itu dulu ya, lebih baik mulai baca deh tingkah polah mister kucluk dalam blog ini, gue jamin lo ketawa. Kalau ada yang g ketawa, boleh kasih alamat rumahnya ma no telp (buat yang cewek). Buat yang cowok, minta belas kasihnya supaya ketawa aja. Masak dah dibuatin cerita susah-susah kok g pada ketawa.


Share

Kupu-kupu Kecil

Posted: November 30, 2010 in Puisi

Debu menyentuh kulit kelam tubuhnya
Membuatnya nampak semakin kumuh
Entah apa yang ada dibenaknya saat itu
Kulihat ia dengan kedua kaki kecilnya
Melangkah ketengah jalan beraspal

Di depan sebuah jendela mobil ia menengadahkan tangan
Poni tipisnya lusuh menutup i keningnya yang juga lusuh
Tak tega juga seorang paruh baya dari dalam mobil itu
Memberinya selembar uang merah, ya sepuluh ribu diberi oleh ibu itu

Seteguk air dari botol kotor itu diteguknya
Ia lalu duduk di atas trotoar dipinggir jalan
Matanya berbinar melihat bising mesin beroda lewat dihadapanya

Kupu-kupu kecilku jangan pernah engkau meragu
Merengkuh cita-citamu walau dari jalanan
Katakan pada mereka kau akan bisa melintasi waktu
Jangan menyerah pada debu dan terik yang menyengat kulitmu
Aku kan slalu menjagamu dari kerapuhan

Wahai kupu-kupu kecilku berlarilah dan jangan berhenti
Tuk engkau menggapai mentari
Walau engkau terjatuh dalam hidupmu
Berdirilah dan terus berlari
Mengejar semua mimpimu
Tuk memberi sedikit keindahanmu kepada dunia


Share

Engkau

Posted: November 30, 2010 in Puisi

Izinkan aku tuk sejenak kembali ke waktu itu
Menemanimui dengan sepeda tuamu
Berjalan di jalan tanah yang becek itu

Izinkanlah aku menyimpan senyummu dulu
Saat kita mulai terbawa dalam rangkaian kata
Saat kita mulai bercanda dan tenggelam dalam nuansa jiwa

Mengapakah engkau harus pergi
Meninggalkan hati seorang pecinta
Yang selalu rapuh akan dunia

Mengapakah engkau harus pergi
Meninggalkan sejuta kerinduan dalam diri ini
Menyisakan rasa yang tak pernah bisa aku musnahkan

Termenung aku dalam kesendirianku
Saat aku mulai mengingat dirimu
Dengan senyum kecil yang kusimpan dalam hati


Share

Kisah Cinta dari China

Posted: November 30, 2010 in Kumpulan Artikel Cinta

Satu kisah cinta baru-baru ini keluar dari China dan langsung menyentuh
seisi dunia. Kisah ini adalah kisah seorang laki-laki dan seorang wanita
yang lebih tua, yang melarikan diri untuk hidup bersama dan saling mengasihi
dalam kedamaian selama setengah abad.

Laki-laki China berusia 70 tahun yang telah memahat 6000 anak tangga dengan
tangannya (hand carved) untuk isterinya yang berusia 80 tahun itu meninggal
dunia di dalam goa yang selama 50 tahun terakhir menjadi tempat
tinggalnya.50 tahun yang lalu, Liu Guojiang, pemuda 19 tahun, jatuh cinta
pada seorang janda 29 tahun bernama Xu Chaoqin ……

Seperti pada kisah Romeo dan Juliet karangan Shakespeare, teman-teman dan
kerabat mereka mencela hubungan mereka karena perbedaan usia di antara
mereka dan kenyataan bahwa Xu sudah punya beberapa anak….

Pada waktu itu tidak bisa diterima dan dianggap tidak bermoral bila seorang
pemuda mencintai wanita yang lebih tua…..Untuk menghindari gossip murahaan
dan celaan dari lingkungannya, pasangan ini memutuskan untuk melarikan diri
dan tinggal di sebuah goa di Desa Jiangjin, di sebelah selatan Chong Qing.

Pada mulanya kehidupan mereka sangat menyedihkan karena tidak punya apa-apa,
tidak ada listrik atau pun makanan. Mereka harus makan rumput-rumputan dan
akar-akaran yang mereka temukan di gunung itu. Dan Liu membuat sebuah lampu
minyak tanah untuk menerangi hidup mereka. Xu selalu merasa bahwa ia telah
mengikat Liu dan is berulang-kali bertanya,’Apakah kau menyesal?’ Liu selalu
menjawab, ‘Selama kita rajin, kehidupan ini akan menjadi lebih baik’.
Setelah 2 tahun mereka tinggal di gunung itu, Liu mulai memahat anak-anak
tangga agar isterimya dapat turun gunung dengan mudah. Dan ini berlangsung
terus selama 50 tahun.
Setengah abad kemudian, di tahun 2001, sekelompok pengembara (adventurers)
melakukan explorasi ke hutan itu. Mereka terheran-heran menemukan pasangan
usia lanjut itu dan juga 6000 anak tangga yang telah dibuat Liu. Liu Ming
Sheng, satu dari 7 orang anak mereka mengatakan, ‘Orang tuaku sangat saling
mengasihi, mereka hidup menyendiri selama lebih dari 50 tahun dan tak pernah
berpisah sehari pun. Selama itu ayah telah memahat 6000 anak tangga itu
untuk menyukakan hati ibuku, walau pun ia tidak terlalu sering turun gunung.

Pasangan ini hidup dalam damai selama lebih dari 50 tahun. Suatu hari Liu
yang sudah berusia 72 tahun pingsan ketika pulang dari ladangnya. Xu duduk
dan berdoa bersama suaminya sampai Liu akhirnya meninggal dalam pelukannya.
Karena sangat mencintai isterinya, genggaman Liu sangat sukar dilepaskan
dari tangan Xu, isterinya.

‘Kau telah berjanji akan memeliharakanku dan akan terus bersamaku sampai
akan meninggal, sekarang kau telah mendahuluikun, bagaimana akan dapat hidup
tanpamu?’ Selama beberapa hari Xu terus-menerus mengulangi kalimat ini
sambil meraba peti jenasah suaminya dan dengan air mata yang membasahi
pipinya.
Pada tahun 2006 kisah ini menjadi salah satu dari 10 kisah cinta yang
terkenal di China, yang dikumpulkan oleh majalah Chinese Women Weekly.

Pemerintah telah memutuskan untuk melestarikan ‘anak tangga cinta’ itu, dan
tempat kediaman mereka telah dijadikan musium agar kisah cinta ini dapat
hidup terus.


Share

Bibit Mangga

Posted: November 30, 2010 in Kumpulan Cerita

Suatu hari, Ada seorang pemuda sedang berlibur ke rumah neneknya di desa. Saat tiba di sana,
setelah melepas rindu dan beristirahat sejenak, neneknya menghidangkan sepiring irisan buah
mangga yang menggiurkan warna dan aromanya.

“Wah, mangganya harum dan manis sekali nek, sedang musim ya. Saya sudah lama sekali tidak
menjenguk nenek, sehingga tidak tahu kalau nenek menanam pohon mangga yang berbuah lebat dan
seenak ini rasanya” ujar si pemuda sambil terus melahap mangga itu.

dengan tersenyum nenek menjawab, “makanya, sering-sering lah menjenguk nenek, nenek rindu cucu
nenek yang nakal dulu. Pohon mangga itu sebenarnya bukan nenek yang menanam. Kamu mungkin lupa,
waktu kecil dulu, setelah menyantap buah mangga, kamulah yang bermain melempar-lempar biji mangga
yang telah kamu makan. Nah, ini hasil kenakalanmu itu, telah bertumbuh menjadi pohon mangga dan
sekarang sedang kau nikmati buahnya”

“Sungguh nek? Buah mangga ini hasil kenakalan waktu kecilku dulu yang tidak disengaja? Wah,
hebat sekali. Aku tidak merasa pernah menanam, tetapi hasilnya tetap bisa aku nikmati setelah
sekian tahun kemudian, benar-benar sulit dipercaya” si pemuda tertawa gembira sambil menyantap
dengan nikmat mangga dihadapannya.

Nenek melanjutkan berkata, “Cucuku, walaupun engkau tidak sengaja melempar biji mangga di
halaman itu, tetapi bila tanah lahannya subur dan terpelihara, dia tetap akan bertumbuh. Dan
sesuai hukum alam, saat musim buah tiba, dia pasti akan berbuah. Sedangkan rasa buahnya manis
atau tidak adalah sesuai dengan bibit yang kita tanam”.

Malam hari, si pemuda merenungkan percakapan dengan neneknya. Karena merasa penasaran,
diambilnya biji buah mangga sisa di meja dan dibelahnya menjadi 2, dia ingin tahu sebenarnya apa
yang ada di dalam biji buah mangga itu sehingga bisa menghasilkan rasa manis yang membedakan
dengan biji buah mangga yang lain. Ternyata dia tidak menemukan perbedaan apapun. Melihat tingkah
si cucu.

sang nenek menyela “Cucuku, semua biji buah, tampaknya dari luar sama semua. Tetapi
sesungguhnya, unsur yang ada di setiap biji buah itu berbeda, perbedaan itulah yang akan
menghasilkan rasa, aroma dan warna setiap pohon mangga berbeda pula. Semuanya tergantung inti
buahnya. Cucuku, Demikian pula dengan manusia, tampak luar, setiap manusia adalah sama tetapi
yang menentukan dia bisa berhasil atau tidak adalah kualitas unsur-unsur yang ada di dalamnya.
Nah, ternyata alam mengajarkan banyak kepada kita. Bila ingin hasil yang baik, harus memiliki
unsur kualitas yang baik pula, apakah kamu mengerti?”. “Terima kasih nek, saya sungguh bersyukur
memutuskan datang kesini, semua ucapan nenek akan saya jadikan bekal untuk lebih giat belajar dan
membenahi diri agar hidup saya lebih berkualitas”. Ucapnya sambil memeluk tubuh rapuh sang nenek.

Pembaca yang luar biasa…
Hukum alam pada kisah nenek dan cucuknya tadi mengajarkan pada kita 2 hal.
1. Apa yang telah kita tabur, entah disengaja atau tidak, diingat atau dilupakan, entah kapanpun
juga. Hukum alam mengajarkan, apa yang kita tanam kita pasti akan menuai hasilnya.
2. Bahwa manusia mempunyai kemiripan dengan inti biji buah mangga, tampak luar sama, tetapi
kualitas unsur yang ada di dalam inti buahnya yang membedakan rasa, aroma dan warna si buah
mangga. Demikian juga dengan manusia, Kualitas mental yang didalamlah yang membedakan dan
menentukan keberhasilan manusia di masa depan.

Mari kita perbaiki sikap, perhalus budi pekerti, jaga kebersihan hati dan selalu menggali
potensi diri agar kesuksesan sejati bisa kita nikmati suatu hari nanti.


Share

POPPIES DOG ANTHEM

Posted: November 30, 2010 in Liric & Music SID

Hari ini bangun pagi, pusing yang tak tertahankan
dan cepat baca korannya dan jangan terbalik
Jhony kena, rudy juga ada dihalaman depan
Segera kontak temanmu..
untuk lebih waspada

Burung berkicau ada yang menghindari..
atur strategi agar bisa berlari..
Janganlah risau mainkanlah dadumu..
dan teriakkan..

Penuh gaya, kacamata, bandit cinta kesepian,,
siapa brani mendekat ‘kan pasti disikat..
Jelink sudah, nona juga habis dihotel belakang..
dan cinta ‘kan berakhir di (pada lingkaran..)

Kucing mendekat manis siapa namanya..
atur strategi agar dia menjerit..
Janganlah risau mainkanlah dagumu..
dan teriakkan..

B’randal,, b’randal,, poppies dua..
B’randal.. b’randal yang tak pernah mati…
B’randal,, b’randal,, poppies dua..
Bukan berandalan sakit hati.

Penuh gaya, kacamata, bandit cinta kesepian,,
siapa brani mendekat ‘kan pasti disikat..
Jeny sudah, mona juga habis dihotel belakang..
dan cinta kan berakhir di (bandar udara..)

Kucing mendekat manis siapa namanya..
atur strategi agar dia menjerit..
Janganlah risau mainkanlah kartumu..
dan teriakkan..
dan teriakkan..
selalu teriakkan..!!

B’randal,, b’randal,, poppies dua..
B’randal.. b’randal yang tak pernah mati…
B’randal,, b’randal,, poppies dua..
Bukan berandalan sakit hati..


Share

LUKA INDONESIA

Posted: November 30, 2010 in Liric & Music SID

Satu nusa.. satu bangsa,,
Satu nusa,, saling mangsa,,
Satu nusa.. satu bangsa,,
Cukup sudah,, saling mangsa,,

Satu nusa.. satu bangsa,,
Jangan pernah menyerah..
Satu nusa.. satu bangsa,,
Jangan pernah menyerah..
Cukup sudah,, saling memangsa,,

Yang kudengar, yang kulihat,,
darah hitam mengalir deras..
S’mua tahu.. hancur wajahmu..
tak kubiarkan,, terus menghajarmu..

Tak ‘kan ada yang sempurna
lebih dari yang kubayangkan..
Semampunya kita bayangkan..
tanah ini b’nar merdeka..

Mungkinkah.. Satu nusa dan satu s’lamanya.
Mungkinkah.. Tawa luka ini milik semuanya.
Dengarkanlah nafas merdeka untuk s’lamanya.

Tanah ini, tangan ini.. Kucengkram erat bumi pertiwi.
Raih langit terbang lepas, Mengejar mimpi merah putihku..

Dimanapun kau berada hatiku ku akan tetap disini..
Tiada dendam hari esok,,Tiada luka hari ini..
Nafas ini tak pernah lepas, untuk menjaga tanah airku..

Satu nusa satu bangsa
satu bangsa ‘tuk slamanya..
bertahanlah bertahan jangan pernah menyerah..
dan mimpi merah putihku
terpendam saat ku mati
bertahanlah bertahan jangan pernah menyerah..!!!


Share

TV BRAIN

Posted: November 30, 2010 in Liric & Music SID


TV BRAIN

They never know, How much I like the colour black
They never know, How much I spent for the drinking

But now I’m sure they sell the pain, Just for the game
Unless you fool me in the way, Of this goddamn world

I will walk again, I will speak in vain
When there’s nothing standing
Against my revenge

Good enough to blame, When everyone’s insane
So I can sneak
In the back on your mind

Constitution fall I reach up the sky, I follow the lust
End up like a winner
Television brain inside

Go away….
The television brain
I’ll walk away….
Just one step closer to the
Castaway….
I’ve watched the TV so now
I feel blind….
The news is on I just

I feel numb inside me, I feel hate just around me
God I do not want this thing
I could never change

They never know, How much I like my favorite bands
But magazine they just turn
Everything so bad

It’s time for me to watch, You guys get fucking burn
We’re gonna blow your mind
Just like the atom bomb!

I’ll get up again, I will kick in shout
And there’s nothing standing
Against my revenge

It’s easy to blame, When everyone’s insane
I sneak into the back
Of your mind


Share

BUKAN PAHLAWAN

Posted: November 30, 2010 in Liric & Music SID

Di sudut kota ini melangkah sepi
Dihantui mimpi abadi
Tangis dan air mata di pinggir jalan
Kapankah ini akan berakhir
Pemabuk diperlukan pelacur jalanan
Bermahkotakan duri tajam
Tutup matamu kawan besarkan hati
Surga dan neraka menanti

Aku bukan pahlawan berparas tampan
Sayap-sayap pupus terbakar
Salah benar semua pernah pernah kulakukan
Angkat gelas kita bersulang

Pertarungan abadi setan malaikat
Luluh lantak darah mewangi
Berhamburan sejuta nafas ke langit
Dunia berhenti tertawa

Angkat gelas kita bersulang
Walau kalah jangan menyerah
Angkat gelas kita bersulang


Share